Sunday, September 14, 2014

VadisReview: Rahasia Hujan - Adham T. Fusama





VadisReview by Andry Chang

Rahasia Hujan
Penulis: Adham T. Fusama
Genre: Novel Teenlit-Thriller
Penerbit: Moka Media (www.mokamedia.net), 2014

Format: Paperback, 272 halaman, 12,7 x 19 cm
Penyunting: J. Fisca
Penata Letak: Indarto Widhi Putranto & J. Fisca
Pendesain Sampul: Fahmi Fauzi
ISBN: 979-795-857-4

Sinopsis:
Sekolah Pandu kedatangan murid baru dari Jepang, seorang anak pendiam yang misterius. Sebagai teman sebangku, Pandu merasa harus bersikap ramah, meski Anggi—si murid baru—terus bersikap dingin.

Pada akhirnya, kebaikan hati Pandu membuat Anggi jatuh cinta. Tapi Pandu sudah punya pacar—seorang gadis cantik bernama Nadine. Ketika rasa sayang Anggi berubah menjadi obsesi berbahaya, Pandu dan teman-temannya terseret ke dalam sebuah permainan mengerikan.

Dan, Pandu harus bertaruh nyawa demi kebebasannya.

"Sebab demi bersamamu, akan kulakukan segalanya…."

***

“Meski menggunakan bahasa yang ringan khas remaja, kegelisahan dan ketegangan di novel ini dibangun dengan elegan hingga mencapai klimaksnya. Novel yang cocok bagi penggemar cerita remaja dan suspense-thriller.”
—Muhamad Rivai (@rivaimuhamad), penulis antologi Setelah Gelap Datang dan salah satu penulis antologi Cerita Horor Kota.

“Jalinan kisahnya di luar dugaan! Apa yang semula manis berubah mencekam lewat klimaksnya yang dibangun secara perlahan namun matang.”
—Paulus Lulut Yunar Ladiarsa(@Loe2Tea), Deputy Editor Cinemags Magazine.

“Jangan baca di malam hari apalagi saat sendirian. Dan, berhati-hatilah dengan temanmu sendiri!”
—Langit Amaravati(@LangitAmaravati), Cyberpsycholog & Selected Writer Ubud Writers and Readers 2013.

Rahasia si Penghenti Hujan
Entah kapan dan di mana, saya pernah membaca bahwa psikopat adalah orang yang melakukan dosa atau kesalahan, namun sama sekali tak merasa berdosa atau bersalah. Di tingkat paling ekstrim, dosa yang ia lakukan itu bisa jadi pembunuhan, bahkan pembantaian sadis dan berantai. Suara nurani bahkan tak ia pedulikan lagi. Dan semua itu dilakukan dengan entengnya seolah-olah sedang berjalan-jalan di taman. 

Bedakan dengan fanatisme ekstrim, yang menghalalkan segala cara demi meraih “kebenaran tertinggi”. Salah satu pemicu perilaku psikopat ini adalah obsesi yang berlebihan, sedangkan akar penyebab semua itu cukup beragam. 

Dalam novel thriller “Rahasia Hujan” ini, Adham T. Fusama sebagai penulis menunjukkan salah satu contoh perilaku psikopat yang cukup realistis, bahkan cenderung “umum”. Di permukaan, si psikopat tampak amat normal dan cenderung “cool”. Baik pembaca maupun para tokoh lain dalam kisah ini, termasuk Pandu, si tokoh utama dibuat sama sekali tak menduga, tak rela dan tak percaya bahwa tokoh Anggi, siswi pindahan dari Jepang itu psikopat. Padahal, sejak melihat cover depan di awal dan membaca sinopsis di cover belakang, pembaca sudah menduga ada yang “tak beres” dengan Anggi. 

Saat plot digali lebih dalam, bab demi bab, sedikit demi sedikit mulai terkuak misteri di balik tokoh Anggi, si “gadis biasa” itu. Lambat tapi pasti, sisi-sisi positif diperkenalkan, yaitu “gadis cantik yang cerdas” – “banyak bakat kecuali olahraga” sampai “memiliki gaya hidup impian tiap remaja”. Namun, juga ada sisi-sisi negatif yang agak “menjurus”, yaitu kegemaran Anggi menggambar, menonton film horor dan thriller. Mungkin jelas salah satu tokoh yang paling ia sukai adalah salah satu psikopat juara sepanjang zaman, yaitu Hannibal Lecter dari film “Silence of the Lambs”. 

Pertama kali saya lihat teru-teru bozu, dikenalkan bro Ikkyu San.

Iseng tebak-tebak buah manggis, mungkin ide awal Adham muncul saat mengamati sosok boneka teru-teru bozu, boneka takhayul dari Jepang yang selalu digantung di bagian “leher”-nya (en.wikipedia.org/wiki/Teru_teru_bozu). Setelah bertanya-tanya mengapa demikian dan melakukan survei secukupnya, muncullah ide untuk mengkombinasikannya dengan nuansa thriller. Sebenarnya, cukup mengekspos teru-teru bozu saja semua pembaca sudah cukup dibuat penasaran seberapa jauh tindakan psikopatik Anggi nantinya. Mungkin juga “petunjuk-petunjuk menjurus psikopat” lain sengaja ditambahkan untuk memancing kecurigaan salah seorang tokoh, yaitu Mamet, yang salah memahami perilaku psikopat sebagai sesuatu yang tampak jelas dari luar. 

Dari plot yang nampaknya biasa-biasa saja, seperti teenlit atau sinetron percintaan remaja, secara bertahap, setingkat demi setingkat plot menanjak menjadi prankster (mengerjai orang) hingga mencapai klimaksnya, yaitu thriller, “permainan mengerikan” yang amat mengejutkan, mendadak dan menghentak. Mungkin sebagian pembaca merasa kurang nyaman dengan penguraian bertahap yang terkesan lamban. Beberapa interaksi dalam tiap bab terkesan “numpang lewat”, padahal memuat fakta penting tentang hubungan setiap tokohnya. Juga berhubungan erat dengan apakah itu akan memicu tindakan psikopatik atau tidak, semacam tarik-ulur saat memancing ikan.

Yang jelas, saya sendiri merasa Adham sebagai penulis menggunakan semacam teknik untuk “menyihir” pembaca, menguji kesabaran mereka yang mencari thriller dalam sisipan teenlit padahal itu adalah klimaks, lalu ditutup dengan beberapa bab kesimpulan untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan perubahan yang terjadi akibat thriller itu. 

Tentunya rangakaian “teka-teki” semacam Kotak Pandora atau Rubik itu perlu pula disimak. Para protagonis jelas telah melakukan usaha untuk mencegah “thriller” terjadi, namun si antagonis yang rupanya telah mempersiapkan segalanya dengan matang keburu bertindak. “Kengerian” terjadilah, jadi tinggal satu hal yang bisa dilakukan Pandu, si protagonis utama, yaitu “bertaruh nyawa demi kebabasannya,” dan perlu saya tambahkan, dengan cara menghentikan si antagonis. Caranya secara rinci? Silakan anda ungkap sendiri dengan membeli dan membaca novel ini. 

Dari segi karakter, pendalaman karakter Anggi, pengembangan karakter Pandu dan perubahan cukup dramatis pada diri karakter Mamet dan banyak lainnya akibat “Rahasia Hujan” ini patut disimak. Namun, saya sendiri juga berhasil dibuat berpikir, apa harus, apa perlu ada kejadian ekstrim dan orang-orang yang berperilaku ekstrim supaya terjadi perubahan yang signifikan dalam masyarakat? Kenyataannya, kesadaran masyarakat umumnya tak timbul dengan sendirinya. Bahkan, walau terjadi satu-dua kejadian ekstrim, begitu “gaung”-nya menghilang, masyarakat kembali lupa dan berbalik lagi melakuan kesalahan-kesalahan lama yang sama. 

Pendalaman agama dan pemberian kasih sayang yang disajikan sebagai sesuatu yang menyenangkan, menarik dan menggairahkan secara berkesinambungan bisa jadi solusi untuk membawa perubahan positif dalam budaya masyarakat, dan harap saja, jadi vaksin yang mencegah pola pikir psikopat. 

Kesimpulannya, salut untuk Adham yang cukup berhasil “menyihir” pembaca lewat karya thriller berselubung teenlit ini. Sedikit saran, mungkin plotnya bisa “diperhalus” dengan menghilangkan atau mengganti petunjuk-petunjuk yang terlalu “menjurus”. Contohnya, mengganti gambar-gambar seram dengan gambar orang, benda atau tempat yang melulu diguyur hujan. Juga, untuk “mengelabui” calon pembeli, diberikan kontradiksi antara desain cover teru-teru bozu di tengah hujan yang digantung di atas pohon, tanpa efek darah, warna cover cerah atau bernuansa biru dengan tetap mencantumkan “Sebuah Novel Thriller” di atasnya. 


Akhir kata, melengkapi nuansa takhayul Jepang di novel bersetting Indonesia ini, biarkanlah saya menembang,

Teru-teru bozu, teru bozu
Buatlah esok hari yang cerah
Seperti langit di mimpi
Jika besok cerah, aku akan memberikan bel emas

Tapi bila tidak, biarlah kau terus tergantung di sana, menurunkan hujan darah. 

***

Keterangan lebih lanjut tentang novel ini serta review-review lainnya dapat disimak di link Goodreads.com ini: http://www.goodreads.com/book/show/22715934-rahasia-hujan

No comments:

Post a Comment

Popular Posts