Showing posts with label shortstories. Show all posts
Showing posts with label shortstories. Show all posts

Monday, June 27, 2011

Kisah Tanpa Revisi Berjudul : Aku Harus Bertindak! | Kemudian.com

Link

Kisah Tanpa Revisi Berjudul : Aku Harus Bertindak!

            Harus terus berlari.

          Atau.

          Mati.

           

Batang pohon melesat, darah pekat muncrat.

Satu lagi selamat dari sesat dunia bejat.

Ahaha, tidak tidak aku bukan penyelamat.

Hanya remaja laknat dengan tanggung jawab yang begitu berat dan sama sekali tidak nikmat.

Sungguh, karenanya, diri ini telah bersimbah nanah oleh fitnah.

Membuatku muak dan sesak.

Tidak bisa berhenti.

Mati tidak bisa berhenti.

Sampai kiamat.

 Sampai kiamat.

 Sampai kiamat.

 Sampai kiamat.

 Sampai kiamat.

 Sampai kiamat. 

Tidak. Masih ada lagi. Tidak hanya kiamat.

Bertelanjang kaki Dia berpijak pada salju merah kehitaman.

(baca kelanjutannya di link)

Karya: smith61

Monday, May 09, 2011

Fantasy Fiesta 2011 - REOG | Kemudian.com

Link

Suatu malam, remang-remang lampu mewarnai ruang tengah rumah kos murah di gang sempit di selatan Kota Jakarta, dekat Depok.  

            Di sana, suara celoteh anak-anak kos yang duduk-duduk di ruangan itu bagai dengungan selaksa lebah, dan satu-satunya suara yang cukup jelas terdengar adalah suara penyiar berita di televisi.

            “Topeng Reog, pusaka bersejarah yang dipercaya adalah topeng asli tokoh dalam legenda Reog Ponorogo hilang dicuri dari Museum Nasional pagi tadi. Pihak museum menyatakan, lemari kacanya pecah berantakan tapi tak ada penjaga yang terluka...”

            “Hei, Bondan! Ini nih, makanan lo! Lo lagi meneliti tentang Reog Ponorogo, kan?” seru seorang pemuda bertampang kumal sambil menengok ke belakang.

            “Mana, mana?”

            Dengan semangat, pemuda yang dipanggil “Bondan” itu mengalihkan pandangan dari netbook-nya ke arah televisi, rambutnya yang panjang dan gimbal melambai, terbawa gerakan tubuh kurusnya.

            Wajah topeng yang terpampang di layar televisi adalah sebuah mata tunggal berwarna hijau, besar sekali, bulat sempurna dengan ukiran-ukiran seperti urat-urat nadi hitam yang menonjol di sekitarnya, beralas warna hijau yang lebih tua.

            Lalu citra televisi beralih pada seorang wanita yang sedang sibuk membubuhkan sesuatu di pecahan kaca lemari – mencari petunjuk lewat sidik jari dan semacamnya.

            Melihatnya, tanpa sadar bibir Bondan berucap, “Gile, cantik sekali...”

            Si kawan kumal menjitak kepalanya, “Wah, lo ini, lihat yang cantik langsung suka!”

            “Duuh! Sakit, tahu! Kayak lo kagak aja, Tono! Tapi gawat bener, nih! Topeng Reog dicuri, ini sama aja bencana budaya!”

“Apa maksud lo, Bon?” Tono pasang wajah bingung. “Memangnya ada topeng di tari Reog? Selain Barongannya, bukankah wajah para penarinya hanya dicat saja?”

            “Bener itu, Ton. Makanya penemuan Topeng Reog bikin geger, karena gak ada di legendanya. Asumsi gue, topeng itu milik satu Warok – Pendekar Angin Hitam terkuat bernama Reog yang misterius dan dirahasiakan keberadaannya.”

            “Lho, kenapa dirahasiakan?” Tono melongo.

            “Entahlah, itulah yang sedang gue coba selidiki sampai sekarang.”

            “Wah, lo emang asli maniak Reog, Bon. Ya udah, gue ngantuk, mau mimpi dulu...” Tono bangkit meninggalkan ruang itu.

              Bondan kembali mengalihkan perhatian ke netbook-nya, mencari berita topeng pusaka itu dengan berselancar di internet. Iseng, ia mengecek e-mail. Ada pesan baru.

            Pengirimnya bernama Ragil. Bondan menatap curiga, jangan-jangan ini SPAM, hoax atau worm. Tapi saat membaca judulnya, “Topeng”, rasa ingin tahu mendorongnya mengklik e-mail ini dan membaca isinya.

            To: Bondan Prasetyo,

            Kenalkan, saya Ragil, ingin bertemu dan bertanya tentang Topeng Reog. Ini urusan resmi. Ini nomor ponsel saya, temui saya besok jam 12 siang di alamat di bawah ini. Jangan sampai terlambat.

            Si pemuda ceking-gimbal ternganga lebih lebar. “Urusan resmi” ini rupanya lebih aneh daripada berita di televisi tadi.

 (Baca selengkapnya di link)


Fantasy Fiesta 2011 - REOG | Kemudian.com

Link

Suatu malam, remang-remang lampu mewarnai ruang tengah rumah kos murah di gang sempit di selatan Kota Jakarta, dekat Depok.  

            Di sana, suara celoteh anak-anak kos yang duduk-duduk di ruangan itu bagai dengungan selaksa lebah, dan satu-satunya suara yang cukup jelas terdengar adalah suara penyiar berita di televisi.

            “Topeng Reog, pusaka bersejarah yang dipercaya adalah topeng asli tokoh dalam legenda Reog Ponorogo hilang dicuri dari Museum Nasional pagi tadi. Pihak museum menyatakan, lemari kacanya pecah berantakan tapi tak ada penjaga yang terluka...”

            “Hei, Bondan! Ini nih, makanan lo! Lo lagi meneliti tentang Reog Ponorogo, kan?” seru seorang pemuda bertampang kumal sambil menengok ke belakang.

            “Mana, mana?”

            Dengan semangat, pemuda yang dipanggil “Bondan” itu mengalihkan pandangan dari netbook-nya ke arah televisi, rambutnya yang panjang dan gimbal melambai, terbawa gerakan tubuh kurusnya.

            Wajah topeng yang terpampang di layar televisi adalah sebuah mata tunggal berwarna hijau, besar sekali, bulat sempurna dengan ukiran-ukiran seperti urat-urat nadi hitam yang menonjol di sekitarnya, beralas warna hijau yang lebih tua.

            Lalu citra televisi beralih pada seorang wanita yang sedang sibuk membubuhkan sesuatu di pecahan kaca lemari – mencari petunjuk lewat sidik jari dan semacamnya.

            Melihatnya, tanpa sadar bibir Bondan berucap, “Gile, cantik sekali...”

            Si kawan kumal menjitak kepalanya, “Wah, lo ini, lihat yang cantik langsung suka!”

            “Duuh! Sakit, tahu! Kayak lo kagak aja, Tono! Tapi gawat bener, nih! Topeng Reog dicuri, ini sama aja bencana budaya!”

“Apa maksud lo, Bon?” Tono pasang wajah bingung. “Memangnya ada topeng di tari Reog? Selain Barongannya, bukankah wajah para penarinya hanya dicat saja?”

            “Bener itu, Ton. Makanya penemuan Topeng Reog bikin geger, karena gak ada di legendanya. Asumsi gue, topeng itu milik satu Warok – Pendekar Angin Hitam terkuat bernama Reog yang misterius dan dirahasiakan keberadaannya.”

            “Lho, kenapa dirahasiakan?” Tono melongo.

            “Entahlah, itulah yang sedang gue coba selidiki sampai sekarang.”

            “Wah, lo emang asli maniak Reog, Bon. Ya udah, gue ngantuk, mau mimpi dulu...” Tono bangkit meninggalkan ruang itu.

              Bondan kembali mengalihkan perhatian ke netbook-nya, mencari berita topeng pusaka itu dengan berselancar di internet. Iseng, ia mengecek e-mail. Ada pesan baru.

            Pengirimnya bernama Ragil. Bondan menatap curiga, jangan-jangan ini SPAM, hoax atau worm. Tapi saat membaca judulnya, “Topeng”, rasa ingin tahu mendorongnya mengklik e-mail ini dan membaca isinya.

            To: Bondan Prasetyo,

            Kenalkan, saya Ragil, ingin bertemu dan bertanya tentang Topeng Reog. Ini urusan resmi. Ini nomor ponsel saya, temui saya besok jam 12 siang di alamat di bawah ini. Jangan sampai terlambat.

            Si pemuda ceking-gimbal ternganga lebih lebar. “Urusan resmi” ini rupanya lebih aneh daripada berita di televisi tadi.

 (Baca selengkapnya di link)


Wednesday, July 09, 2008

[Fantasy Worlds Indonesia] Seratus Hari

Seratus hari sudah kami terkepung di sini.
Seratus hari sudah kami tak bissa menutup mata. Takut, sekali mata tertutup, tertutup selamanya.
Rasa lapar menyiksaku. Namun, yang membuatku bagaikan di neraka adalah erangan anak-anak dan ratapan mereka yang baru jadi janda, yang kehilangan anggota keluarga dan kehilangan kekasih. Kota hancur lebur, hasil tembakan ketapel raksasa dan ballistae musuh.
Pasukan musuh terlalu kuat. Kapankah bala-bantuan datang? Kami hanya bisa bertahan di sini. Menang? Mustahil. Menyerah? Berarti mati. Musuh hanya ingin menghancurkan kami, bukan menjajah.
Ah, aku tak tahan lagi. Kuberanikan diriku. Kuajukan diriku pergi keluar kota mencari bala bantuan. Dan di sinilah aku, menyamar sebagai musuh, hanya menyandang pedang di punggung. Perutku sedikit terisi, dan di tanganku terisi harapan dan nasib seluruh penduduk kota.
Aku berhasil menembus kepungan musuh tanpa dikenali. Dengan sisa tenagaku, aku terus berjalan, kadang berlari. Petunjuk dari kota: Pasukan bala-bantuan sedang menuju kemari. Waktu sangat mendesak, aku harus cepat, tak boleh berhenti.
Kuikuti jalurnya terus, tapi aku terhenyak menyaksikan pemandangan ini. Pasukan bala-bantuan telah terbantai habis. Ngeri aku, meledaklah tangis. Harapan kotaku sudah habis. Hancur, lebur, berakhir tragis.
Tapi tidak, masih ada yang bisa kulakukan. Kupakai lagi seragam serdadu musuh yang gugur itu. Kembali ke kota, menyusup di antara para pengepung. Berbagai rencana beredar dalam otakku.
Pertama-tama, kuhampiri tenda perbekalan musuh. Kusulut api, kebakaran, kekacauan terjadi. Pura-pura sibuk memadamkan, menunggu kesempatan terbaik.
Dan datanglah dia, Sang Komandan musuh. Ialah yang seratus hari lalu menantang perang dan membunuh pahlawan kami. Kini, dalam kekacauan, tanpa zirahnya ia adalah sasaran empuk.
Hanya satu kesempatan. Satu saat. Satu kali coba.
Kuambil yang satu itu. Kuhunus pedangku, dan kuhampiri orang itu secepat kilat. Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, kepalanya menggelilnding di tanah. Terpenggal.
Puas sudah aku. Ini prestasi terbesar dalam hidupku. Tampak jelas aku takkan sempat membuat prestasi yang lebih besar lagi saat semua prajurit musuh mengepungku. Rapat. Menutup semua jalan lariku.
Ya, aku tahu. Inilah akhir perjalananku. Tak satupun kusesalkan tindakanku. Kuayunkan pedangku tanpa jeda, sampai tak bertenaga lagi tanganku, sampai titik darah penghabisanku.
Itulah yang terjadi, Sang Penguasa Akhirat. Aku tak tahu apakah kotaku terselamatkan berkat pengorbananku ini. Entah apakah musuh mundur, kehilangan pemimpin, kehilangan semangat tempur. Yang pasti, aku puas bisa menyumbangkan sesuatu bagi negeriku dan membayarnya dengan nyawaku.
Seratus hari sudah, dan aku takkan pernah lapar lagi.

Andry Chang
www.fireheart.tk


--

Posted By vadis to Fantasy Worlds Indonesia at 7/09/2008 01:30:00 AM

Tuesday, August 28, 2007

Cerpen Online!

http://cerpenonline.multiply.com/
A Multiply website for Indonesian Short Stories and Aspiring Writers.

Selamat datang di Cerpen Online, silahkan menyalurkan bakat menulis anda, bisa berupa cerpen, cerber, puisi dll.

Silahkan Joint Group untuk bisa melihat seluruh cerpen yang ada.

My YM ID : freya_aurell

Popular Posts