Showing posts with label fantasy. Show all posts
Showing posts with label fantasy. Show all posts

Saturday, March 17, 2012

Monday, November 28, 2011

Vadis StripGenerator Comic Strips Volume 2




Generated with Stripgenerator.com. All made by vadis.
Those not made by vadis will be stored in a different gallery.

Featuring:
- MonsterBane - Fantasy monster hunting
- Rosta Masta! - A laugh at modern life

Thursday, July 14, 2011

Crazy About Dream Avatar!




Yup, we are surely crazy about Gaia Online Dream Avatar by Tektek.org.
Check out our creations here:

Andry Chang (vadis)':
Aria of Bloodshed: Reog & Barong
FireHeart / Everna: Dar'gum, Carolyn etc.

Ther Melian by Shienny
Mattao (Short Story: The Boy & The Shapeshifter)
Akkadia by R.D. Villam
and many more incoming!

Saturday, April 09, 2011

Shin Suikoden 1

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: History
Author:Eiji Yoshikawa
(Review in Indonesian Language)

Karena saya sudah punya banyak novel karya Eiji Yoshikawa yaitu "Taiko" dan "Musashi", why not buy & read it?

Mengingat saya baca "Batas Air" / "Shui Hu Zhuan" dan nonton filmnya pula, buku ini bagaikan "do or die", wajib dibaca apalagi saya yang notabene penggemar berat Historical Epic.



Setelah selesai dibaca sekaligus dibandingkan dengan graphic novel "Tepi Air" terbitan Elex Media Komputindo, kesimpulan saya adalah cerita novel yang klasik - salah satu roman klasik terbesar di dunia ini oleh Eiji Yoshikawa berhasil dibuat lebih dramatis untuk ukuran novel dan cukup akurat dibanding versi komiknya, ditambah prolog dan beberapa detail yang menambah nilai keseruan cerita. Bagi saya yang sudah terbiasa "menggambarkan" cerita dalam benak sendiri dari kata-kata, gaya bercerita Eiji ini amat-sangat membantu, sekaligus meninggalkan kesan mendalam pada tokoh2 108 Bandit Liang Shan Bo (Ryou Zan Paku) seperti halnya Toyotomi Hideyoshi di Taiko dan Miyamoto Musashi. Eiji does it again!



Satu catatan, mengenai naming sudah jadi pakem pengarang Jepang untuk melafalkan aksara Tionghoa menurut lafal mereka sendiri. Contohnya:

Shi Jin => Shi Shin

Lu Zhi Shen => Ro Chi Shin

Yang Zhi => You Shi

Liu Tang => Ryu Tou

Lin Chong => Rin Chu

Chao Gai => Chou Gai

Tentu saja ini bukanlah masalah dan sangat dimaklumi dan sering ditemui pada karya pengarang2 Jepang yang mengambil setting Tionghoa, seperti Sam Kok (Roman Tiga Negara), Komik Kung Fu Boy dll.



Dan di versi terjemahan ini, saya ingin memberi catatan untuk Jonjon Johana yang sedikit memasukkan istilah-istilah Jawa seperti "tembong" (tanda lahir, bercak, belang) yang memang istilah Bahasa Indonesia bakunya agak kurang "deskriptif". Sedikit membuka-buka kamus cukup membantu, apalagi kalau kamusnya bisa "diandalkan". Good job!



Senang sekali, saya mendapatkan harta yang berkali-kali lipat lebih berharga daripada uang yang telah saya keluarkan untuk membeli buku ini. Terima kasih, Eiji, dan saya tunggu Shin Suikoden Buku II yang pasti akan lebih seru lagi (dengan kemunculan Wu Song si Pembunuh Harimau dan sang pemimpin, Song Jiang, tentunya).



Polling: Siapakah jagoan favoritmu dari 108 Pendekar Bintang Pengacau?

(Berdasarkan Buku 1 Shin Suikoden)

a. Ro Chi Shin si Pendeta Bunga

b. Shi Shin si Sembilan Naga

c. You Shi si Iblis Berwajah Biru

d. Rin Chu si Kepala Macan Kumbang

e. Cendekiawan Go (Wu Yong)

f. Lainnya (Chou Gai, Kou Son Shou, Gen Bersaudara, Ryu Tou)



View all my reviews

Detail buku ini:
Shin Suikoden 1 (Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air)
by Eiji Yoshikawa, Jonjon Johana (Translator), Lulu Fitri Rahman (Editor)
Shin Suikoden 1 (Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air)

Sinopsis:
Shin Suikoden Buku I

Shi Shin, pemuda dengan rajah sembilan naga di tubuhnya, ahli tongkat yang meski mudah emosi, namun sangat menghargai pertalian antarlelaki sejati.

Ro Chi Shin si Pendeta Bunga, mantan polisi militer dengan tubuh dan sikap bagaikan raksasa kasar, namun berhati lembut laksana bunga musim semi yang dirajah indah menakjubkan di punggungnya.

Cendekiawan Go, guru kuil di desa yang tersohor ketajaman akal dan kepiawaiannya dalam membuat strategi .

Jalan hidup mereka beserta para pengemban tugas bintang lain, yang semua berjumlah 108, bersinggungan di masa penuh kegelapan Dinasti Sou. Meski harus menempuh jalur di luar hukum yang berlaku, para bandit budiman titisan 108 Bintang ini akan melakukan perubahan besar.

-----------------------------------------------------

Suikoden atau yang biasa kita kenal dengan Kisah Batas Air dan 108 Pendekar merupakan karya besar klasik Cina. Kisah ini sudah berkali-kali diadaptasi ulang ke dalam bentuk layar lebar, layar kaca, video games, maupun manga.

Shin Suikoden adalah salah satu karya besar Eiji Yoshikawa sang maestro cerita petualangan. Karya ini merupakan penulisan ulang yang menjanjikan intrik-intrik baru kisah Suikoden. Ditulis oleh penulis kawakan dan diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang oleh Jonjon Johana, Shin Suikoden Buku 1 ini akan membawa kita ke dalam jalinan cerita yang seru dan memikat, dalam perjalanan hidup para pendekar untuk meresapi pesan moral di baliknya.

Friday, March 11, 2011

FireHeart Fan Art Gallery 1




Fan Art for FireHeart Project by Andry Chang
www.fireheart.tk

Including Artworks by: vanseven, dyingman08, tonyx rockwell

Thursday, December 30, 2010

Xar & Vichattan II - Prahara

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Bonmedo Tambunan
REVIEW NOVEL
XAR & VICHATTAN – Seri Ahli Waris Cahaya
Buku II: Prahara
Karya: Bonmedo Tambunan

Oleh: Andry Chang (www.vadis.tk)

Perjalanan Sang Musafir terus berlanjut. Selain berkutat di dunia fantasi magis ciptaannya sendiri, kadangkala timbul keinginannya untuk meninjau dunia-dunia lain, ciptaan para “pengkhayal” lainnya.

Syahdan, saat ia mendengar adanya petualangan lanjutan baru di ranah Xar & Vichattan, untuk kedua kalinya berpindahlah Sang Musafir di negeri yang kali ini dilanda prahara besar.

Tempat yang pertama kali dikunjunginya di dunia ini tentunya adalah Kuil Cahaya yang telah dibangun kembali, dan orang-orang yang pertamakali ditemui Sang Musafir tentu saja keempat tokoh utama, empat remaja para Ahli Waris Cahaya: Dalrin, Antessa, Kara dan Gerome. Tentu saja keberadaan Sang Musafir ini tak diketahui siapapun di dunia itu – disadaripun tidak.


Gerome

Kali ini, para anggota “The Dream Team” ini bekerja sendiri-sendiri dengan alasan yang jelas. Selain terdesak waktu, tujuan utama mereka adalah menggagalkan usaha Khalash dan antek-antek Kuil Kegelapan menguasai seluruh dunia dan menghancurkan Kuil Cahaya lagi.

Jadilah Sang Musafir ikut serta dalam perjalanan “roller coaster”: Terbang bersama Antessa dan para peri, tenggelam dalam tumpukan buku dan terjebak di dunia lain bersama Kara yang berpengetahuan luas, merenung bersama Dalrin yang berjuang dalam konflik dan kedukaan dalam dirinya sendiri dan menjaga Desa Galad bersama Gerome, si pemberani yang bandel, “comic relief” dalam serial ini.

Walaupun sempat sukses dibuat penasaran dan agak lelah harus “berpindah-pindah tempat” di saat-saat kritis – seperti yang dialaminya pula dalam XV1, harus diakui, Sang Musafir sempat merasa tak ingin istirahat dan kembali dulu ke dunia asalnya sebelum tiba di ujung perjalanan keempat tokoh ini. Hasilnya: Prahara tak dapat ditolak, keunggulan tak dapat diraih. Kuil Xar bahkan sampai “hancur-hancuran”.

Logika Sang Musafirpun terusik. Ini bukan karena salah taktik, tapi semata-mata karena Kuil Kegelapan mendapat pendukung-pendukung baru yang kuat yaitu Diagoni dan Peri Kegelapan, Frigus Acerbus. para Ahli Waris yang belum matang benar dari segi kekuatan dan mentalitas, dan pendeknya pihak Kuil Kegelapan memang lebih kuat dari Xar maupun Vichattan.

Dalam perjalanan selanjutnya, Sang Musafir bertemu satu tokoh yang sangat menarik: Lisbet, seorang wanita tua yang “gila tapi tak gila, dan tak gila tapi gila”. Bagaimana bisa si tiarawati gila ini jadi kunci keselamatan Xar dan Vichattan? Inilah yang menurut Sang Musafir adalah salah satu daya tarik utama Buku II: Prahara ini.

Perjalanan Sang Musafir kali ini memang meriah, diwarnai dengan cinta, kecemburuan, pengkhianatan, balas dendam dan konflik-konflik pribadi antara Gerome dan Shiba, Petra dan Corbus, juga antara Kara, Antessa dan Dalrin, dan ditutup dengan finale yaitu pertempuran sihir yang tak terlalu mendetail tapi cukup epik di Kuil Cahaya antara para Ahli Waris Cahaya dan dua pelindungnya Amor si angsa raksasa dan Pietas si rusa raksasa melawan pasukan Kuil Kegelapan di bawah pimpinan Khalash.


Dalrin

Di akhir tahapan perjalanan yang seharusnya tuntas tapi rupanya menyisakan potensi ancaman baru yang lebih parah ini, setelah kembali ke dunia asalnya Sang Musafir terus mengingat beberapa kesan – yang tak tahan lagi akhirnya dituliskannya dalam bentuk review:

1. Banyak nama tokoh dari kalangan Xar dan Vichattan yang disebut, tapi mereka mendapat porsi peran yang lebih sedikit daripada di buku pertama Takhta Cahaya, seakan mereka hanyalah pemanis atau bahkan figuran. Tentunya ini bukan masalah karena sesedikit apapun peran mereka, itu peran yang penting agar cerita jadi terkesan lebih alami.

2. Kehadiran Khalash yang disebut-sebut sebagai Pangeran Kegelapan terkesan terlalu singkat di bab-bab akhir. Hanya sekali ia benar-benar turun tangan dan pada akhirnya ia “khalash” total. Ia terkesan terlalu gegabah untuk ukuran “The Ultimate Bad Guy”. Kalau saja ia mengindahkan peringatan Nolacerta dan Frigus, ceritanya pasti akan beda. Satu hikmah yang bisa diambil dari Khalash adalah keangkuhan dan sikap ultra-superioritas seseorang pada akhirnya akan menjatuhkan orang itu sendiri.

3. Menurut Sang Musafir, dunia X&V dalam peta yang tergambar apik di halaman depan nampak sangat sederhana: Satu kota, dua desa, hutan, gunung, gua, Laut Misty, tiga kuil, walaupun ada tambahan satu dunia baru dalam dimensi kegelapan: Vesmir. Sang Musafir lebih memilih “berasumsi” tempat-tempat yang tercantum dalam peta hanyalah yang berhubungan langsung dengan cerita, dan tempat-tempat “tersembuyi” lainnya akan ditambahkan seiring perkembangan cerita.

4. Plot-plot, taktik, intrik yang digunakan dan bahkan jalannya tiap pertempuran disampaikan dengan singkat, padat dan jelas – sederhana tapi cerdas, bisa diterima logika. Anak-anak setingkat SD mungkin akan mudah mencerna cerita ini, dan kalangan dewasa-muda akan menikmatinya. Sang Musafir yang adalah penggemar berat game-game role-playing (RPG) juga menilai kisah ini cukup “RPGlicious” dan “Mangalicious”. Bisa saja suatu hari nanti ada yang akan menawarkan untuk membuat X&V versi game dan manga pada penulis yang biasa dipanggil “Boni” ini.

Kesimpulannya, satu hal yang perlu diingat, bukalah pikiran, mainkan khayalan, buanglah segala mindset yang memperhitungkan faktor klise dan faktor kesederhanaan struktur dunia yang “sedaun kelor” ini. Nikmatilah perjalanannya, dan seperti halnya Sang Musafir, pembaca akan mendapatkan pengalaman yang mengasyikkan dan mengesankan pula, seperti menikmati masakan lezat ala kuliner, satu lagi racikan dari the Chef of Fantasy, Bonmedo Tambunan – compliments to the chef.

Sukses untuk Boni, dan Sang Musafir menunggu dengan sabar (dan penasaran) Xar & Vichattan Buku III. “Xar... Vichattan... Cahaya... Tunggu kedatanganku!” ucap sang Pangeran Kegelapan.

-------------


Kara

Sinopsis: Tiba-tiba di tempat asing itu sebuah suara bisikan terdengar, suara wanita tua yang asing
di telinga Kara. “Kara,” suara itu memanggil namanya. Itu bukan suara Antessa dan bukan pula Petra, suara ini terdengar jauh lebih tua. “Si … siapa?” jawab Kara dalam hati. “Ini aku, Kara, Lisbet.” Kara tidak yakin ia mendengar dengan benar suara itu. Ia berfikir bahwa itu hanya sebuah halusinasi. Namun, ternyata suara itu tidak hanya didengar oleh Kara seorang diri. Antessa pun dapat merasakannya.
“Di manakah kami, Lisbet?” ucap Kara. “Kalian berada di atas lempeng besar. Sebuah lempeng yang berbeda dari lempeng yang lain,” ujar Lisbet. Seketika Kara dan Antessa dibuat bingung dengan perkataan Lisbet mengenai lempeng tersebut.

***


Antessa

Pasukan Kuil Kegelapan terus bergerak maju. Xar, Vichattan, dan Kuil Cahaya kebingungan
menghadapi pasukan Kegelapan yang kian bertambah kuat. Munculnya peri kegelapan yang
meluluhlantahkan para peri pendukung cahaya dan terpecah belahnya keempat ahli waris
cahaya semakin memperburuk keadaan. Belum lagi dengan semakin melemahnya kekuatan elemental dan juga kekuatan Xar karena ulah Khalash serta panglima-panglimanya. Keadaan begitu buruk sehingga para pendukung cahaya harus menggantungkan hidup mereka pada seorang wanita gila dan buku-buku kuno yang dilindungi oleh ilmu sihir mematikan. Titik terang pun muncul, tetapi tak berlangsung lama. Karena tak seorangpun mengira rencana kegelapan yang sebenarnya.


Untuk keterangan lebih lanjut tentang novel ini dan terbitan Adhika Pustaka lainnya, kunjungi:
Penerbit Adhika Pustaka
http://www.adhika-pustaka.com/

Valharald - Kesatria Talismandala & Pertempuran di Vincha

Rating:★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Adi Toha
Review Novel

VALHARALD – Kesatria Talismandala & Pertempuran di Vincha

Karya: Adi Toha (http://jalaindra.wordpress.com)

Penerbit: Diva Press (www.divapress-online.com)

Paperback, 411 Halaman, Diterbitkan 20 April 2010


Reviewer: Andry Chang (www.vadis.tk)
------------------------------------------------------------

Valharald – A Knight in Shining Armor?

Kembali dalam rangkaian marathon antardunia, kali ini Sang Musafir berkunjung ke – sebutlah ini – Dunia Tak Bernama, ke Negeri VarchLand yang indah.

Karena media “perpindahan ke dunia lain” ini adalah buku, tentunya “kunci penarik” pertama adalah sampul bukunya. Kesan pertama yang didapat Sang Musafir adalah tokoh utama novel ini adalah “a knight in shining armor”, ksatria berzirah besi yang namanya terkesan seperti plesetan dari “Valhalla”.

Tata sampul khas Gobaqsodor yang artistik, “Cinemalicious” dan “real-life images tambal-sulam” memang jadi nilai jual tersendiri, tetapi jangan sampai ini menjadi pisau bermata dua dengan mengurangi “spirit” dari cerita ini sehingga terkesan “menyesatkan” para calon musafir tentang figur Valharald yang adalah judul besar cerita yang pada dasarnya seharusnya ditampilkan di cover. Atau, bila nanti mau membuat cetakan kedua, diusulkan pada cover ditampilkan keduabelas lambang yang mewakili para ksatria dan Mahkota Liafala di tengah-tengahnya – no less, no more.

Satu hal yang membuat “idealistic senses” Sang Musafir “gemetar” adalah endorsement pada cover yang mungkin adalah salah satu trik marketing dengan memberi “janji jaminan mutu” untuk menarik pembaca umum dari kalangan mainstream, sama seperti prinsip: “kecap saya dijamin nomor satu!” Yah, untunglah isinya cukup memberikan kesan bagus, menghibur, exciting dan feel good, walaupun tidak sampai “gemetar”. Mungkin – Sang Musafir setuju dengan istilah reviewer lain – lebih tepatnya “tergetar”.

Oke, terlepas dari yang di-endorsed, kita kembali pada prinsip marketing lainnya, “yang penting rasanya, bung!” yang dalam konteks ini adalah CERITAnya.

Tema utama cerita yang di-ekstrak Sang Musafir adalah perang antara kebaikan dan kejahatan, dimana pihak kejahatan dengan jumlah pasukan yang lebih besar hanya bisa diimbangi oleh – tentunya – kekuatan “lebih” yang bernama “pahlawan”.

Sekali lagi, dalam cerita yang satu ini Sang Musafir mengabaikan segala unsur klise dan pakem-pakem Tolkienisme yang rupanya cukup kental terasa – Kenapa? Mungkin karena beliau merasa “senasib” dengan penulis novel ini. Jadi, sekembalinya dari pertempuran hebat di Vincha ada beberapa kesan yang didapatnya sudah cukup untuk membuatnya rela menyisihkan waktu membedah dan membuat review dan fan sketch-nya. Berikut uraiannya.

1. Alur cerita ini melibatkan banyak flashback yang polanya adalah di mana tempat pemilihan, siapa yang terpilih, apa buktinya, kapan ia terpilih, dan mengapa terpilih. Jadi inti plotnya adalah proses pemilihan 12 Ksatria Talismandala dan pertempuran di Vincha sebagai finale-nya – sederhana, standar dan tak ada kejutan yang benar-benar ekstrim.

2. Setiap calon ksatria punya konflik dan pertarungannya sendiri, dan ini membuat prosesnya jadi lebih menarik ala karya klasik Tiongkok “Tepi Air” (Water Margin). Satu hal, terlalu banyak “kebetulan” yang terjadi di sini. Mungkin bila fungsi “kunci kalung segitiga” lebih diaktifkan sebagai “alat pelacak” untuk mencari saudara-saudaranya dan bereaksi bila dekat, faktor kebetulan itu bisa setidaknya dikurangi.

3. Pemikiran “purist” Sang Musafir sedikit terusik oleh penggunaan nama Cuchulainn yang ciri-ciri fisiknya hingga rambutnyapun mirip dengan versi asalnya, seorang pahlawan legendaris Irlandia setara Sigurd & Beowulf. http://fireheart-vadis.blogspot.com/2010/07/cuchulainn.html. Ini bisa dimaklumi karena nama-nama seperti Percival, Sigurd, Fafnir dll sering muncul di cerita beda dalam novel-novel dan game-game. Mungkin Adi Toha sangat terinspirasi oleh karakter pemberani legendaris ini dan ingin “menghidupkannya” kembali dalam dunia dan cerita yang berbeda, dan akhirnya kita coba cerna dengan pemikiran “mungkin saja ada 2 orang dan benda yang bernama dan berciri-ciri sama, apalagi di dunia yang beda.”

4. Nama “Talismandala” sendiri, walaupun menurut Sang Musafir mungkin berasal dari kata “Talisman” dan “Mandala” yang berarti “Ksatria Suci Dewata”, terkesan aneh sendiri di antara sederetan nama-nama bernafaskan high fantasy ala Eropa Abad Pertengahan. Sekali lagi perlu sedikit toleransi dengan menganggap nama ini punya arti mendalam bagi si penulis, yang mengandung unsur “semangat” dan “jiwa” cerita ini. Mungkin terkesan inkonsisten, tapi juga idealisme yang kental.

5. Ada baiknya selain Zwehly ditambahkan pula beberapa “Pahlawan Kegelapan” dari ras orcus atau semacamnya, jadi walaupun pihak kebaikan harus kalah, setidaknya mereka kalah dengan lebih “terhormat”, bukan semata-mata kalah jumlah saja.

6. Bumbu-bumbunya yang berunsur diantaranya pengkhianatan, intrik, perpecahan, penderitaan, cinta dan konflik terasa kurang ekstrim dan terkesan “dikurangi kadarnya”. Mungkin karena tekanan budaya Indonesia-kah? Maklumlah, batas antara “ekstrim” dan “wajar” memang setipis kertas, dan itu juga yang jadi dilema setiap penulis novel-novel laga termasuk Sang Musafir sendiri.

7. Teka-teki Sphinx yang terdapat dalam buku ini adalah hak cipta Sphinx. Harus dimaklumi, memang tidak mudah membuat “riddle” unik yang bisa diingat orang (Contoh: Sphinx dalam “Harry Potter and the Goblet of Fire”), jadi kadang jalan pintasnya adalah “meminjam” dari yang sudah ada. Maklum, Sang Musafir juga kadang suka “meminjam” dengan menyertakan penjelasan yang (harap saja) masuk akal.

Dalam petualangannya ini Sang Musafir juga bertemu dengan beberapa tokoh lain yang cukup berkesan baginya:

1. Einar, seorang pangeran yang berusaha menekan ambisinya untuk menyatukan seluruh kerajaan di Dataran Tak Bernama demi tujuan yang lebih mulia.

2. Eira: Mungkin ia adalah Ksatria Talismandala yang paling misterius. Selamatnya dia selama ini dari “tangan-tangan jahil” mungkin ada hubungannya dengan semacam kekuatan misterius yang mengerikan dalam dirinya, bukan hanya berkat lindungan Yang Kuasa saja. Bila dikembangkan lebih lanjut, Eira bisa digambarkan sebagai gadis yang punya sedikit gangguan mental dan sifat aneh, dan dengan twist yang tidak terduga bisa jadi dialah yang jadi sasaran Zwehly yang sebenarnya.

3. Nimrodir: Tokoh yang sangat versatile, serba bisa, satu-satunya Ksatria Talismandala generasi pertama yang masih hidup. Bersama Draach si pelindung, dia adalah tokoh terkuat dalam episode ini, tapi diduga dia akan jadi salah satu yang “expendable” – yang akan dimatikan oleh salah satu Ksatria Talismandala yang berkhianat (mirip-mirip “Togira Ikonoka”-nya Eragon di “Brisingr”?)

4. Cymrodor: Satu lagi tokoh yang terkesan “expendable”, sudah diduga dari awal. Formasi 12 ksatria yang asli terkesan “disayang-sayang”, jadi Cymrodor-lah yang terkesan “dikorbankan”. Andai saja bukan dia, tapi Urias, Fionn atau anggota lain yang tewas dan dia jadi tokoh pengganti yang menjadikan formasi jadi “tidak terlalu sempurna”, itu akan jadi tambahan kejutan yang menambah nilai keasyikan cerita ini.

Di akhir segala akhir, Sang Musafir menutup buku portal Dunia Tak Bernama ini dengan tersenyum, disertai harapan bilamana nanti ia berkunjung kedua kalinya, Sang Musafir akan menemukan legenda yang lebih epik dan berwarna meriah.

“Kebijaksanaan, keberanian, kesetiaan, ketekunan, kasih sayang, ketabahan, pengampunan, keteguhan, keadilan, belas kasihan, kepercayaan dan kejujuran. Dan semuanya itu bersatu, memancarkan kebaikan demi dunia, demi cinta kasih dan demi kehidupan itu sendiri.”

Friday, April 16, 2010

jin vs lightning




jin from tekken the movie vs lightning from final fantasy xiii
why did i compare those two? the answer is: they might show up in www.kickassinc.tk

source for jin & tekken the movie:
http://annikarei.wordpress.com/2009/02/12/tekken-movie-2009-the-cast-and-characters/

Thursday, December 17, 2009

James Cameron's Avatar (2009)

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Synopsis:
(Source: http://www.imdb.com/title/tt0499549)
The story's protagonist, Jake Sully (Sam Worthington), is a former Marine who was wounded in combat on Earth and paralyzed from the waist down. He is selected to participate in the Avatar program, which will enable him to walk again. Jake travels to Pandora, a lush jungle-covered extraterrestrial moon filled with incredible life forms, some beautiful, many terrifying. Pandora is also home to the Navi, a sentient humanoid race that is physically stronger than humans, although considered primitive. Standing three meters tall, with tails and sparkling blue skin, the Navi live in harmony with their unspoiled world. As humans encroach deeper into Pandora's forests in search of valuable minerals, the Navi unleash formidable warrior abilities to defend their threatened existence. Jake has unwittingly been recruited to become part of this experiment. Since humans are unable to breathe the air on Pandora, they have created genetically-bred human-Navi hybrids known as "Avatars" . The Avatars are living, breathing bodies that are controlled by a human "driver" through a technology that links the driver's mind to the Avatar body. On Pandora, through his Avatar body, Jake can walk . He is sent deep into Pandora's jungles as a scout for the soldiers who will follow, and encounters many of Pandora's beauties and dangers. He also meets a young Navi female, Neytiri, whose beauty is matched only by her ferocity in battle. Over time, Jake integrates himself into Neytiri's clan, and begins to fall in love with her. As a result, Jake finds himself caught between the military-industrial forces of Earth, and the Navi, forcing him to choose sides in an epic battle that will decide the fate of an entire world. [ jshelleh196 ]

vadis' review:
A perfect blend, a classic combination between Science Fiction and Fantasy that inspires and indulges. A must see! A treasure worth watching. Believable logic, touching story plot and extreme graphic effects makes the four years of making a real masterpiece, a breakthrough in movie industry.

I don't know who inspires who, but the theme is similar to "The Battle of Terra", and the Na'vi is somewhat similar to Getamped game's mutant (fighter type). Nonetheless, it's worth queueing all day and more!

Saturday, March 07, 2009

Fireheart Paladins - The Game!




Prologue Chapter:
SHADE OF THE MOON

For the revised version of
FIREHEART - LEGEND OF THE PALADINS
Book One: The Bounty Hunters

Game Intro Version for the NovelBlog and RPG Game

Source:
http://www.youtube.com/watch?v=ybzapVnOyms

Thursday, October 23, 2008

Eorlingas: The Indonesian Tolkien Society

http://eorlingas.multiply.com/
Suilad,
This is the site of Eorlingas: The Indonesian Tolkien Society. A site where Tolkien/Lord of The Rings enthusiasts from all over Indonesia unite. Here, you can talk about anything related to Tolkien/LOTR without bothering those "normal" people :-). You can quench your thirst for anything Tolkien. You can also join our mailing list indo-LOTR at Yahoo. Just follow this link: http://groups.yahoo.com/group/indo-LOTR/
Forth Eorlingas!!!

Popular Posts