Showing posts with label vadis review. Show all posts
Showing posts with label vadis review. Show all posts

Monday, November 03, 2014

VadisReview: Lelaki Tua dan Laut - Ernest Hemingway

Lelaki Tua dan LautLelaki Tua dan Laut by Ernest Hemingway
My rating: 5 of 5 stars

Sedikit catatan pinggir saja dari saya.

Mekanisme dan pemilihan tema novel klasik/epik ini nggak jauh dari kebiasaan, hobi, kegiatan dan pengetahuan Ernest Hemingway sendiri.

Namun melihat keterangan perjalanan hidup Ernest di akhir novel ini, saya jadi berpikir, haruskah saya berperilaku sekaliber dan seperti Ernest Hemingway agar dapat menelurkan mahakarya-mahakarya?

Harap saja tidak.

Semoga passion kita tetap berkobar, apapun pilihan hidup kita.
Write, but don't forget to live.

View all my reviews

Lelaki Tua dan Laut

Novel memukau yang membangkitkan optimisme ini adalah karya terbaik Ernest Hemingway, pengarang legendaris Amerika dan pemenang Hadiah Nobel Sastra 1954, sekaligus novel terakhirnya yang terbit semasa hidupnya.

Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea) berkisah tentang perjuangan luar biasa seorang nelayan tua Kuba yang seorang diri berusaha menangkap ikan marlin raksasa jauh di laut lepas setelah sebelumnya gagal menangkap seekor ikan pun selama 84 hari dan persahabatannya dengan seorang anak lelaki. Perjuangan pantang menyerah sang lelaki tua dalam mencapai tujuannya mengajarkan kepada kita betapa kesabaran, ketabahan, dan kegigihan dalam mengarungi cobaan hidup tak akan berakhir sia-sia.

Novel yang asyik dibaca ini ditulis Hemingway saat tinggal di Kuba dan berhasil menyabet Hadiah Pulitzer 1953 untuk kategori fiksi serta Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters, sekaligus mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Sastra. Sedemikian populernya novel menyentuh ini sehingga berkali-kali difilmkan dan terus dibaca orang di berbagai penjuru dunia hingga saat ini.
(less)
Paperback, 145 pages
Published May 2009 by Serambi Ilmu Semesta (first published 1952)
original title
The Old Man and the Sea
ISBN13
9789790241473
edition language
Indonesian
characters
setting

For more information, click on Goodreads.com link here:
https://www.goodreads.com/book/show/6493574-lelaki-tua-dan-laut

Sunday, September 28, 2014

VadisReview: Oda Nobunaga - Sohachi Yamaoka

Oda Nobunaga
VadisReview by Andry Chang
Oda Nobunaga, Sang Penakluk dari Owari
Penulis: 

Up, Close and Personal With the Devil King

Bagaimana bila seekor burung tak mau bernyanyi?
Nobunaga berkata, “Bunuh burung itu!”
Hideyoshi berkata, “Buat burung itu ingin bernyanyi.”
Ieyasu berkata, “Tunggu.”

Sebelum membaca serial “Oda Nobunaga” ini, Sang Musafir menyelami sejarah Jepang di “Zaman Sengoku” lewat tokoh Toyotomi Hideyoshi dalam serial “Taiko” (Eiji Yoshikawa – terbitan Gramedia Pustaka Utama). Dalam kanon karya Sohachi Yamaoka ini beliau diajak berfokus pada Oda Nobunaga, salah seorang dari tiga penakluk yang disebut dalam anekdot di atas.

Dalam novel roman yang terdiri dari lima seri ini, karakter Oda Nobunaga yang unik, aneh namun jenius dan sangat berani dijabarkan secara amat detail dan bertahap. Buku pertama memahas transformasi Oda Nobunaga dari “Si Bodoh Besar” menjadi pemimpin yang gagah, atau lebih tepatnya dari “masa persiapan” ke “masa pengukuhan”. Di buku kedua, dalam “masa pengukuhan” itu Nobunaga mendapat ujian maha berat. Di buku ketiga ia memasuki “masa ekspansi” dan hasilnya adalah dimulainya “masa kejayaan”. Sang Musafir belum membaca buku 4 dan 5, jadi berdasarkan sinopsis, di buku 4 Nobunaga makin menunjukkan “sisi kejamnya”, tak pandang bulu bahkan pada kerabatnya sendiri. Dan di buku 5 adalah tentang hasil-hasil akhir yang dituai Nobunaga dari sepak-terjangnya itu, segala akibat yang menimpanya hingga akhir hayatnya.


Jadi, dari buku pertama sampai ketiga, Sang Musafir mempelajari dan menangkap beberapa ciri penting kepribadian Oda Nobunaga ini, di antaranya:

Sikap Mendobrak Tradisi dan Aturan-Aturan Baku
Sikap dan tindak-tanduk Nobu yang kasar dan urakan mengundang kontroversi dan kesalahpahaman dari orang-orang di sekitarnya yang menjunjung tata-krama Samurai (Bushido). Mereka tak mengerti bahwa kadang untuk mencapai kemajuan, kita perlu berpikir lebih jauh daripada tata-krama yang kaku. Tentunya, pengetahuan dan bakat juga penting, kalau tidak yang urakan akan tetap jadi urakan. Perhatikan juga tokoh Hachisuka Hikoemon dalam serial ini. Ia juga bergaya urakan, namun kapasitasnya masih di bawah Nobunaga. Sementara Nobunaga melakukannya dalam rangka “masa persiapan” untuk mencapai prestasi-prestasi legendaris.

Pemikiran “Out-of-the-Box”
Saat dihadapkan pada situasi di mana fakta, logika dan angka-angka tak berpihak padanya, Nobunaga menggunakan pengetahuan dari gaya hidup “urakan”-nya untuk menciptakan strategi unik nan kreatif. Contoh nyata, saat menghadapi Imagawa Yoshimoto yang memiliki pasukan 10 kali lipat lebih banyak, Nobunaga menggunakan cara yang tak biasa, yaitu memanfaatkan samurai kampung, serangan mendadak saat musuh lengah, juga memanfaatkan kelemahan dalam jasmani, mental, sikap dan sifat musuh. Dibantu Hashiba Hideyoshi (Kinoshita Tokichiro), ide-ide out-of-the-box makin banyak saja lahir dari Klan Oda dan membuka jalan menuju penaklukkan seluruh Jepang.

Berani Mengambil Kesempatan Beresiko Besar
Seperti layaknya seseorang memilih investasi di zaman modern, Nobunaga adalah tipe “penggemar resiko”. Ia berani bertaruh segalanya demi mendapatkan hasil maksimal, yaitu menguasai seluruh Jepang. Padahal bila ia sekali saja salah langkah dan gagal, resikonya adalah kehilangan kepalanya sendiri dan seluruh Klan Oda musnah. Contoh nyatanya adalah kampanye Oda menaklukkan Mino dan daerah-daerah yang dekat ke Kyoto. Bila gagal, nasibnya bakal sama atau lebih parah daripada Imagawa Yoshimoto.

Mampu Mengenali Karakter Orang Lain
Sepanjang serial ini, tak terhitung berapa kali Oda Nobunaga berhadapan dengan hampir segala macam sifat manusia. Namun dasar kepribadiannya yang kolerik membentuk pola sikap yang cenderung sama. Nobunaga cenderung mau berteman akrab dengan orang-orang “berpikiran maju” dan berkepribadian cocok dengannya. Orang-orang berbakat namun pemikirannya standard dan biasa-biasa saja ia manfaatkan. Namun Nobunaga cenderung kurang menghargai orang-orang berpikiran picik. Ia kurang tenggang rasa dan toleransi, akibatnya menumpuk dendam dan dengki di hati orang-orang picik itu.

Contohnya, Nobunaga berteman akrab dengan Hideyoshi yang pemikirannya sama-sama “out of the box” dengannya. Juga akrab dengan mereka yang berwatak tenang namun tajam seperti Tokugawa (Matsudaira) Ieyasu. Nobunaga cukup memanfaatkan orang-orang berbakat dan berwatak dan berpola pikir “biasa” seperti Shibata Katsuie dll sebagai bawahan. Namun ia cenderung sinis dan kurang menghargai orang-orang picik, penjilat dan sok tahu, macam Akechi Mitsuhide yang suka menonjolkan kejeniusannya demi mendapatkan kehormatan pribadi. Tanpa disadari Nobunaga, bibit-bibit dengki yang ditanamkannya dalam diri orang-orang picik itu akan memicu bencana besar di kemudian hari.

Kesimpulannya, walaupun Oda Nobunaga dipandang sejarah dan orang-orang di zamannya sebagai “Si Raja Iblis”, disamakan dengan Cao Cao dalam roman Tiongkok “Kisah Tiga Kerajaan”, Sang Musafir menganggap tokoh controversial ini termasuk yang paling menarik untuk digali, dipelajari kepribadiannya secara mendalam. Memang banyak aspek lain kepribadian Sang Penakluk dari Owari ini yang tak dijabarkan dalam review ini, yang bertebaran dalam serial ini seperti hamparan bunga sakura.

Dan harus diakui, selain “Taiko”, serial “Oda Nobunaga” ini layak jadi sumber inspirasi dan pedoman pola pikir bagi semua pembaca, tak hanya penggemar novel sejarah atau novel setting Jepang Kuno saja. Bila ada kesempatan, Sang Musafir akan membuat posting tentang istilah-istilah yang sering digunakan novel-novel berlatar Jepang dan Tiongkok Kuno. Selebihnya, silakan dibaca dan selamat terinspirasi.


Monday, March 11, 2013

Love Around You - Vadis Review

Lovers on a piano. Image Source: Henry Hutt



Ada Cinta di Sekitar Kita, Yang Aneh dan Yang Nyata
Review (Self-Review dan Renungan) oleh Andry Chang untuk
Antologi “Love Around You – Kumpulan Cerpen House of Romance”


Hai, jumpa lagi dengan saya, Alay Silebay, presenteur extraordinaire AjibTV. Kali ini, kita akan menjelajah karya-karya tulis dari genre romance. Tepatnya, Kumpulan Cerpen dari House of Romance (HoR) berjudul “Love Around You” (LAY).
“Cinta di Sekitar Kita” adalah artian judul yang sangat luas dan menyangkut banyak aspek. Jadi, dalam seri kumcer ini Grup HoR mencoba berfokus pada tiga aspek romansa saja, yaitu: Cinta Dua Generasi, Cinta Dunia Maya dan Cinta Palsu.
Menilik cover depan LAY besutan Dadan Erlangga dengan gambar perlambang cinta yang tumbuh seperti pohon, kesan pertama yang timbul bagi mereka yang melihatnya adalah kisah-kisah dalam kumcer ini adalah romance unyu bin imut, serba manis dan indah dan ditujukan untuk pembaca teenlit.
Namun sebenarnya, kisah-kisah LAY itu sangat bervariasi, baik dari sub-genrenya maupun nuansa kisahnya, persis seperti dinamika cinta itu sendiri. Ada bahagia, ada pula sedih dan marah. Ada adegan-adegan pengundang tawa, juga tindakan-tindakan ekstrim yang berujung pada kejutan. Ada kisah berakhir manis, ada pula yang tragis.
Ya, tanpa berlama-lama lagi, mari kita kupas intisari kesepuluh kisahnya satu-persatu.

One Night – Welly Setyawan
“Kau… janda?” – Bianka Golder
Tema: Cinta Dua Generasi
Secara umum, kisah ini mengetengahkan hubungan cinta yang terhambat oleh mindset/budaya, diperparah dengan kenyataan bahwa Jane Swalsky adalah “janda cerai”, bukan “janda ditinggal mati”. Dengan kombinasi karakter Kevin yang emosional, Bianka yang gengsian dan mantan suami Jane yang tak bertanggungjawab, entah kekacauan apa yang akan timbul dari interaksi keempatnya.

Serenade – Andry Chang
“Ya Tuhan, kumohon lancarkanlah jalanku menuju hatinya.” – Neria Sari
Tema: Cinta Dua Generasi


Tragedi atau trauma yang amat parah seringkali melumpuhkan hati seseorang, memupus semangat hidupnya hingga ia tak bisa move on. “Obat” untuk “penyakit” ini tentunya adalah cinta sejati yang tulus, yang datang saat si frustrasi sulit mengenalinya. Mengutip lagu Dewi Lestari, “Terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan… Malaikat juga tahu, aku akan jadi juaranya.”
Karena ini cerpen karya "bos" saya, saya hanya bisa memberitahu sedikit bahwa beberapa elemen ceritanya berdasarkan kejadian dan tokoh di kehidupan nyata.

Terbaik Untukku – June Tan
“Orang luar mau omong apa itu urusan mereka sendiri, bukan urusanku.” – Ayu
Tema: Cinta Dua Generasi
Salah satu sebab timbulnya cinta adalah seseorang menemukan sosok yang ia kagumi dalam diri orang yang ia cintai. Mungkin sosok ayah, ibu, atau seorang pahlawan perkasa. Mungkin lebih dramatis lagi bila ditambah satu tokoh pemuda seumuran Ayu yang kalah heroik dengan si Bapak, hingga keputusan untuk menentukan mana yang terbaik bagi Ayu jadi lebih dilematis. Satu quote tambahan dari Bapak, “I’ll be back.”

Loving Evelyne – Renee Keefe
“Seorang pria dewasa memang seharusnya mengeluarkan keringat untuk gadis yang dicintainya!” – Dawson O’ Connell
Tema: Cinta Dua Generasi (dominan), Cinta Palsu
Cinta yang didasari alasan-alasan yang tidak murni seperti penawar kesepian, pelampiasan frustrasi, pemuasan nafsu dan semacamnya bukanlah cinta sejati. Atau ekstrimnya, itu cinta palsu.
Di sisi lain, cinta yang seharusnya murni namun dibina lewat hubungan gelap bisa jadi cenderung berbuah tragedi. Kisah “Loving Evelyne”, yang berlatar belakang Zaman Victoria menawarkan solusi yang cukup logis untuk menghindari tragedi itu, menentukan pemenang sejati antara cinta sejati dan cinta palsu. Pertanyaannya, bisakah “solusi” ini diterapkan di zaman modern, apalagi di negeri seperti Indonesia?

Sang Penjaga – Dya Ragil
“Tidak pernah ada waktu yang tepat kalau dicari, kita sendiri yang harus membuatnya.” – Alia
Tema: Cinta Dua Generasi
Dalam kisah ini, kita disuguhkan salah satu contoh cinta sejati. Cinta sejati bisa dihasilkan dari pengabdian, komitmen dan dedikasi sepenuh jiwa dan tanpa pamrih. Dan, saat cinta itu tumbuh dan telah dikenali, terserah keputusan pihak yang mencintai atau dicintai untuk terus memupuknya atau tidak. Atau lebih baik lagi, dipupuk lewat dedikasi yang lebih kuat dan langgeng, tanpa terlalu perhitungan.
Mungkin pembaca akan lebih terkesan lagi bila ada perbandingannya berupa cinta palsu yang kelihatannya sejati, seperti serigala berbulu domba. Biar pembaca menebak-nebak, yang manakah dari kedua cinta itu yang sejati.

My Direct Message – Lily Zhang
“Karena tidak semua orang memahami perbedaan ini.” – @D_zen
Tema: Cinta Dunia Maya
Pernik-pernik dunia maya sering menjadi “topeng yang indah”, menutupi kekurangan diri di dunia nyata. Mau bilang apa, itulah salah satu senjata agar diterima oleh orang yang menarik hati kita. Tapi hati-hati, suatu hari kekurangan kita itu bisa terungkap baik dengan sengaja ataupun tidak, dan kita baru tahu apakah kepribadian orang yang kita sukai itu sungguh cocok atau tidak dengan kita. Apalagi dengan mindset insan modern, khususnya di Indonesia, cara ini lazim dipakai.
Jadi, kisah ini adalah pengingat yang manis bin unyu, untuk selalu berusaha mencoba memahami perbedaan dalam diri orang lain, khususnya yang pada dasarnya kita sukai dan menyukai kita.  “Just let your true colors, shining. Your true colors, whatever dark they are, are beautiful.”(Dimodif dari lirik lagu “True Colors” – Phil Collins)

Lukisan Masa Lalu – Reina Mala
“Jika memang maut menghampiri salah satu di antara kita berdua, biarkan kebahagiaan yang menjadi akhir dalam kisah kita.”- Aiko
Tema: Cinta Dua Generasi (dominan), Cinta Dunia Maya
Ini adalah kisah yang “gaib”, tentang jodoh yang terputus di masa lalu yang jadi jalan untuk menyambungkan jodoh dan cinta di masa kini. Karya terakhir Reina Mala ini termasuk “fantastis”, sebuah permainan takdir yang seindah lukisan.
Cinta, oh, cinta, apakah memang takdir yang membuat kita bertemu, menyatukan dua hati kita dalam satu jalinan benang asmara? Apakah cinta sejati memang buta, hingga logikapun tak kuasa berkata-kata?

What Goes Around, Comes Around – Liz Lavender
“Aku memutar waktu untukmu. Kita kembali ke masa lalu, bukan? Jadi apa yang ingin kaulakukan sekarang?” – Timothy Hartwood
Tema: Cinta Palsu (dominan), Cinta Dua Generasi
Dilihat dari judul yang dikutip dari peribahasa Bahasa Inggris “What goes round, comes around”, saya menebak ceritanya pasti adalah seputar mereka yang berbuat “curang” dalam cinta dan terkena imbas akibatnya. Dan, tebakan saya benar.
Lewat taktik “cinta palsu”, orang-orang yang berselingkuh mendapat ganjaran dari perbuatan mereka. Meskipun mungkin akan ada yang berkomentar tak perlu jadi agen rahasia untuk “mengerjai” para pengkhianat cinta itu. Namun, yah, tentunya dengan gaya macam James Bond 007, ditambah cinta yang datang tak terduga dari orang yang terpaut satu generasi membuat kombinasi “bumbu”-nya jadi unik. Satu rasa di bumbunya yang aneh hanya adanya unsur “mistis” di akhir cerita.

Satu Nyawa Manusia – Lia Zhang
“Aku tak menyesal menggunakan satu-satunya nyawaku untuk mencintai Claraku.” – Gubernur Jenderal
Tema: Cinta Dua Generasi
Sejak zaman dahulu hingga sekarang, seringkali demi mendapatkan cinta, seseorang menghalalkan segala cara, termasuk menyalahgunakan kekuasaan, wewenang dan hartanya. Dalam kisah ini, kasusnya menjadi ekstrim karena urusannya menyangkut nyawa manusia. Apalagi keputusan yang logis namun kurang bijaksana, permainan takdir dan jebakan politik yang kejam menyebabkan nyawa sendiripun melayang. Tapi, tentu si Gubernur Jenderal tak bisa tiba-tiba berubah menjadi malaikat dengan mengorbankan nyawanya sendiri langsung, hingga Clara bisa hidup bahagia dengan kekasih pilihannya. Ini antitesis yang lebih realistis dari kisah “Loving Evelyne”. Reality bites. 

Janji Ksatria Untuk Putri – Catz Link Tristan
“Karena saya adalah ksatria yang akan menolongmu, Putri cantik dari naga jahat.” – Elang
Tema: Cinta Dunia Maya (dominan), Cinta Palsu, Cinta Dua Generasi
Di dunia maya, khususnya jejaring sosial kita bertemu dengan segala macam orang yang belum kita kenal. Kepribadian seseorang yang sesungguhnya sulit ditebak, dan kadangkala malah memakai topeng seribu kepalsuan. Jadi, hal terbaik yang bisa kita lakukan hanya memegang prinsip kita sendiri. Mungkin Elang memberi contoh yang tak patut ditiru, namun setidaknya dia masih punya prinsip seperti ksatria yang memiliki zirah dan perisai. Hati-hatilah, hai Putri cantik samaran naga jahat!

Kesimpulan secara keseluruhan, saya yakin seyakin-yakinnya, semua penulis di Grup House of Romance (HoR) ini telah mengerahkan jurus-jurus silat kata terbaiknya dalam Antologi Love Around You (LAY) ini. Lagipula, tujuh dari sepuluh kisah ini adalah hasil lomba Romance Story Audition (ROSA) yang diadakan HoR.
Perlu dijelaskan di sini, bahwa kebanyakan peserta dan pemenang lomba cerpen ROSA-LAY memilih tema “Cinta Dua Generasi”. Karena ada cerpen-cerpen dari kedua tema lainnya yang masuk antologi, jadi teman-tema itu ikut pula disebut.
Pemilihan genre, latar belakang, masa dan lokasi yang sangat luas dan bervariasi, di samping ada penggunaan sihir supranatural sebagai pemanis mungkin akan menimbulkan tanda-tanya di benak pembaca: Apakah semua “love” dalam antologi ini benar-benar ada “around you”? Jawabannya, “tidak” dan “ya”. “Tidak”, bila dicerna secara harafiah. “Ya,” bila pembaca mau mencoba merenungkannya dan membandingkannya dengan realita hidup di zaman modern ini.
Lagipula, beberapa cerita di sini terkesan ditujukan bagi pembaca berusia 17 tahun ke atas, jadi bukan teenlit seperti kesan pada cover depan. Satu lagi kelebihan kumcer indie ini adalah ada beberapa elemen cerita yang digarap dengan “berani”, yang biasanya “diredam” dalam terbitan-terbitan penerbit major. Elemen yang mana saja? Bacalah seluruh ceritanya dan anda akan tahu.
Nah, semoga tulisan saya di sini bisa membantu memperluas pemahaman pembaca sekalian. Alay Silebay, presenter AjibTV, melaporkan dari House of Romance. 

Love Around You - Kumpulan Cerpen House of Romance 

Penulis: 

10 kisah cinta dari 10 penulis Grup House of Romance dengan mengusung tiga tema berbeda. Cinta dua generasi, cinta palsu dan cinta dunia maya.


Kisah-kisah cinta di sekitar kita yang kadang terlupakan. Baik yang manis, memabukkan hingga pahit getir. Rasakan kejutan-kejutan saat menyelaminya satu-persatu.

LAY, Love Around You. A treasure book of love.

“Kau... janda?” - Bianka Golder, “One Night”

“Ya Tuhan, kumohon lancarkanlah jalanku
menuju hatinya.” - Neria, “Serenade”

“Orang luar mau omong apa itu urusan mereka
sendiri, bukan urusanku.” - Ayu, “Terbaik Untukku”

“Seorang pria dewasa memang seharusnya
mengeluarkan keringat untuk gadis yang dicintainya!”
- Dawson O’ Connel, “Loving Evelyne”

“Tidak pernah ada waktu yang tepat kalau dicari,
kita sendiri yang harus membuatnya.”
- Alia, “Sang Penjaga”

“Karena tidak semua orang memahami perbedaan ini.”
- @D_zen, “My Direct Message”

“Jika memang maut menghampiri salah satu di
antara kita berdua, biarkan kebahagiaan yang
menjadi akhir dalam kisah kita.”
- Aiko, “Lukisan Masa Lalu”

“Aku memutar waktu untukmu. Kita kembali ke masa
lalu bukan? Jadi apa yang ingin kaulakukan sekarang?”
- Timothy Hartwood, “What Goes Around Comes Around”

“Aku tak menyesal menggunakan satu-satunya
nyawaku untuk mencintai Claraku.”
- Gub. Jenderal, “Satu Nyawa Manusia”

“Karena saya adalah ksatria yang akan menolongmu,
Putri cantik dari naga jahat.”
- Elang, “Janji Ksatria Untuk Putri”

Penyunting: Dadan Erlangga, Majnun Jiddan, Petrus Jody
Pemeriksa Aksara: Catz Link Tristan, Lia Zhang, Liz Lavender
Pewajah Sampul: Dadan Erlangga
Penata Isi: L.L
Ilustrator: Dya Ragil


Paperback, 148 pages
Published February 27th 2013 by CV. Gloria Group
ISBN
9876021898
edition language
Indonesian
Untuk mendapatkan buku antologi "Love Around You" ini, silakan kunjungi situs-situs berikut ini:

Website House of Romance:  
http://houseofromance.wordpress.com 

Grup House of Romance di Facebook: http://www.facebook.com/groups/houseofromance

Entri di VadisWorld: http://vadisworld.blogspot.com/2013/02/love-around-you.html

Entri di Goodreads.com www.goodreads.com/book/show/17450961-love-around-you


Wednesday, January 09, 2013

A Wayfarer in Pagford




A Wayfarer in Pagford
A review by Andry Chang for

The Casual Vacancy
The novel by J. K. Rowling

The Wayfarer arrived at Pagford Square

I can’t believe myself. Me, the Wayfarer, traveler of worlds of fantasy got myself in Pagford, a small town not too far from London.
Getting off the inter-city bus with my backpack on, I walked towards Pagford Square. As I set foot on the pavement there, I felt envigored by the fresh air that caressed my lungs. I looked around.
“There it is,” I muttered, walking towards a building just ahead.
Instead of an inn, I went into a café and sat in a corner. My legs were killing me.
I glanced around and talked aloud, “Oi, waiter?” But no one came.
The three guests sitting on the bar and tables looked adamant – they were just busy with themselves, reading a book, sipping coffee and talked with each other.
Just then, a girl came half-running towards my table. She was dark-skinned and about sixteen, wearing a white dress and an apron.
“Ah, I’m so sorry, sir. Just got busy out back with my boss giving me tasks,” said the waitress. “We’re kind of short-handed right now. Well, what would you like, sir?”
Wearily yet patiently, I said, “One hot Hazelnut Latte and a slice of your Homemade Bacon Sandwich.”
“Right away, sir!” The waitress dashed towards the counter.
It took her long to finally presenting me with my orders. Yet, I thanked her and began to dig into my meal.
“Err… you’re not from around here, are you sir?” said the waitress almost abruptly, with a frown.
I finished chewing with a ready answer, “Well, that’s obvious, from my backpack, my accent, my looks and all.” Elementary, Watson.
“And not from England either.”
I nodded.
“Mind if I sit here?”
“No problem.”
She sat and extended a hand. “I’m Sukhvinder. What’s your name?”
“Just call me Andy,” I said. “Mind if I call you ‘Suvi’?”
“Sounds nice, yeah.” Suvi smiled. “Where are you from?”
“My hometown is Jakarta.”
“Jakarta like, the capital of Indonesia?”
“Right you are.”
Sukhvinder’s eyes and nostrils widened with interest. “So, tell me, what brought you from Jakarta all the way here, to Pagford? Let me guess, is it because of Joanne’s book?”
The straightforward question deserved a straight answer. “Partly, yes.”
“I knew it,” said Suvi with a frown. “And the other part might be…”
“To meet and talk with a Pagford citizen in that story. You, for one.” I pointed at her with my chin.
“Me? I…” The young girl seemed distraught all of a sudden. “If it’s about the Casual Vacancy incident, everything I want to say to you are written in Joanne’s book. No less, no more.”
“Haha, that’s okay, you don’t have to recite the whole story.” I soothed her frown with a smile. “Just a casual meet-and-greet. I’ve already got everything I need from the book.”
“Well, now that you meet one of us here, I want you to know what you’ve got from Joanne’s book.”
I looked straight at Suvi’s eyes. “Firstly, I want to say this. ‘God is in everyone’s soul, yet society tends to seek the devil within’.”
“And what else?”
“And… when ‘politics’ come in the picture, all hell breaks loose.”
Sukhvinder fell silent. Something in my words must’ve triggered something inside her. My guess is it was an unpleasant, painful, if not traumatizing memory. The memory of friends came and gone. Of trust gained and lost, and even lives lost.
Of innocent, everyday people turned into “monsters” when their secrets were unraveled by The_Ghost_of_Barry_Fairbrother. Who was to blame? The so-called “ghost”? The Casual Vacancy of political power? In a small, almost rural town of Pagford?


From Pagford with love

“True,” said Sukhvinder, her tone turned more serious. “The past incident have brought the worst from some people and the best from some other. But then, who’s the real culprit and the real hero here? All we can see are the victims and… the people who pulled the trigger…”

Saturday, March 17, 2012

No Money, No Honey!



HONEY MONEY

Penulis: Debbie

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit: April 2010 (cetakan pertama).

Jumlah halaman: 248

ISBN13: 9789792257090

URL: http://gramedia.com/buku_detail.asp?id=KDWL1241&jenis=3&kat=#

Genre: Fiksi, Drama, Romance, Teenlit (Drama Remaja)

Desain dan ilustrasi sampul: yustisea_satyalim

Ilustrasi dalam: Sandra Puspita Kusuma


Sinopsis:

"Gue mau cari cowok tajir!"

Bosan pacaran bertahun-tahun dengan cowok yang sederhana (baca: gak punya mobil), Dee bertekad untuk mencari cowok kaya. Rasanya mimpi jadi kenyataan saat ia berjumpa dengan Rendy. Wuihh, dia Edward Cullen versi Jakarta! Tinggi, keren, romantis, dan pastinya tajir dong! Dunia terasa berwarna-warni saat Dee bersama Rendy, secerah bunga matahari dan jutaan balon gas yang menerbangkannya seperti rumah di film UP!. Segalanya sempurna---sampai meninggalnya ibu tiri Rendy menguak kebenaran. Semua angan dan cinta yang telah dibangun terasa palsu.

Apakah lebih baik Dee belajar menyayangi Stefan, tetangga sekaligus sahabatnya sejak kecil? Bagaimana dengan rahasia besar keluarga Dee yang tersingkap tiga minggu sebelum ulang tahun ketujuh belasnya?


No Money, No Honey!
Review oleh Andry Chang

No money, no woman

No woman, no cry

No money, no cry, melainkan no dong…

Sebagai cowok, terus terang saya bukan termasuk penikmat utama novel chicklit. Seorang teman baik menyarankan cerita ini untuk saya baca dan perhatikan. Semula saya agak enggan, skeptis dan beralasan, "Ah, paling-paling tak beda dengan sinetron TV." Apalagi temanya, tentang seorang cewek yang naksir cowok karena keren dan tajir. Bukankah itu biasa dan alami untuk cewek2 bergaya hidup "gaul" hari gini? Gak hanya cewek, bahkan cowokpun ada kecenderungan untuk matre.

Di awal-awal cerita, plot berkutat seputar rayu-merayu, bertukar kata-kata romantis nan indah, gue-naksir-ini-itu, curhat sana-sini dan pilih-pilih cowok seperti pilih-pilih baju di kapstok butik mal. Oke, terus terang kalau mau menyebut selera, saya seperti makan ubi, makanan yang saya gak suka dan porsinya lumayan banyak. Yah, maklumlah pria punya selera.

Namun, setelah saya coba simak sampai bab-bab akhir, ada satu hal yang menarik, yang membuat saya bertanya-tanya dan penasaran. Bagaimana jika seorang cowok tajir kehilangan ketajirannya? Akankah si cewek tetap cinta pada cowok itu?

Jawaban yang saya temukan ternyata adalah pesan yang tersirat yang ingin disampaikan oleh teman saya itu. Gak semua cewek cantik itu matre, atau selamanya matre. Contohnya Dee. Dia menganut "matre-isme" mungkin karena gaya hidup dan keinginan untuk have fun sebagai anak SMA. Namun pengalaman hidup mengajarkan padanya bahwa cinta yang mengutamakan kekuatan finansial bukanlah cinta sejati.

Seorang cewek matre yang "bertobat" mungkin adalah kabar keberuntungan bagi pasangannya. Namun wahai kaum Adam, jangan lantas terlena. Masih ada kekuatan yang wajib ada dalam diri makhluk cowok yaitu tanggung jawab, daya juang dan kemampuan untuk jadi mapan – cukup untuk membina keluarga di zaman serba modern dan serba mahal ini. Dan wanita, seperti yang saya kutip dari "Men From Mars, Women From Venus" menuntut perhatian dan kasih sayang seperti tumbuhan butuh air. Berjuanglah, wahai kaumku!


Yang Penting Ceritanya, Bung!

Oke, kembali pada plot. Ada sedikit hal yang mengganjal saya dalam mencerna hikmah “Honey Money” ini. Harus diakui, adanya “rahasia besar keluarga Dee” menambah nilai dramatisasi cerita. Bahkan cerita Mama Dee di awal Bab 15, halaman 228 bisa jadi sesuatu yang inspiratif, memotivasi pria untuk tetap ulet, berinovasi dan terus berjuang.

Namun, hal itu malah membuat logika saya terusik. Oke, taruhlah itu yang terjadi dalam cerita ini. Bagus untuk mereka, ada insan yang beruntung bertemu orang yang akhirnya memahami cinta sejati. Pas buat menghibur pembaca karena toh ini novel teenlit. Sebaliknya, bilamana ingin digali lebih dalam sebagai bahan renungan untuk mengubah mindset muda-mudi zaman sekarang, timbul satu pertanyaan.

Halo, Dee! Gue Alay Silebay, pokoknya lebih oke deh dari si Rendy & Stefan! Follow gue yah di @alaysilebay dan alaysilebay.com Di sana ada teman-temanku: my ride, Ferrari Enzo n Bugatti Veyron, juga my crib @regatta. Ciao!

Bagaimana jika “rahasia besar” itu tak ada? Andai saja, saat prahara sedang memuncak muncullah seorang cowok lain, bukan Stefan. Taruhlah namanya Alay Silebay. Dia memenuhi segala kriteria Dee plus tulus dan baik hati, benar-benar tak bermasalah. Bisa jadi, dengan mindset Dee yang sekarang, secara alami, 75% hati Dee akan tertambat pada Mr. Alay. Atau kemungkinan kedua, 15% akan diterpa dilema besar apakah akan memilih Rendy, Stefan atau Alay Silebay. Andai akhirnya Dee memilih Rendy, itu baru “keajaiban” besar yang perlu disertai penjelasan yang meyakinkan. Terkesan oleh daya juang dan “kapasitas untuk mapan” Rendy, mungkin?


Para Pemantik Kesan

Selain pada cerita, saya juga mendapat kesan dari para tokoh yang ber-“honey-money” ria di sana. Di antaranya:

- Saya paling bersimpati pada Elbert, tokoh cowok “level angkot” yang putus dengan Dee gara-gara gak punya mobil. Yang bikin salut adalah sikap dia yang “so what? It hurts, but life must go on. Pasti ada wanita yang cukup oke di Jakarta ini yang suka ‘cowok angkot’ macam gue.”

- Tokoh Prita Dee di awal cerita jelas tipikal cewek remaja dengan gaya hidup kelas menengah-atas dengan pilihan produk yang berkelas pula. Buktinya: Mascara Maybelline, Eyeliner Face Shop, Parfum Dior untuk makeover (ilustrasi di halaman 16). Gejolak perasaan Dee saat tahu orang yang penting bagi dirinya tidak ada dalam sesuatu yang sangat penting bagi seorang gadis 17 tahun, serta harapan yang hancur cukup membangun simpati pada mereka yang ingin memahami perasaan gadis belia pada umumnya.

- Rendy: Membuktikan dirinya punya kemampuan untuk mapan, bukan hanya tajir karena uang orangtua. Penderitaanlah yang memacunya ke arah sana. Tokoh Rendy dan Elbert ini bisa jadi teladan bagi cowok pada umumnya.

- Stefan: Meyakinkan sekaligus mengejutkan. Usaha Stefan menunjukkan masalah-masalah Rendy untuk mendekati Dee mulai halaman 158 membuat pembaca bisa menebak. Kalau seseorang mulai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, pasti dia punya masalah. Namun, mengingat Dee masih remaja, wajar saja kalau Dee tak tahu itu. Teenlit stuff.


Jadi Kesimpulannya…

Terlepas dari faktor plot ala sinetron serta dramatisasi versus kehidupan nyata yang sudah diuraikan di atas, saya berpendapat kisah ini patut dibaca semua wanita yang mayoritasnya terwakili sosok Dee ini.

Para pria yang ingin mengintip pemikiran dan perasaan wanita dan mendapat contoh cara menyikapi mindset gadis (khususnya remaja) serta gaya hidup mereka silakan membacanya. Menarik juga sekali-sekali mencoba memahami wanita lewat sudut pandang kaum hawa.

Sekali lagi saya tekankan bahwa ini novel teenlit, yang ditulis oleh remaja (yang pada tahun 2010 adalah mahasiswi). “Honey Money” adalah hiburan ringan yang berbalut drama romantis. Tanpa bermaksud jadi ambisius, filosofis bahkan fenomenal seperti Twilight Saga-nya Stephanie Meyer. Terbitnya cetakan kelima per Januari 2012 cukup jadi bukti bahwa teenlit yang satu ini layak dikoleksi dan dibaca berulang-ulang.

Sukses untuk Debbie. Akhir kata, no honey, no bee (apa coba?).


Untuk tahu lebih banyak dan mendapatkan Teenlit Honey Money, silakan kunjungi toko-toko buku terdekat. Referensi lainnya dapat disimak di Goodreads.com http://www.goodreads.com/book/show/8080595-honey-money

Popular Posts