Showing posts with label book review. Show all posts
Showing posts with label book review. Show all posts

Monday, October 03, 2016

THE REAL SI DOEL - Review: Rano Karno: Si Doel

Rano Karno: Si Doel Rano Karno: Si Doel by Gol A. Gong
My rating: 3 of 5 stars

THE REAL SI DOEL

Saya beli dan baca "Rano Karno: Si Doel" di acara launching buku tersebut di Indonesian International Book Festival, 2 Okt 2016 di JCC Jakarta.

Diberi kesempatan dalam sesi tanya-jawab, saya bertanya ke Bang Rano Karno, siapa selain orangtua abang yg amat kuat menginspirasi abang? Jawabnya, salah satunya Si Doel di buku Si Doel Anak Jakarta, yang beliau baca waktu masih kecil. Si Doel Anak Jakarta

Si Doel ikut menginspirasi setiap langkah beliau dari anak bawang di "Gang Tai" hingga menemukan bakat seni yang dikembangkannya, menjadi "Si Doel yang nyata" hingga menjadi salah seorang aktor terbaik di Indonesia, bahkan kini menjadi Gubernur Banten.

Rano Karno, Bapak Gubernur Banten di acara Launching "Si Doel" 2 Oktober 2016

Saya jadi teringat Toyotomi Hideyoshi, yang lebih dari 10 tahun terakhir ini menginspirasi saya untuk mengembangkan bakat yang saya semula pikir tidak dan tidak akan pernah saya miliki. Mungkin saat ini saya belum berprestasi setinggi Bang Rano, namun saya percaya suatu hari saya pasti bisa meraih bintang-bintang saya sendiri. Terima kasih untuk inspirasi yang abang berikan pada saya lewat buku abang ini. Juga terima kasih pada dukungan Bang Gol A. Gong, tentunya.

Yah, untuk para pembaca lain, bila kalian mencari cerita2 dengan narasi yang runut, autobigrafi ini lebih banyak mengutarakan pemikiran penulisnya, kisah hidup beliau secara singkat-jelas-padat dan pendapat beliau mengenai berbagai hal yang harus saya akui, cukup "out-of-the-box". Inilah ciri-ciri seorang visioner, tak peduli apa kata orang. Jadi, bila kalian mencari sumber inspirasi tentang bagaimana cara berpikir seorang seniman yang penuh improvisasi dapat membawa perubahan berarti dan prestasi, buku ini layak disimak kata-demi-katanya.

Hingga ke saya berdiri untuk itu. Di sana.

View all my reviews

Goodreads Link: https://www.goodreads.com/book/show/32304214-rano-karno

Wednesday, January 09, 2013

A Wayfarer in Pagford




A Wayfarer in Pagford
A review by Andry Chang for

The Casual Vacancy
The novel by J. K. Rowling

The Wayfarer arrived at Pagford Square

I can’t believe myself. Me, the Wayfarer, traveler of worlds of fantasy got myself in Pagford, a small town not too far from London.
Getting off the inter-city bus with my backpack on, I walked towards Pagford Square. As I set foot on the pavement there, I felt envigored by the fresh air that caressed my lungs. I looked around.
“There it is,” I muttered, walking towards a building just ahead.
Instead of an inn, I went into a café and sat in a corner. My legs were killing me.
I glanced around and talked aloud, “Oi, waiter?” But no one came.
The three guests sitting on the bar and tables looked adamant – they were just busy with themselves, reading a book, sipping coffee and talked with each other.
Just then, a girl came half-running towards my table. She was dark-skinned and about sixteen, wearing a white dress and an apron.
“Ah, I’m so sorry, sir. Just got busy out back with my boss giving me tasks,” said the waitress. “We’re kind of short-handed right now. Well, what would you like, sir?”
Wearily yet patiently, I said, “One hot Hazelnut Latte and a slice of your Homemade Bacon Sandwich.”
“Right away, sir!” The waitress dashed towards the counter.
It took her long to finally presenting me with my orders. Yet, I thanked her and began to dig into my meal.
“Err… you’re not from around here, are you sir?” said the waitress almost abruptly, with a frown.
I finished chewing with a ready answer, “Well, that’s obvious, from my backpack, my accent, my looks and all.” Elementary, Watson.
“And not from England either.”
I nodded.
“Mind if I sit here?”
“No problem.”
She sat and extended a hand. “I’m Sukhvinder. What’s your name?”
“Just call me Andy,” I said. “Mind if I call you ‘Suvi’?”
“Sounds nice, yeah.” Suvi smiled. “Where are you from?”
“My hometown is Jakarta.”
“Jakarta like, the capital of Indonesia?”
“Right you are.”
Sukhvinder’s eyes and nostrils widened with interest. “So, tell me, what brought you from Jakarta all the way here, to Pagford? Let me guess, is it because of Joanne’s book?”
The straightforward question deserved a straight answer. “Partly, yes.”
“I knew it,” said Suvi with a frown. “And the other part might be…”
“To meet and talk with a Pagford citizen in that story. You, for one.” I pointed at her with my chin.
“Me? I…” The young girl seemed distraught all of a sudden. “If it’s about the Casual Vacancy incident, everything I want to say to you are written in Joanne’s book. No less, no more.”
“Haha, that’s okay, you don’t have to recite the whole story.” I soothed her frown with a smile. “Just a casual meet-and-greet. I’ve already got everything I need from the book.”
“Well, now that you meet one of us here, I want you to know what you’ve got from Joanne’s book.”
I looked straight at Suvi’s eyes. “Firstly, I want to say this. ‘God is in everyone’s soul, yet society tends to seek the devil within’.”
“And what else?”
“And… when ‘politics’ come in the picture, all hell breaks loose.”
Sukhvinder fell silent. Something in my words must’ve triggered something inside her. My guess is it was an unpleasant, painful, if not traumatizing memory. The memory of friends came and gone. Of trust gained and lost, and even lives lost.
Of innocent, everyday people turned into “monsters” when their secrets were unraveled by The_Ghost_of_Barry_Fairbrother. Who was to blame? The so-called “ghost”? The Casual Vacancy of political power? In a small, almost rural town of Pagford?


From Pagford with love

“True,” said Sukhvinder, her tone turned more serious. “The past incident have brought the worst from some people and the best from some other. But then, who’s the real culprit and the real hero here? All we can see are the victims and… the people who pulled the trigger…”

Saturday, November 10, 2012

Trilogi Mawar Merah - Zen Review

sumber: http://youtu.be/0_9l3ph3qMk Zen Review untuk Mawar Merah karya Luna Torashyngu

Aku Mati Memeluk Boneka - Zen Review

sumber: http://youtu.be/srujtDCDsO0 Zen Review untuk Novel Misteri Aku Mati Memeluk Boneka (Novel Misteri)

Saturday, March 17, 2012

No Money, No Honey!



HONEY MONEY

Penulis: Debbie

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit: April 2010 (cetakan pertama).

Jumlah halaman: 248

ISBN13: 9789792257090

URL: http://gramedia.com/buku_detail.asp?id=KDWL1241&jenis=3&kat=#

Genre: Fiksi, Drama, Romance, Teenlit (Drama Remaja)

Desain dan ilustrasi sampul: yustisea_satyalim

Ilustrasi dalam: Sandra Puspita Kusuma


Sinopsis:

"Gue mau cari cowok tajir!"

Bosan pacaran bertahun-tahun dengan cowok yang sederhana (baca: gak punya mobil), Dee bertekad untuk mencari cowok kaya. Rasanya mimpi jadi kenyataan saat ia berjumpa dengan Rendy. Wuihh, dia Edward Cullen versi Jakarta! Tinggi, keren, romantis, dan pastinya tajir dong! Dunia terasa berwarna-warni saat Dee bersama Rendy, secerah bunga matahari dan jutaan balon gas yang menerbangkannya seperti rumah di film UP!. Segalanya sempurna---sampai meninggalnya ibu tiri Rendy menguak kebenaran. Semua angan dan cinta yang telah dibangun terasa palsu.

Apakah lebih baik Dee belajar menyayangi Stefan, tetangga sekaligus sahabatnya sejak kecil? Bagaimana dengan rahasia besar keluarga Dee yang tersingkap tiga minggu sebelum ulang tahun ketujuh belasnya?


No Money, No Honey!
Review oleh Andry Chang

No money, no woman

No woman, no cry

No money, no cry, melainkan no dong…

Sebagai cowok, terus terang saya bukan termasuk penikmat utama novel chicklit. Seorang teman baik menyarankan cerita ini untuk saya baca dan perhatikan. Semula saya agak enggan, skeptis dan beralasan, "Ah, paling-paling tak beda dengan sinetron TV." Apalagi temanya, tentang seorang cewek yang naksir cowok karena keren dan tajir. Bukankah itu biasa dan alami untuk cewek2 bergaya hidup "gaul" hari gini? Gak hanya cewek, bahkan cowokpun ada kecenderungan untuk matre.

Di awal-awal cerita, plot berkutat seputar rayu-merayu, bertukar kata-kata romantis nan indah, gue-naksir-ini-itu, curhat sana-sini dan pilih-pilih cowok seperti pilih-pilih baju di kapstok butik mal. Oke, terus terang kalau mau menyebut selera, saya seperti makan ubi, makanan yang saya gak suka dan porsinya lumayan banyak. Yah, maklumlah pria punya selera.

Namun, setelah saya coba simak sampai bab-bab akhir, ada satu hal yang menarik, yang membuat saya bertanya-tanya dan penasaran. Bagaimana jika seorang cowok tajir kehilangan ketajirannya? Akankah si cewek tetap cinta pada cowok itu?

Jawaban yang saya temukan ternyata adalah pesan yang tersirat yang ingin disampaikan oleh teman saya itu. Gak semua cewek cantik itu matre, atau selamanya matre. Contohnya Dee. Dia menganut "matre-isme" mungkin karena gaya hidup dan keinginan untuk have fun sebagai anak SMA. Namun pengalaman hidup mengajarkan padanya bahwa cinta yang mengutamakan kekuatan finansial bukanlah cinta sejati.

Seorang cewek matre yang "bertobat" mungkin adalah kabar keberuntungan bagi pasangannya. Namun wahai kaum Adam, jangan lantas terlena. Masih ada kekuatan yang wajib ada dalam diri makhluk cowok yaitu tanggung jawab, daya juang dan kemampuan untuk jadi mapan – cukup untuk membina keluarga di zaman serba modern dan serba mahal ini. Dan wanita, seperti yang saya kutip dari "Men From Mars, Women From Venus" menuntut perhatian dan kasih sayang seperti tumbuhan butuh air. Berjuanglah, wahai kaumku!


Yang Penting Ceritanya, Bung!

Oke, kembali pada plot. Ada sedikit hal yang mengganjal saya dalam mencerna hikmah “Honey Money” ini. Harus diakui, adanya “rahasia besar keluarga Dee” menambah nilai dramatisasi cerita. Bahkan cerita Mama Dee di awal Bab 15, halaman 228 bisa jadi sesuatu yang inspiratif, memotivasi pria untuk tetap ulet, berinovasi dan terus berjuang.

Namun, hal itu malah membuat logika saya terusik. Oke, taruhlah itu yang terjadi dalam cerita ini. Bagus untuk mereka, ada insan yang beruntung bertemu orang yang akhirnya memahami cinta sejati. Pas buat menghibur pembaca karena toh ini novel teenlit. Sebaliknya, bilamana ingin digali lebih dalam sebagai bahan renungan untuk mengubah mindset muda-mudi zaman sekarang, timbul satu pertanyaan.

Halo, Dee! Gue Alay Silebay, pokoknya lebih oke deh dari si Rendy & Stefan! Follow gue yah di @alaysilebay dan alaysilebay.com Di sana ada teman-temanku: my ride, Ferrari Enzo n Bugatti Veyron, juga my crib @regatta. Ciao!

Bagaimana jika “rahasia besar” itu tak ada? Andai saja, saat prahara sedang memuncak muncullah seorang cowok lain, bukan Stefan. Taruhlah namanya Alay Silebay. Dia memenuhi segala kriteria Dee plus tulus dan baik hati, benar-benar tak bermasalah. Bisa jadi, dengan mindset Dee yang sekarang, secara alami, 75% hati Dee akan tertambat pada Mr. Alay. Atau kemungkinan kedua, 15% akan diterpa dilema besar apakah akan memilih Rendy, Stefan atau Alay Silebay. Andai akhirnya Dee memilih Rendy, itu baru “keajaiban” besar yang perlu disertai penjelasan yang meyakinkan. Terkesan oleh daya juang dan “kapasitas untuk mapan” Rendy, mungkin?


Para Pemantik Kesan

Selain pada cerita, saya juga mendapat kesan dari para tokoh yang ber-“honey-money” ria di sana. Di antaranya:

- Saya paling bersimpati pada Elbert, tokoh cowok “level angkot” yang putus dengan Dee gara-gara gak punya mobil. Yang bikin salut adalah sikap dia yang “so what? It hurts, but life must go on. Pasti ada wanita yang cukup oke di Jakarta ini yang suka ‘cowok angkot’ macam gue.”

- Tokoh Prita Dee di awal cerita jelas tipikal cewek remaja dengan gaya hidup kelas menengah-atas dengan pilihan produk yang berkelas pula. Buktinya: Mascara Maybelline, Eyeliner Face Shop, Parfum Dior untuk makeover (ilustrasi di halaman 16). Gejolak perasaan Dee saat tahu orang yang penting bagi dirinya tidak ada dalam sesuatu yang sangat penting bagi seorang gadis 17 tahun, serta harapan yang hancur cukup membangun simpati pada mereka yang ingin memahami perasaan gadis belia pada umumnya.

- Rendy: Membuktikan dirinya punya kemampuan untuk mapan, bukan hanya tajir karena uang orangtua. Penderitaanlah yang memacunya ke arah sana. Tokoh Rendy dan Elbert ini bisa jadi teladan bagi cowok pada umumnya.

- Stefan: Meyakinkan sekaligus mengejutkan. Usaha Stefan menunjukkan masalah-masalah Rendy untuk mendekati Dee mulai halaman 158 membuat pembaca bisa menebak. Kalau seseorang mulai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, pasti dia punya masalah. Namun, mengingat Dee masih remaja, wajar saja kalau Dee tak tahu itu. Teenlit stuff.


Jadi Kesimpulannya…

Terlepas dari faktor plot ala sinetron serta dramatisasi versus kehidupan nyata yang sudah diuraikan di atas, saya berpendapat kisah ini patut dibaca semua wanita yang mayoritasnya terwakili sosok Dee ini.

Para pria yang ingin mengintip pemikiran dan perasaan wanita dan mendapat contoh cara menyikapi mindset gadis (khususnya remaja) serta gaya hidup mereka silakan membacanya. Menarik juga sekali-sekali mencoba memahami wanita lewat sudut pandang kaum hawa.

Sekali lagi saya tekankan bahwa ini novel teenlit, yang ditulis oleh remaja (yang pada tahun 2010 adalah mahasiswi). “Honey Money” adalah hiburan ringan yang berbalut drama romantis. Tanpa bermaksud jadi ambisius, filosofis bahkan fenomenal seperti Twilight Saga-nya Stephanie Meyer. Terbitnya cetakan kelima per Januari 2012 cukup jadi bukti bahwa teenlit yang satu ini layak dikoleksi dan dibaca berulang-ulang.

Sukses untuk Debbie. Akhir kata, no honey, no bee (apa coba?).


Untuk tahu lebih banyak dan mendapatkan Teenlit Honey Money, silakan kunjungi toko-toko buku terdekat. Referensi lainnya dapat disimak di Goodreads.com http://www.goodreads.com/book/show/8080595-honey-money

Thursday, March 10, 2011

Link List: Blogs About Books and Literature 1

blogs about books and literature

links i've retrieved from a poll in goodreads.com

do you write a book blog?

The full and updated list here:

http://www.goodreads.com/poll/show/44597-do-you-write-a-book-blog

http://kayleighbugbooks.blogspot.com

Kay Leigh Bug Books

http://mossjon314159.wordpress.com

http://unicornsilovethem.blogspot.com

Unicorns I love Them

http://lvngbooks.blogspot.com

Loving Books

http://whatsheread.blogspot.com

What He Reads

http://bibrary.blogspot.com

http://jonasbooklist.blogspot.com

Jonas' Book List

http://amperstory.blogspot.com

http://jesseshanson.wordpress.com

http://catscritters.blogspot.com

http://bustybookbimbo.wordpress.com

http://www.yablist.com

http://satiasreviews.blogspot.com

(satia.blogspot.com) book reviews

http://trulybookish.blogspot.com

http://beasbooknok.blogspot.com

http://katieslegacy.blogspot.com

http://touchofnovel.blogspot.com

Touch of Novel

http://dreamyobsession.blogspot.com

Dreamy Obsession

http://mystifyingparanormalreviews.blogspot.com

Mystifying Paranormal Reviews

http://paperbacktreasures.blogspot.com

Paperback Treasures

http://samjaymc.blogspot.com

http://laurenvail.tumblr.com

http://ramblingbookmarks.blogspot.com

Rambling Bookmarks

http://magicofreading.blogspot.com

Magic of Reading

http://snifflykitty.blogspot.com

Sniffly Kitty

http://francescaworld.wordpress.com

http://wickedenchantment.com

Wicked Enchantment

http://cathysreadinglist.blogspot.com/

http://sandysandmeyer.wordpress.com/

http://readheavily.com/

http://sisterfriendbookjournal.com/

http://www.wellreadnaturalist.com

Natural Science Books

http://kaylabookcase.blogspot.com

http://ieatbooksforbreakfast.blogspot.com

I Eat Books For Breakfast

http://fullmoonbites.blogspot.com

http://thebookprojectandme.blogspot.com

http://faybaysbooks.blogspot.com

http://debrasbookcafe.blogspot.com

http://kitap-gunlugu.blogspot.com

http://whyiya.blogspot.com

http://www.bookswithbite.net

http://bookworming101.wordpress.com

http://andanotherbookblog.blogspot.com

http://unsweet-tea.blogspot.com

Wednesday, September 22, 2010

Forever Wicked (Ex Nihilo) - By Erwin Adriansyah



Forever Wicked (Ex Nihilo)
by Erwin Adriansyah

Publisher : Evolitera
Released : 20th Apr, 2010
Pages : 195
Category : Novel
SubCategory : Adult
Language : Indonesia

Summary

“Kota Daging”, begitulah kaum iblis menyebut tempat laknat yang aslinya bernama Jakarta. Dari 10 juta penduduknya, ada sangat banyak yang bisa dilahap lalu dibuang begitu saja sebagai korban tenggelam, korban mutilasi, korban tabrak lari, atau orang hilang jika yang bersangkutan dimakan hingga tak bersisa. Belum lagi para gelandangan, anak jalanan, pemulung dan orang-orang kelas bawah lain yang takkan dipedulikan keselamatannya. Jika mereka mati, toh takkan ada yang ambil pusing, kan?

Tak heran kaum iblis menyukai kota ini. Mulai dari sistem keamanan, sistem administrasi kependudukan, hingga sistem kesehatan, semuanya memberikan celah bagi mereka untuk memangsa sesuka hati tanpa takut terekspos oleh publik. Dalam kondisi seperti demikian, pemukiman kumuh adalah hidangan prasmanan, sedangkan rumah sakit bak meja penuh sajian menggiurkan.

Mungkin itu sebabnya kami berlima memburu iblis, karena tahu hidup orang-orang di sini sudah cukup susah tanpa harus menjadi santapan spesies predator. Atau bisa jadi karena kami memang membenci iblis dan senang membunuh mereka.

Terlepas dari semua itu, satu perburuan akan mengubah hidup kami untuk selama-lamanya. Satu perburuan, dan semuanya menjadi lepas kendali seperti bola salju yang meluncur liar, menelan siapa saja yang ada di hadapannya. Dan kami adalah penyebab utamanya.



ISBN: 978-602-96504-8-8

Source: Evolitera.com
http://evolitera.co.id/themes/main/product.php?product_id=161

Tuesday, April 17, 2007

The Heart is A Lonely Hunter

Judul buku : The Heart is A Lonely Hunter
Penulis : Carson McCullers
Penerjemah : A.Rahartati Bambang Haryo
Penerbit : QanitaCetakan : I – Februari 2007
Tebal : 491 hlm

TATKALA MIMPI-MIMPI BERAKHIR SEPI
Pada mulanya adalah persahabatan dua orang bisu tuli, John Singer dan Spiros Antonapoulos. Mereka menempati satu kamar sewaan. John Singer, si Kurus, bekerja di sebuah toko perhiasan sebagai tukang gravir. Sedangkan si Gendut, Antonapoulos, bekerja di toko buah dan permen milik sepupunya. Meski Antonapuolos lebih sering tak peduli pada sahabatnya, kasih sayang John Singer kepadanya tak pernah berkurang. Bahkan pun setelah Antonapoulos dikirim ke rumah sakit jiwa oleh sepupunya, John tetap setia mengunjunginya secara berkala. Setelah kepergian sahabatnya, John dilanda kesepian yang sangat. Ia benar-benar kehilangan orang tedekat yang sangat dikasihinya, walaupun orang tersebut dalam kenyataannya tak pernah membalas kasihnya. Hanya makanan dan tidur saja yang menjadi perhatiannya. Sebuah persahabatan yang timpang sebetulnya. Ketika John Singer tak tahan lagi bersendiri di kamar yang biasa mereka tempati bersama itu, ia kemudian pindah menyewa sebuah kamar milik keluarga Kelly. Di sini ia bertemu orang-orang baru yang kelak menjadikannya teman curhat mendengarkan segala uneg-uneg mereka : Mick Kelly, Dr.Copeland, Biff Brannon, dan Jake Blount. Bagi mereka, John Singer adalah ‘pendengar’ yang baik. Ia ‘mendengarkan’ cerita-cerita mereka dengan cara membaca gerak bibir. Dari sinilah Carson McCullers membawa pembaca menelusuri jiwa-jiwa manusia yang kesepian. Karakter-karakter dalam novel yang ditulis ketika McCullers baru berusia 23 tahun ini – berarti pada tahun 1940 – adalah sejumlah karakter yang kesepian. Mick Kelly, anak perempuan pemilik penginapan yang disewa John ini, baru berusia 12 tahun. Ia tomboy, tidak memiliki banyak teman, tak akur dengan kakak-kakak perempuannya, dan diam-diam terobsesi menjadi pianis terkenal. Dalam kesendiriannya ia asyik memutar musik di kepalanya. Biff Brannon, pemilik New York CafĂ©, kedai makan kecil tempat John Singer dan orang-orang di kota itu ngopi dan kongkow-kongkow. Sejak kematian istrinya, lelaki baik hati ini betul-betul meras kesepian. Ia mendambakan kehadiran seorang anak dalam hidupnya. Dokter Copeland – lengkapnya Benedict Mady Copeland – adalah seorang kulit hitam yang berpendidikan dan berpikiran maju bagi masa depan anak-anaknya dan orang-orang Negro yang ketika itu mengalami perlakuan sangat diskriminatif, terutama di (Amerika Serikat bagian) Selatan. Ia bertekad memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putranya. Namun, apa lacur, harapannya hancur. Tak satu pun dari ketiga orang putranya mewujudkan impiannya. Bahkan, si Bungsu Willie, sempat masuk bui lantaran terlibat perkelahian. Sedangkan putrid satu-satunya, Portia, hanya mampu ‘berkarier’ sebagai pelayan di rumah keluarga Kelly. Di hari tuanya, Dr.Copeland harus menerima kenyataan pahit : ditinggalkan anak-anaknya dan berjuang sendiri menentang perilaku rasis masyarakat dan pemerintah (kulit putih) negara bagian Georgia. Dan, Jake Blount. Sebenarnya ia seorang pendatang di kota itu. Pemabuk yang tak memiliki pekerjaan tetap ini adalah juga seorang penganut paham sosialis yang radikal. Ia, seperti halnya Dokter Copeland, menentang keras perbedaan kelas dan pengagum berat Karl Marx. Ia senantiasa merasa sendirian dalam ideologinya itu. Tadinya, saya menduga para karakter ini pada akhirnya akan dipertemukan dalam sebuah peristiwa. Atau setidaknya ada satu persoalan yang menautkan mereka. Tetapi, kiranya tidak demikian. Sampai di lembar penutup, tokoh-tokoh ini berjalan sendiri-sendiri. Hanya ada satu kesamaan : mereka makhluk-makhluk yang kesepian. Ya, ini novel klasik tentang orang-orang yang kesepian. Daya pikatnya, barangkali, ada pada narasi yang digarap secara amat detail, halus, cermat. Akibatnya, tempo cerita terasa lambat sehingga butuh perjuangan tersendiri menamatkannya. Bagi pembaca yang tak sabaran, bisa jadi malah membosankan. Mungkin, The Heart Is A Lonely Hunter ini bisa dikategorikan sebagai novel psikologis. Konfliknya internal, berupa pergulatan batin para tokohnya. Sesungguhnya, McCullers tak hanya bercerita tentang kesepian belaka. Secara halus ia juga menyampaikan persoalan rasialisme yang tengah marak di Selatan pada masa-masa itu. Disinggungnya pula ihwal kapitalisme yang menindas dan mengeksploitasi kelas pekerja (buruh). Problem sosial yang sangat khas Selatan : kemiskinan dan keterbelakangan. Bagi seorang yang terlahir sebagai kulit putih, McCullers memiliki kepekaan seorang humanis yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungannya pada masa itu. Gadis ini tak bisa hanya diam berpangkutangan dalam keprihatinannya. Maka kemudian, ia memilih bersuara lewat karya-karya prosanya. Film dengan judul yang sama berdasarkan novel ini telah dibuat pada 1968 dan mendapat nominasi untuk kategori pemeran utama pria dan pemeran pembantu wanita terbaik dalam ajang Oscar.

Endah Sulwesi 15/4
Kunjungi Friendster Qanita di http://www.friendster.com/profiles/qanitabooks

Friday, March 02, 2007

The Navigator's Handbook

http://www.navigatorhandbook.com/

The Handbook of the Navigator
The Ultimate Spiritual Experience
Dear Friend,
I am about to share something extraordinary with you.
Your whole life has been a search for meaning, purpose, and completeness. You are aware of a sense within you that seemingly directs you as if it were a compass navigating your essence.
This navigator gives you a sense of knowing; directing you away from the trappings of mans’ religions and structured thinking. It is elusive to structural thinking.
An in-between place that defies logic as humanity understands it. Your hidden senses tell you, that what your eyes see and hands touch, is not all that there is. You look around in a distant way and then you listen deeply, breathe deeply, feel deeply. It is then that you know that there is a veil between you and some other place that holds an understanding to that which you are.
Then, without seemingly knowing, you want, and need, to become one with IT.
Do you remember?
This book is a journey towards remembering. It is going to give you answers to the secrets you have kept hidden within you for your entire life.
For What Purpose Was This Life Given?
Have you ever felt there was a greater importance or meaning to your life? Have you pushed that feeling away considering such a thought to be arrogant? What if you knew you were here for a purpose, a very specific purpose? Once you suddenly became aware of that purpose wouldn’t it empower you to fulfill it? How would it feel to finally realize such a thing?
There are many paths you can go down in search of this feeling. As you may know many are winding and long. Most never reach the destination you seek. The Handbook of the Navigator is a revolution in our modern times. It defies the popular mainstream culture that tells us there are no real answers, there is nothing to achieve and no action to take to get where we want to go.
You know what you want. Even if you cannot place a name on it; you know, as I did. You want to Awaken. The time is now.
The Handbook of the Navigator was written in simple, easy to understand language and concepts. Yet, in its entirety it is nothing short of profound.
Secret Knowledge Has a Way of Staying Secret
Here is the catch. There are some things you were not meant to know. There is knowledge of such a degree it is as if your brain filters it out of your memory as soon as you have finished reading it. In order to know this secret knowledge, even when it is placed on a page right before your eyes, you must desire to keep it. You must struggle to acknowledge, digest and realize it.
There are people who have studied spiritual knowledge all of their lives and when they read The Handbook of the Navigator they tossed it aside assuming there was nothing there. When questioned further about each chapter they discovered there were whole chapters of knowledge they could not recall reading. Each time they went back to read it, still, entire chapters of key secrets were cleared from their mind as if the pages were never there.
When they finally read it and realized what they had missed so many times, they were amazed. That is the power of this knowledge. It does not distinguish by intelligence, wealth, accomplishments, or experience. If you are ready for it, if you can put aside your expectations, if you can open your mind, it will deliver to you what you have been seeking all this time.
This book was written with one objective; to awaken the world one mind at a time. The Navigator will lead you to your spiritual Awakening. You simply have to ask yourself one question, are you ready?
May you find what you seek most in life,Eric Pepin

Popular Posts