Showing posts with label vadisreviews. Show all posts
Showing posts with label vadisreviews. Show all posts

Sunday, September 28, 2014

VadisReview: Oda Nobunaga - Sohachi Yamaoka

Oda Nobunaga
VadisReview by Andry Chang
Oda Nobunaga, Sang Penakluk dari Owari
Penulis: 

Up, Close and Personal With the Devil King

Bagaimana bila seekor burung tak mau bernyanyi?
Nobunaga berkata, “Bunuh burung itu!”
Hideyoshi berkata, “Buat burung itu ingin bernyanyi.”
Ieyasu berkata, “Tunggu.”

Sebelum membaca serial “Oda Nobunaga” ini, Sang Musafir menyelami sejarah Jepang di “Zaman Sengoku” lewat tokoh Toyotomi Hideyoshi dalam serial “Taiko” (Eiji Yoshikawa – terbitan Gramedia Pustaka Utama). Dalam kanon karya Sohachi Yamaoka ini beliau diajak berfokus pada Oda Nobunaga, salah seorang dari tiga penakluk yang disebut dalam anekdot di atas.

Dalam novel roman yang terdiri dari lima seri ini, karakter Oda Nobunaga yang unik, aneh namun jenius dan sangat berani dijabarkan secara amat detail dan bertahap. Buku pertama memahas transformasi Oda Nobunaga dari “Si Bodoh Besar” menjadi pemimpin yang gagah, atau lebih tepatnya dari “masa persiapan” ke “masa pengukuhan”. Di buku kedua, dalam “masa pengukuhan” itu Nobunaga mendapat ujian maha berat. Di buku ketiga ia memasuki “masa ekspansi” dan hasilnya adalah dimulainya “masa kejayaan”. Sang Musafir belum membaca buku 4 dan 5, jadi berdasarkan sinopsis, di buku 4 Nobunaga makin menunjukkan “sisi kejamnya”, tak pandang bulu bahkan pada kerabatnya sendiri. Dan di buku 5 adalah tentang hasil-hasil akhir yang dituai Nobunaga dari sepak-terjangnya itu, segala akibat yang menimpanya hingga akhir hayatnya.


Jadi, dari buku pertama sampai ketiga, Sang Musafir mempelajari dan menangkap beberapa ciri penting kepribadian Oda Nobunaga ini, di antaranya:

Sikap Mendobrak Tradisi dan Aturan-Aturan Baku
Sikap dan tindak-tanduk Nobu yang kasar dan urakan mengundang kontroversi dan kesalahpahaman dari orang-orang di sekitarnya yang menjunjung tata-krama Samurai (Bushido). Mereka tak mengerti bahwa kadang untuk mencapai kemajuan, kita perlu berpikir lebih jauh daripada tata-krama yang kaku. Tentunya, pengetahuan dan bakat juga penting, kalau tidak yang urakan akan tetap jadi urakan. Perhatikan juga tokoh Hachisuka Hikoemon dalam serial ini. Ia juga bergaya urakan, namun kapasitasnya masih di bawah Nobunaga. Sementara Nobunaga melakukannya dalam rangka “masa persiapan” untuk mencapai prestasi-prestasi legendaris.

Pemikiran “Out-of-the-Box”
Saat dihadapkan pada situasi di mana fakta, logika dan angka-angka tak berpihak padanya, Nobunaga menggunakan pengetahuan dari gaya hidup “urakan”-nya untuk menciptakan strategi unik nan kreatif. Contoh nyata, saat menghadapi Imagawa Yoshimoto yang memiliki pasukan 10 kali lipat lebih banyak, Nobunaga menggunakan cara yang tak biasa, yaitu memanfaatkan samurai kampung, serangan mendadak saat musuh lengah, juga memanfaatkan kelemahan dalam jasmani, mental, sikap dan sifat musuh. Dibantu Hashiba Hideyoshi (Kinoshita Tokichiro), ide-ide out-of-the-box makin banyak saja lahir dari Klan Oda dan membuka jalan menuju penaklukkan seluruh Jepang.

Berani Mengambil Kesempatan Beresiko Besar
Seperti layaknya seseorang memilih investasi di zaman modern, Nobunaga adalah tipe “penggemar resiko”. Ia berani bertaruh segalanya demi mendapatkan hasil maksimal, yaitu menguasai seluruh Jepang. Padahal bila ia sekali saja salah langkah dan gagal, resikonya adalah kehilangan kepalanya sendiri dan seluruh Klan Oda musnah. Contoh nyatanya adalah kampanye Oda menaklukkan Mino dan daerah-daerah yang dekat ke Kyoto. Bila gagal, nasibnya bakal sama atau lebih parah daripada Imagawa Yoshimoto.

Mampu Mengenali Karakter Orang Lain
Sepanjang serial ini, tak terhitung berapa kali Oda Nobunaga berhadapan dengan hampir segala macam sifat manusia. Namun dasar kepribadiannya yang kolerik membentuk pola sikap yang cenderung sama. Nobunaga cenderung mau berteman akrab dengan orang-orang “berpikiran maju” dan berkepribadian cocok dengannya. Orang-orang berbakat namun pemikirannya standard dan biasa-biasa saja ia manfaatkan. Namun Nobunaga cenderung kurang menghargai orang-orang berpikiran picik. Ia kurang tenggang rasa dan toleransi, akibatnya menumpuk dendam dan dengki di hati orang-orang picik itu.

Contohnya, Nobunaga berteman akrab dengan Hideyoshi yang pemikirannya sama-sama “out of the box” dengannya. Juga akrab dengan mereka yang berwatak tenang namun tajam seperti Tokugawa (Matsudaira) Ieyasu. Nobunaga cukup memanfaatkan orang-orang berbakat dan berwatak dan berpola pikir “biasa” seperti Shibata Katsuie dll sebagai bawahan. Namun ia cenderung sinis dan kurang menghargai orang-orang picik, penjilat dan sok tahu, macam Akechi Mitsuhide yang suka menonjolkan kejeniusannya demi mendapatkan kehormatan pribadi. Tanpa disadari Nobunaga, bibit-bibit dengki yang ditanamkannya dalam diri orang-orang picik itu akan memicu bencana besar di kemudian hari.

Kesimpulannya, walaupun Oda Nobunaga dipandang sejarah dan orang-orang di zamannya sebagai “Si Raja Iblis”, disamakan dengan Cao Cao dalam roman Tiongkok “Kisah Tiga Kerajaan”, Sang Musafir menganggap tokoh controversial ini termasuk yang paling menarik untuk digali, dipelajari kepribadiannya secara mendalam. Memang banyak aspek lain kepribadian Sang Penakluk dari Owari ini yang tak dijabarkan dalam review ini, yang bertebaran dalam serial ini seperti hamparan bunga sakura.

Dan harus diakui, selain “Taiko”, serial “Oda Nobunaga” ini layak jadi sumber inspirasi dan pedoman pola pikir bagi semua pembaca, tak hanya penggemar novel sejarah atau novel setting Jepang Kuno saja. Bila ada kesempatan, Sang Musafir akan membuat posting tentang istilah-istilah yang sering digunakan novel-novel berlatar Jepang dan Tiongkok Kuno. Selebihnya, silakan dibaca dan selamat terinspirasi.


Sunday, September 14, 2014

VadisReview: Rahasia Hujan - Adham T. Fusama





VadisReview by Andry Chang

Rahasia Hujan
Penulis: Adham T. Fusama
Genre: Novel Teenlit-Thriller
Penerbit: Moka Media (www.mokamedia.net), 2014

Format: Paperback, 272 halaman, 12,7 x 19 cm
Penyunting: J. Fisca
Penata Letak: Indarto Widhi Putranto & J. Fisca
Pendesain Sampul: Fahmi Fauzi
ISBN: 979-795-857-4

Sinopsis:
Sekolah Pandu kedatangan murid baru dari Jepang, seorang anak pendiam yang misterius. Sebagai teman sebangku, Pandu merasa harus bersikap ramah, meski Anggi—si murid baru—terus bersikap dingin.

Pada akhirnya, kebaikan hati Pandu membuat Anggi jatuh cinta. Tapi Pandu sudah punya pacar—seorang gadis cantik bernama Nadine. Ketika rasa sayang Anggi berubah menjadi obsesi berbahaya, Pandu dan teman-temannya terseret ke dalam sebuah permainan mengerikan.

Dan, Pandu harus bertaruh nyawa demi kebebasannya.

"Sebab demi bersamamu, akan kulakukan segalanya…."

***

“Meski menggunakan bahasa yang ringan khas remaja, kegelisahan dan ketegangan di novel ini dibangun dengan elegan hingga mencapai klimaksnya. Novel yang cocok bagi penggemar cerita remaja dan suspense-thriller.”
—Muhamad Rivai (@rivaimuhamad), penulis antologi Setelah Gelap Datang dan salah satu penulis antologi Cerita Horor Kota.

“Jalinan kisahnya di luar dugaan! Apa yang semula manis berubah mencekam lewat klimaksnya yang dibangun secara perlahan namun matang.”
—Paulus Lulut Yunar Ladiarsa(@Loe2Tea), Deputy Editor Cinemags Magazine.

“Jangan baca di malam hari apalagi saat sendirian. Dan, berhati-hatilah dengan temanmu sendiri!”
—Langit Amaravati(@LangitAmaravati), Cyberpsycholog & Selected Writer Ubud Writers and Readers 2013.

Rahasia si Penghenti Hujan
Entah kapan dan di mana, saya pernah membaca bahwa psikopat adalah orang yang melakukan dosa atau kesalahan, namun sama sekali tak merasa berdosa atau bersalah. Di tingkat paling ekstrim, dosa yang ia lakukan itu bisa jadi pembunuhan, bahkan pembantaian sadis dan berantai. Suara nurani bahkan tak ia pedulikan lagi. Dan semua itu dilakukan dengan entengnya seolah-olah sedang berjalan-jalan di taman. 

Bedakan dengan fanatisme ekstrim, yang menghalalkan segala cara demi meraih “kebenaran tertinggi”. Salah satu pemicu perilaku psikopat ini adalah obsesi yang berlebihan, sedangkan akar penyebab semua itu cukup beragam. 

Dalam novel thriller “Rahasia Hujan” ini, Adham T. Fusama sebagai penulis menunjukkan salah satu contoh perilaku psikopat yang cukup realistis, bahkan cenderung “umum”. Di permukaan, si psikopat tampak amat normal dan cenderung “cool”. Baik pembaca maupun para tokoh lain dalam kisah ini, termasuk Pandu, si tokoh utama dibuat sama sekali tak menduga, tak rela dan tak percaya bahwa tokoh Anggi, siswi pindahan dari Jepang itu psikopat. Padahal, sejak melihat cover depan di awal dan membaca sinopsis di cover belakang, pembaca sudah menduga ada yang “tak beres” dengan Anggi. 

Saat plot digali lebih dalam, bab demi bab, sedikit demi sedikit mulai terkuak misteri di balik tokoh Anggi, si “gadis biasa” itu. Lambat tapi pasti, sisi-sisi positif diperkenalkan, yaitu “gadis cantik yang cerdas” – “banyak bakat kecuali olahraga” sampai “memiliki gaya hidup impian tiap remaja”. Namun, juga ada sisi-sisi negatif yang agak “menjurus”, yaitu kegemaran Anggi menggambar, menonton film horor dan thriller. Mungkin jelas salah satu tokoh yang paling ia sukai adalah salah satu psikopat juara sepanjang zaman, yaitu Hannibal Lecter dari film “Silence of the Lambs”. 

Pertama kali saya lihat teru-teru bozu, dikenalkan bro Ikkyu San.

Iseng tebak-tebak buah manggis, mungkin ide awal Adham muncul saat mengamati sosok boneka teru-teru bozu, boneka takhayul dari Jepang yang selalu digantung di bagian “leher”-nya (en.wikipedia.org/wiki/Teru_teru_bozu). Setelah bertanya-tanya mengapa demikian dan melakukan survei secukupnya, muncullah ide untuk mengkombinasikannya dengan nuansa thriller. Sebenarnya, cukup mengekspos teru-teru bozu saja semua pembaca sudah cukup dibuat penasaran seberapa jauh tindakan psikopatik Anggi nantinya. Mungkin juga “petunjuk-petunjuk menjurus psikopat” lain sengaja ditambahkan untuk memancing kecurigaan salah seorang tokoh, yaitu Mamet, yang salah memahami perilaku psikopat sebagai sesuatu yang tampak jelas dari luar. 

Dari plot yang nampaknya biasa-biasa saja, seperti teenlit atau sinetron percintaan remaja, secara bertahap, setingkat demi setingkat plot menanjak menjadi prankster (mengerjai orang) hingga mencapai klimaksnya, yaitu thriller, “permainan mengerikan” yang amat mengejutkan, mendadak dan menghentak. Mungkin sebagian pembaca merasa kurang nyaman dengan penguraian bertahap yang terkesan lamban. Beberapa interaksi dalam tiap bab terkesan “numpang lewat”, padahal memuat fakta penting tentang hubungan setiap tokohnya. Juga berhubungan erat dengan apakah itu akan memicu tindakan psikopatik atau tidak, semacam tarik-ulur saat memancing ikan.

Yang jelas, saya sendiri merasa Adham sebagai penulis menggunakan semacam teknik untuk “menyihir” pembaca, menguji kesabaran mereka yang mencari thriller dalam sisipan teenlit padahal itu adalah klimaks, lalu ditutup dengan beberapa bab kesimpulan untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan perubahan yang terjadi akibat thriller itu. 

Tentunya rangakaian “teka-teki” semacam Kotak Pandora atau Rubik itu perlu pula disimak. Para protagonis jelas telah melakukan usaha untuk mencegah “thriller” terjadi, namun si antagonis yang rupanya telah mempersiapkan segalanya dengan matang keburu bertindak. “Kengerian” terjadilah, jadi tinggal satu hal yang bisa dilakukan Pandu, si protagonis utama, yaitu “bertaruh nyawa demi kebabasannya,” dan perlu saya tambahkan, dengan cara menghentikan si antagonis. Caranya secara rinci? Silakan anda ungkap sendiri dengan membeli dan membaca novel ini. 

Dari segi karakter, pendalaman karakter Anggi, pengembangan karakter Pandu dan perubahan cukup dramatis pada diri karakter Mamet dan banyak lainnya akibat “Rahasia Hujan” ini patut disimak. Namun, saya sendiri juga berhasil dibuat berpikir, apa harus, apa perlu ada kejadian ekstrim dan orang-orang yang berperilaku ekstrim supaya terjadi perubahan yang signifikan dalam masyarakat? Kenyataannya, kesadaran masyarakat umumnya tak timbul dengan sendirinya. Bahkan, walau terjadi satu-dua kejadian ekstrim, begitu “gaung”-nya menghilang, masyarakat kembali lupa dan berbalik lagi melakuan kesalahan-kesalahan lama yang sama. 

Pendalaman agama dan pemberian kasih sayang yang disajikan sebagai sesuatu yang menyenangkan, menarik dan menggairahkan secara berkesinambungan bisa jadi solusi untuk membawa perubahan positif dalam budaya masyarakat, dan harap saja, jadi vaksin yang mencegah pola pikir psikopat. 

Kesimpulannya, salut untuk Adham yang cukup berhasil “menyihir” pembaca lewat karya thriller berselubung teenlit ini. Sedikit saran, mungkin plotnya bisa “diperhalus” dengan menghilangkan atau mengganti petunjuk-petunjuk yang terlalu “menjurus”. Contohnya, mengganti gambar-gambar seram dengan gambar orang, benda atau tempat yang melulu diguyur hujan. Juga, untuk “mengelabui” calon pembeli, diberikan kontradiksi antara desain cover teru-teru bozu di tengah hujan yang digantung di atas pohon, tanpa efek darah, warna cover cerah atau bernuansa biru dengan tetap mencantumkan “Sebuah Novel Thriller” di atasnya. 


Akhir kata, melengkapi nuansa takhayul Jepang di novel bersetting Indonesia ini, biarkanlah saya menembang,

Teru-teru bozu, teru bozu
Buatlah esok hari yang cerah
Seperti langit di mimpi
Jika besok cerah, aku akan memberikan bel emas

Tapi bila tidak, biarlah kau terus tergantung di sana, menurunkan hujan darah. 

***

Keterangan lebih lanjut tentang novel ini serta review-review lainnya dapat disimak di link Goodreads.com ini: http://www.goodreads.com/book/show/22715934-rahasia-hujan

Monday, July 16, 2012

Pengumuman Lomba Resensi Honey Money - Gramedia Penerbit Buku Utama

Tautan

erima kasih buat semua yang udah ikutan Lomba Resensi Novel Honey Money...

Setelah penilaian, maka dua resensi terbaik & terpopuler yang terpilih sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah iPod shuffle dari Gramedia Pustaka Utama dan Debbie adalah:

1. Andry Chang vadisworld.blogspot.com/2012/03/no-money-no-honey.html
2. Erison Lie www.goodreads.com/review/show/222788541

Selamat kepada para pemenang :) Oh iya, untuk pemenang yang berdomisili di wilayah Jabodetabek, hadiahnya langsung diambil di:

Ibu Ade // Maketing Comm. Division GoBP Kompas Gramedia
Gedung Kompas Gramedia - Penerbitan Tower II, lantai 3
Jl. Palmerah Barat 29-37, Jakarta 10270
(sebelah Pasar Palmerah)

dengan membawa identitas asli & fotokopinya. Sedangkan untuk pemenang yang berdomisili di luar wilayah Jabodetabek, hadiah akan dikirimkan.

Sekali lagi selamat ya... :D


xoxo,
Debbie Widjaja

penulis novel Honey Money


(for my own archive)


Sunday, March 18, 2012

Honey Money

Rating:★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:Debbie
HONEY MONEY

Penulis: Debbie


Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit: April 2010 (cetakan pertama).

Jumlah halaman: 248

ISBN13: 9789792257090

URL: http://gramedia.com/buku_detail.asp?id=KDWL1241&jenis=3&kat=#

Genre: Fiksi, Drama, Romance, Teenlit (Drama Remaja)

Desain dan ilustrasi sampul: yustisea_satyalim

Ilustrasi dalam: Sandra Puspita Kusuma



Sinopsis:

"Gue mau cari cowok tajir!"

Bosan pacaran bertahun-tahun dengan cowok yang sederhana (baca: gak punya mobil), Dee bertekad untuk mencari cowok kaya. Rasanya mimpi jadi kenyataan saat ia berjumpa dengan Rendy. Wuihh, dia Edward Cullen versi Jakarta! Tinggi, keren, romantis, dan pastinya tajir dong! Dunia terasa berwarna-warni saat Dee bersama Rendy, secerah bunga matahari dan jutaan balon gas yang menerbangkannya seperti rumah di film UP!. Segalanya sempurna---sampai meninggalnya ibu tiri Rendy menguak kebenaran. Semua angan dan cinta yang telah dibangun terasa palsu.

Apakah lebih baik Dee belajar menyayangi Stefan, tetangga sekaligus sahabatnya sejak kecil? Bagaimana dengan rahasia besar keluarga Dee yang tersingkap tiga minggu sebelum ulang tahun ketujuh belasnya?





No Money, No Honey!

Review oleh Andry Chang



No money, no woman

No woman, no cry

No money, no cry, melainkan no dong…



Sebagai cowok, terus terang saya bukan termasuk penikmat utama novel chicklit. Seorang teman baik menyarankan cerita ini untuk saya baca dan perhatikan. Semula saya agak enggan, skeptis dan beralasan, "Ah, paling-paling tak beda dengan sinetron TV." Apalagi temanya, tentang seorang cewek yang naksir cowok karena keren dan tajir. Bukankah itu biasa dan alami untuk cewek2 bergaya hidup "gaul" hari gini? Gak hanya cewek, bahkan cowokpun ada kecenderungan untuk matre.

Di awal-awal cerita, plot berkutat seputar rayu-merayu, bertukar kata-kata romantis nan indah, gue-naksir-ini-itu, curhat sana-sini dan pilih-pilih cowok seperti pilih-pilih baju di kapstok butik mal. Oke, terus terang kalau mau menyebut selera, saya seperti makan ubi, makanan yang saya gak suka dan porsinya lumayan banyak. Yah, maklumlah pria punya selera.

Namun, setelah saya coba simak sampai bab-bab akhir, ada satu hal yang menarik, yang membuat saya bertanya-tanya dan penasaran. Bagaimana jika seorang cowok tajir kehilangan ketajirannya? Akankah si cewek tetap cinta pada cowok itu?

Jawaban yang saya temukan ternyata adalah pesan yang tersirat dari teman saya itu. Gak semua cewek cantik itu matre. Contohnya Dee. Dia menganut "matre-isme" mungkin karena gaya hidup dan keinginan untuk have fun sebagai anak SMA. Namun pengalaman hidup mengajarkan padanya bahwa cinta yang mengutamakan kekuatan finansial bukanlah cinta sejati.

Seorang cewek matre yang "bertobat" mungkin adalah kabar keberuntungan bagi pasangannya. Namun wahai kaum Adam, jangan lantas terlena. Masih ada kekuatan yang wajib ada dalam diri makhluk cowok yaitu tanggung jawab, daya juang dan kemampuan untuk jadi mapan – cukup untuk membina keluarga di zaman serba modern dan serba mahal ini. Dan wanita, seperti yang saya kutip dari "Men From Mars, Women From Venus" menuntut perhatian dan kasih sayang seperti tumbuhan butuh air. Berjuanglah, wahai kaumku!



Yang Penting Ceritanya, Bung!

Oke, kembali pada plot. Ada sedikit hal yang mengganjal saya dalam mencerna hikmah “Honey Money” ini. Harus diakui, adanya “rahasia besar keluarga Dee” menambah nilai dramatisasi cerita. Bahkan cerita Mama Dee di awal Bab 15, halaman 228 bisa jadi sesuatu yang inspiratif, memotivasi pria untuk tetap ulet, berinovasi dan terus berjuang.

Namun, hal itu malah membuat logika saya terusik. Oke, taruhlah itu yang terjadi dalam cerita ini. Bagus untuk mereka, ada insan yang beruntung bertemu orang yang akhirnya memahami cinta sejati. Pas buat menghibur pembaca karena toh ini novel teenlit. Sebaliknya, bilamana ingin digali lebih dalam sebagai bahan renungan untuk mengubah mindset muda-mudi zaman sekarang, timbul satu pertanyaan.

Bagaimana jika “rahasia besar” itu tak ada? Andai saja, saat prahara sedang memuncak muncullah seorang cowok lain, bukan Stefan. Taruhlah namanya Alay Silebay. Dia memenuhi segala kriteria Dee plus tulus dan baik hati, benar-benar tak bermasalah. Bisa jadi, dengan mindset Dee yang sekarang, secara alami, 75% hati Dee akan tertambat pada Mr. Alay. Atau kemungkinan kedua, 15% akan diterpa dilema besar apakah akan memilih Rendy, Stefan atau Alay Silebay. Andai akhirnya Dee memilih Rendy, itu baru “keajaiban” besar yang perlu disertai penjelasan yang meyakinkan. Terkesan oleh daya juang dan “kapasitas untuk mapan” Rendy, mungkin?



Para Pemantik Kesan

Selain pada cerita, saya juga mendapat kesan dari para tokoh yang ber-“honey-money” ria di sana. Di antaranya:

- Saya paling bersimpati pada Elbert, tokoh cowok “level angkot” yang putus dengan Dee gara-gara gak punya mobil. Yang bikin salut adalah sikap dia yang “so what? It hurts, but life must go on. Pasti ada wanita yang cukup oke di Jakarta ini yang suka ‘cowok angkot’ macam gue.”

- Tokoh Prita Dee di awal cerita jelas tipikal cewek remaja dengan gaya hidup kelas menengah-atas dengan pilihan produk yang berkelas pula. Buktinya: Mascara Maybelline, Eyeliner Face Shop, Parfum Dior untuk makeover (ilustrasi di halaman 16). Gejolak perasaan Dee saat tahu orang yang penting bagi dirinya tidak ada dalam sesuatu yang sangat penting bagi seorang gadis 17 tahun, serta harapan yang hancur cukup membangun simpati pada mereka yang ingin memahami perasaan gadis belia pada umumnya.

- Rendy: Membuktikan dirinya punya kemampuan untuk mapan, bukan hanya tajir karena uang orangtua. Penderitaanlah yang memacunya ke arah sana. Tokoh Rendy dan Elbert ini bisa jadi teladan bagi cowok pada umumnya.

- Stefan: Meyakinkan sekaligus mengejutkan. Usaha Stefan menunjukkan masalah-masalah Rendy untuk mendekati Dee mulai halaman 158 membuat pembaca bisa menebak. Kalau seseorang mulai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, pasti dia punya masalah. Namun, mengingat Dee masih remaja, wajar saja kalau Dee tak tahu itu. Teenlit stuff.



Jadi Kesimpulannya…

Terlepas dari faktor plot ala sinetron serta dramatisasi versus kehidupan nyata yang sudah diuraikan di atas, saya berpendapat kisah ini patut dibaca semua wanita yang mayoritasnya terwakili sosok Dee ini.

Para pria yang ingin mengintip pemikiran dan perasaan wanita dan mendapat contoh cara menyikapi mindset gadis (khususnya remaja) serta gaya hidup mereka silakan membacanya. Menarik juga sekali-sekali mencoba memahami wanita lewat sudut pandang kaum hawa.

Sekali lagi saya tekankan bahwa ini novel teenlit, yang ditulis oleh remaja (yang pada tahun 2010 adalah mahasiswi). “Honey Money” adalah hiburan ringan yang berbalut drama romantis. Tanpa bermaksud jadi ambisius, filosofis bahkan fenomenal seperti Twilight Saga-nya Stephanie Meyer. Terbitnya cetakan kelima per Januari 2012 cukup jadi bukti bahwa teenlit yang satu ini layak dikoleksi dan dibaca berulang-ulang.

Sukses untuk Debbie. Akhir kata, no honey, no bee (apa coba?).



Untuk tahu lebih banyak dan mendapatkan Teenlit Honey Money, silakan kunjungi toko-toko buku terdekat. Referensi lainnya dapat disimak di Goodreads.com http://www.goodreads.com/book/show/8080595-honey-money

Popular Posts