Showing posts with label novelsreview. Show all posts
Showing posts with label novelsreview. Show all posts

Saturday, April 09, 2011

Shin Suikoden 1

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: History
Author:Eiji Yoshikawa
(Review in Indonesian Language)

Karena saya sudah punya banyak novel karya Eiji Yoshikawa yaitu "Taiko" dan "Musashi", why not buy & read it?

Mengingat saya baca "Batas Air" / "Shui Hu Zhuan" dan nonton filmnya pula, buku ini bagaikan "do or die", wajib dibaca apalagi saya yang notabene penggemar berat Historical Epic.



Setelah selesai dibaca sekaligus dibandingkan dengan graphic novel "Tepi Air" terbitan Elex Media Komputindo, kesimpulan saya adalah cerita novel yang klasik - salah satu roman klasik terbesar di dunia ini oleh Eiji Yoshikawa berhasil dibuat lebih dramatis untuk ukuran novel dan cukup akurat dibanding versi komiknya, ditambah prolog dan beberapa detail yang menambah nilai keseruan cerita. Bagi saya yang sudah terbiasa "menggambarkan" cerita dalam benak sendiri dari kata-kata, gaya bercerita Eiji ini amat-sangat membantu, sekaligus meninggalkan kesan mendalam pada tokoh2 108 Bandit Liang Shan Bo (Ryou Zan Paku) seperti halnya Toyotomi Hideyoshi di Taiko dan Miyamoto Musashi. Eiji does it again!



Satu catatan, mengenai naming sudah jadi pakem pengarang Jepang untuk melafalkan aksara Tionghoa menurut lafal mereka sendiri. Contohnya:

Shi Jin => Shi Shin

Lu Zhi Shen => Ro Chi Shin

Yang Zhi => You Shi

Liu Tang => Ryu Tou

Lin Chong => Rin Chu

Chao Gai => Chou Gai

Tentu saja ini bukanlah masalah dan sangat dimaklumi dan sering ditemui pada karya pengarang2 Jepang yang mengambil setting Tionghoa, seperti Sam Kok (Roman Tiga Negara), Komik Kung Fu Boy dll.



Dan di versi terjemahan ini, saya ingin memberi catatan untuk Jonjon Johana yang sedikit memasukkan istilah-istilah Jawa seperti "tembong" (tanda lahir, bercak, belang) yang memang istilah Bahasa Indonesia bakunya agak kurang "deskriptif". Sedikit membuka-buka kamus cukup membantu, apalagi kalau kamusnya bisa "diandalkan". Good job!



Senang sekali, saya mendapatkan harta yang berkali-kali lipat lebih berharga daripada uang yang telah saya keluarkan untuk membeli buku ini. Terima kasih, Eiji, dan saya tunggu Shin Suikoden Buku II yang pasti akan lebih seru lagi (dengan kemunculan Wu Song si Pembunuh Harimau dan sang pemimpin, Song Jiang, tentunya).



Polling: Siapakah jagoan favoritmu dari 108 Pendekar Bintang Pengacau?

(Berdasarkan Buku 1 Shin Suikoden)

a. Ro Chi Shin si Pendeta Bunga

b. Shi Shin si Sembilan Naga

c. You Shi si Iblis Berwajah Biru

d. Rin Chu si Kepala Macan Kumbang

e. Cendekiawan Go (Wu Yong)

f. Lainnya (Chou Gai, Kou Son Shou, Gen Bersaudara, Ryu Tou)



View all my reviews

Detail buku ini:
Shin Suikoden 1 (Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air)
by Eiji Yoshikawa, Jonjon Johana (Translator), Lulu Fitri Rahman (Editor)
Shin Suikoden 1 (Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air)

Sinopsis:
Shin Suikoden Buku I

Shi Shin, pemuda dengan rajah sembilan naga di tubuhnya, ahli tongkat yang meski mudah emosi, namun sangat menghargai pertalian antarlelaki sejati.

Ro Chi Shin si Pendeta Bunga, mantan polisi militer dengan tubuh dan sikap bagaikan raksasa kasar, namun berhati lembut laksana bunga musim semi yang dirajah indah menakjubkan di punggungnya.

Cendekiawan Go, guru kuil di desa yang tersohor ketajaman akal dan kepiawaiannya dalam membuat strategi .

Jalan hidup mereka beserta para pengemban tugas bintang lain, yang semua berjumlah 108, bersinggungan di masa penuh kegelapan Dinasti Sou. Meski harus menempuh jalur di luar hukum yang berlaku, para bandit budiman titisan 108 Bintang ini akan melakukan perubahan besar.

-----------------------------------------------------

Suikoden atau yang biasa kita kenal dengan Kisah Batas Air dan 108 Pendekar merupakan karya besar klasik Cina. Kisah ini sudah berkali-kali diadaptasi ulang ke dalam bentuk layar lebar, layar kaca, video games, maupun manga.

Shin Suikoden adalah salah satu karya besar Eiji Yoshikawa sang maestro cerita petualangan. Karya ini merupakan penulisan ulang yang menjanjikan intrik-intrik baru kisah Suikoden. Ditulis oleh penulis kawakan dan diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang oleh Jonjon Johana, Shin Suikoden Buku 1 ini akan membawa kita ke dalam jalinan cerita yang seru dan memikat, dalam perjalanan hidup para pendekar untuk meresapi pesan moral di baliknya.

Thursday, December 30, 2010

Xar & Vichattan II - Prahara

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Bonmedo Tambunan
REVIEW NOVEL
XAR & VICHATTAN – Seri Ahli Waris Cahaya
Buku II: Prahara
Karya: Bonmedo Tambunan

Oleh: Andry Chang (www.vadis.tk)

Perjalanan Sang Musafir terus berlanjut. Selain berkutat di dunia fantasi magis ciptaannya sendiri, kadangkala timbul keinginannya untuk meninjau dunia-dunia lain, ciptaan para “pengkhayal” lainnya.

Syahdan, saat ia mendengar adanya petualangan lanjutan baru di ranah Xar & Vichattan, untuk kedua kalinya berpindahlah Sang Musafir di negeri yang kali ini dilanda prahara besar.

Tempat yang pertama kali dikunjunginya di dunia ini tentunya adalah Kuil Cahaya yang telah dibangun kembali, dan orang-orang yang pertamakali ditemui Sang Musafir tentu saja keempat tokoh utama, empat remaja para Ahli Waris Cahaya: Dalrin, Antessa, Kara dan Gerome. Tentu saja keberadaan Sang Musafir ini tak diketahui siapapun di dunia itu – disadaripun tidak.


Gerome

Kali ini, para anggota “The Dream Team” ini bekerja sendiri-sendiri dengan alasan yang jelas. Selain terdesak waktu, tujuan utama mereka adalah menggagalkan usaha Khalash dan antek-antek Kuil Kegelapan menguasai seluruh dunia dan menghancurkan Kuil Cahaya lagi.

Jadilah Sang Musafir ikut serta dalam perjalanan “roller coaster”: Terbang bersama Antessa dan para peri, tenggelam dalam tumpukan buku dan terjebak di dunia lain bersama Kara yang berpengetahuan luas, merenung bersama Dalrin yang berjuang dalam konflik dan kedukaan dalam dirinya sendiri dan menjaga Desa Galad bersama Gerome, si pemberani yang bandel, “comic relief” dalam serial ini.

Walaupun sempat sukses dibuat penasaran dan agak lelah harus “berpindah-pindah tempat” di saat-saat kritis – seperti yang dialaminya pula dalam XV1, harus diakui, Sang Musafir sempat merasa tak ingin istirahat dan kembali dulu ke dunia asalnya sebelum tiba di ujung perjalanan keempat tokoh ini. Hasilnya: Prahara tak dapat ditolak, keunggulan tak dapat diraih. Kuil Xar bahkan sampai “hancur-hancuran”.

Logika Sang Musafirpun terusik. Ini bukan karena salah taktik, tapi semata-mata karena Kuil Kegelapan mendapat pendukung-pendukung baru yang kuat yaitu Diagoni dan Peri Kegelapan, Frigus Acerbus. para Ahli Waris yang belum matang benar dari segi kekuatan dan mentalitas, dan pendeknya pihak Kuil Kegelapan memang lebih kuat dari Xar maupun Vichattan.

Dalam perjalanan selanjutnya, Sang Musafir bertemu satu tokoh yang sangat menarik: Lisbet, seorang wanita tua yang “gila tapi tak gila, dan tak gila tapi gila”. Bagaimana bisa si tiarawati gila ini jadi kunci keselamatan Xar dan Vichattan? Inilah yang menurut Sang Musafir adalah salah satu daya tarik utama Buku II: Prahara ini.

Perjalanan Sang Musafir kali ini memang meriah, diwarnai dengan cinta, kecemburuan, pengkhianatan, balas dendam dan konflik-konflik pribadi antara Gerome dan Shiba, Petra dan Corbus, juga antara Kara, Antessa dan Dalrin, dan ditutup dengan finale yaitu pertempuran sihir yang tak terlalu mendetail tapi cukup epik di Kuil Cahaya antara para Ahli Waris Cahaya dan dua pelindungnya Amor si angsa raksasa dan Pietas si rusa raksasa melawan pasukan Kuil Kegelapan di bawah pimpinan Khalash.


Dalrin

Di akhir tahapan perjalanan yang seharusnya tuntas tapi rupanya menyisakan potensi ancaman baru yang lebih parah ini, setelah kembali ke dunia asalnya Sang Musafir terus mengingat beberapa kesan – yang tak tahan lagi akhirnya dituliskannya dalam bentuk review:

1. Banyak nama tokoh dari kalangan Xar dan Vichattan yang disebut, tapi mereka mendapat porsi peran yang lebih sedikit daripada di buku pertama Takhta Cahaya, seakan mereka hanyalah pemanis atau bahkan figuran. Tentunya ini bukan masalah karena sesedikit apapun peran mereka, itu peran yang penting agar cerita jadi terkesan lebih alami.

2. Kehadiran Khalash yang disebut-sebut sebagai Pangeran Kegelapan terkesan terlalu singkat di bab-bab akhir. Hanya sekali ia benar-benar turun tangan dan pada akhirnya ia “khalash” total. Ia terkesan terlalu gegabah untuk ukuran “The Ultimate Bad Guy”. Kalau saja ia mengindahkan peringatan Nolacerta dan Frigus, ceritanya pasti akan beda. Satu hikmah yang bisa diambil dari Khalash adalah keangkuhan dan sikap ultra-superioritas seseorang pada akhirnya akan menjatuhkan orang itu sendiri.

3. Menurut Sang Musafir, dunia X&V dalam peta yang tergambar apik di halaman depan nampak sangat sederhana: Satu kota, dua desa, hutan, gunung, gua, Laut Misty, tiga kuil, walaupun ada tambahan satu dunia baru dalam dimensi kegelapan: Vesmir. Sang Musafir lebih memilih “berasumsi” tempat-tempat yang tercantum dalam peta hanyalah yang berhubungan langsung dengan cerita, dan tempat-tempat “tersembuyi” lainnya akan ditambahkan seiring perkembangan cerita.

4. Plot-plot, taktik, intrik yang digunakan dan bahkan jalannya tiap pertempuran disampaikan dengan singkat, padat dan jelas – sederhana tapi cerdas, bisa diterima logika. Anak-anak setingkat SD mungkin akan mudah mencerna cerita ini, dan kalangan dewasa-muda akan menikmatinya. Sang Musafir yang adalah penggemar berat game-game role-playing (RPG) juga menilai kisah ini cukup “RPGlicious” dan “Mangalicious”. Bisa saja suatu hari nanti ada yang akan menawarkan untuk membuat X&V versi game dan manga pada penulis yang biasa dipanggil “Boni” ini.

Kesimpulannya, satu hal yang perlu diingat, bukalah pikiran, mainkan khayalan, buanglah segala mindset yang memperhitungkan faktor klise dan faktor kesederhanaan struktur dunia yang “sedaun kelor” ini. Nikmatilah perjalanannya, dan seperti halnya Sang Musafir, pembaca akan mendapatkan pengalaman yang mengasyikkan dan mengesankan pula, seperti menikmati masakan lezat ala kuliner, satu lagi racikan dari the Chef of Fantasy, Bonmedo Tambunan – compliments to the chef.

Sukses untuk Boni, dan Sang Musafir menunggu dengan sabar (dan penasaran) Xar & Vichattan Buku III. “Xar... Vichattan... Cahaya... Tunggu kedatanganku!” ucap sang Pangeran Kegelapan.

-------------


Kara

Sinopsis: Tiba-tiba di tempat asing itu sebuah suara bisikan terdengar, suara wanita tua yang asing
di telinga Kara. “Kara,” suara itu memanggil namanya. Itu bukan suara Antessa dan bukan pula Petra, suara ini terdengar jauh lebih tua. “Si … siapa?” jawab Kara dalam hati. “Ini aku, Kara, Lisbet.” Kara tidak yakin ia mendengar dengan benar suara itu. Ia berfikir bahwa itu hanya sebuah halusinasi. Namun, ternyata suara itu tidak hanya didengar oleh Kara seorang diri. Antessa pun dapat merasakannya.
“Di manakah kami, Lisbet?” ucap Kara. “Kalian berada di atas lempeng besar. Sebuah lempeng yang berbeda dari lempeng yang lain,” ujar Lisbet. Seketika Kara dan Antessa dibuat bingung dengan perkataan Lisbet mengenai lempeng tersebut.

***


Antessa

Pasukan Kuil Kegelapan terus bergerak maju. Xar, Vichattan, dan Kuil Cahaya kebingungan
menghadapi pasukan Kegelapan yang kian bertambah kuat. Munculnya peri kegelapan yang
meluluhlantahkan para peri pendukung cahaya dan terpecah belahnya keempat ahli waris
cahaya semakin memperburuk keadaan. Belum lagi dengan semakin melemahnya kekuatan elemental dan juga kekuatan Xar karena ulah Khalash serta panglima-panglimanya. Keadaan begitu buruk sehingga para pendukung cahaya harus menggantungkan hidup mereka pada seorang wanita gila dan buku-buku kuno yang dilindungi oleh ilmu sihir mematikan. Titik terang pun muncul, tetapi tak berlangsung lama. Karena tak seorangpun mengira rencana kegelapan yang sebenarnya.


Untuk keterangan lebih lanjut tentang novel ini dan terbitan Adhika Pustaka lainnya, kunjungi:
Penerbit Adhika Pustaka
http://www.adhika-pustaka.com/

Valharald - Kesatria Talismandala & Pertempuran di Vincha

Rating:★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Adi Toha
Review Novel

VALHARALD – Kesatria Talismandala & Pertempuran di Vincha

Karya: Adi Toha (http://jalaindra.wordpress.com)

Penerbit: Diva Press (www.divapress-online.com)

Paperback, 411 Halaman, Diterbitkan 20 April 2010


Reviewer: Andry Chang (www.vadis.tk)
------------------------------------------------------------

Valharald – A Knight in Shining Armor?

Kembali dalam rangkaian marathon antardunia, kali ini Sang Musafir berkunjung ke – sebutlah ini – Dunia Tak Bernama, ke Negeri VarchLand yang indah.

Karena media “perpindahan ke dunia lain” ini adalah buku, tentunya “kunci penarik” pertama adalah sampul bukunya. Kesan pertama yang didapat Sang Musafir adalah tokoh utama novel ini adalah “a knight in shining armor”, ksatria berzirah besi yang namanya terkesan seperti plesetan dari “Valhalla”.

Tata sampul khas Gobaqsodor yang artistik, “Cinemalicious” dan “real-life images tambal-sulam” memang jadi nilai jual tersendiri, tetapi jangan sampai ini menjadi pisau bermata dua dengan mengurangi “spirit” dari cerita ini sehingga terkesan “menyesatkan” para calon musafir tentang figur Valharald yang adalah judul besar cerita yang pada dasarnya seharusnya ditampilkan di cover. Atau, bila nanti mau membuat cetakan kedua, diusulkan pada cover ditampilkan keduabelas lambang yang mewakili para ksatria dan Mahkota Liafala di tengah-tengahnya – no less, no more.

Satu hal yang membuat “idealistic senses” Sang Musafir “gemetar” adalah endorsement pada cover yang mungkin adalah salah satu trik marketing dengan memberi “janji jaminan mutu” untuk menarik pembaca umum dari kalangan mainstream, sama seperti prinsip: “kecap saya dijamin nomor satu!” Yah, untunglah isinya cukup memberikan kesan bagus, menghibur, exciting dan feel good, walaupun tidak sampai “gemetar”. Mungkin – Sang Musafir setuju dengan istilah reviewer lain – lebih tepatnya “tergetar”.

Oke, terlepas dari yang di-endorsed, kita kembali pada prinsip marketing lainnya, “yang penting rasanya, bung!” yang dalam konteks ini adalah CERITAnya.

Tema utama cerita yang di-ekstrak Sang Musafir adalah perang antara kebaikan dan kejahatan, dimana pihak kejahatan dengan jumlah pasukan yang lebih besar hanya bisa diimbangi oleh – tentunya – kekuatan “lebih” yang bernama “pahlawan”.

Sekali lagi, dalam cerita yang satu ini Sang Musafir mengabaikan segala unsur klise dan pakem-pakem Tolkienisme yang rupanya cukup kental terasa – Kenapa? Mungkin karena beliau merasa “senasib” dengan penulis novel ini. Jadi, sekembalinya dari pertempuran hebat di Vincha ada beberapa kesan yang didapatnya sudah cukup untuk membuatnya rela menyisihkan waktu membedah dan membuat review dan fan sketch-nya. Berikut uraiannya.

1. Alur cerita ini melibatkan banyak flashback yang polanya adalah di mana tempat pemilihan, siapa yang terpilih, apa buktinya, kapan ia terpilih, dan mengapa terpilih. Jadi inti plotnya adalah proses pemilihan 12 Ksatria Talismandala dan pertempuran di Vincha sebagai finale-nya – sederhana, standar dan tak ada kejutan yang benar-benar ekstrim.

2. Setiap calon ksatria punya konflik dan pertarungannya sendiri, dan ini membuat prosesnya jadi lebih menarik ala karya klasik Tiongkok “Tepi Air” (Water Margin). Satu hal, terlalu banyak “kebetulan” yang terjadi di sini. Mungkin bila fungsi “kunci kalung segitiga” lebih diaktifkan sebagai “alat pelacak” untuk mencari saudara-saudaranya dan bereaksi bila dekat, faktor kebetulan itu bisa setidaknya dikurangi.

3. Pemikiran “purist” Sang Musafir sedikit terusik oleh penggunaan nama Cuchulainn yang ciri-ciri fisiknya hingga rambutnyapun mirip dengan versi asalnya, seorang pahlawan legendaris Irlandia setara Sigurd & Beowulf. http://fireheart-vadis.blogspot.com/2010/07/cuchulainn.html. Ini bisa dimaklumi karena nama-nama seperti Percival, Sigurd, Fafnir dll sering muncul di cerita beda dalam novel-novel dan game-game. Mungkin Adi Toha sangat terinspirasi oleh karakter pemberani legendaris ini dan ingin “menghidupkannya” kembali dalam dunia dan cerita yang berbeda, dan akhirnya kita coba cerna dengan pemikiran “mungkin saja ada 2 orang dan benda yang bernama dan berciri-ciri sama, apalagi di dunia yang beda.”

4. Nama “Talismandala” sendiri, walaupun menurut Sang Musafir mungkin berasal dari kata “Talisman” dan “Mandala” yang berarti “Ksatria Suci Dewata”, terkesan aneh sendiri di antara sederetan nama-nama bernafaskan high fantasy ala Eropa Abad Pertengahan. Sekali lagi perlu sedikit toleransi dengan menganggap nama ini punya arti mendalam bagi si penulis, yang mengandung unsur “semangat” dan “jiwa” cerita ini. Mungkin terkesan inkonsisten, tapi juga idealisme yang kental.

5. Ada baiknya selain Zwehly ditambahkan pula beberapa “Pahlawan Kegelapan” dari ras orcus atau semacamnya, jadi walaupun pihak kebaikan harus kalah, setidaknya mereka kalah dengan lebih “terhormat”, bukan semata-mata kalah jumlah saja.

6. Bumbu-bumbunya yang berunsur diantaranya pengkhianatan, intrik, perpecahan, penderitaan, cinta dan konflik terasa kurang ekstrim dan terkesan “dikurangi kadarnya”. Mungkin karena tekanan budaya Indonesia-kah? Maklumlah, batas antara “ekstrim” dan “wajar” memang setipis kertas, dan itu juga yang jadi dilema setiap penulis novel-novel laga termasuk Sang Musafir sendiri.

7. Teka-teki Sphinx yang terdapat dalam buku ini adalah hak cipta Sphinx. Harus dimaklumi, memang tidak mudah membuat “riddle” unik yang bisa diingat orang (Contoh: Sphinx dalam “Harry Potter and the Goblet of Fire”), jadi kadang jalan pintasnya adalah “meminjam” dari yang sudah ada. Maklum, Sang Musafir juga kadang suka “meminjam” dengan menyertakan penjelasan yang (harap saja) masuk akal.

Dalam petualangannya ini Sang Musafir juga bertemu dengan beberapa tokoh lain yang cukup berkesan baginya:

1. Einar, seorang pangeran yang berusaha menekan ambisinya untuk menyatukan seluruh kerajaan di Dataran Tak Bernama demi tujuan yang lebih mulia.

2. Eira: Mungkin ia adalah Ksatria Talismandala yang paling misterius. Selamatnya dia selama ini dari “tangan-tangan jahil” mungkin ada hubungannya dengan semacam kekuatan misterius yang mengerikan dalam dirinya, bukan hanya berkat lindungan Yang Kuasa saja. Bila dikembangkan lebih lanjut, Eira bisa digambarkan sebagai gadis yang punya sedikit gangguan mental dan sifat aneh, dan dengan twist yang tidak terduga bisa jadi dialah yang jadi sasaran Zwehly yang sebenarnya.

3. Nimrodir: Tokoh yang sangat versatile, serba bisa, satu-satunya Ksatria Talismandala generasi pertama yang masih hidup. Bersama Draach si pelindung, dia adalah tokoh terkuat dalam episode ini, tapi diduga dia akan jadi salah satu yang “expendable” – yang akan dimatikan oleh salah satu Ksatria Talismandala yang berkhianat (mirip-mirip “Togira Ikonoka”-nya Eragon di “Brisingr”?)

4. Cymrodor: Satu lagi tokoh yang terkesan “expendable”, sudah diduga dari awal. Formasi 12 ksatria yang asli terkesan “disayang-sayang”, jadi Cymrodor-lah yang terkesan “dikorbankan”. Andai saja bukan dia, tapi Urias, Fionn atau anggota lain yang tewas dan dia jadi tokoh pengganti yang menjadikan formasi jadi “tidak terlalu sempurna”, itu akan jadi tambahan kejutan yang menambah nilai keasyikan cerita ini.

Di akhir segala akhir, Sang Musafir menutup buku portal Dunia Tak Bernama ini dengan tersenyum, disertai harapan bilamana nanti ia berkunjung kedua kalinya, Sang Musafir akan menemukan legenda yang lebih epik dan berwarna meriah.

“Kebijaksanaan, keberanian, kesetiaan, ketekunan, kasih sayang, ketabahan, pengampunan, keteguhan, keadilan, belas kasihan, kepercayaan dan kejujuran. Dan semuanya itu bersatu, memancarkan kebaikan demi dunia, demi cinta kasih dan demi kehidupan itu sendiri.”

Saturday, September 27, 2008

FireHeart - Legenda Paladin: Sang Pemburu

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Andry Chang
Novel pertama dari Trilogi FireHeart - Legenda Paladin
telah terbit!

Judul:
FireHeart - Legenda Paladin
(Buku Satu) Sang Pemburu
Oleh: Andry Chang

Penerbit: Sheila, sebuah imprint dari CV. ANDI OFFSET (Penerbit ANDI)
Bahasa Indonesia (hanya untuk pemasaran di Indonesia)
Desain Cover: Weny
Ilustrasi Dalam Novel: Andry Chang

Dimensi/Ukuran: 13,1 x 18,8 cm
Tebal: 492 halaman + 10 prolog = 502 halaman
(Belum termasuk kata pengantar dan halaman2 ilustrasi / pembuka bab)

Genre: Fantasi (Medieval Epic Fantasy)
Website Penerbit: www.andipublisher.com

Tersedia di toko-toko buku kesayangan dan terkemuka di kota anda!
Untuk keterangan lebih lanjut, bacalah artikel2 tentang FireHeart di website ini atau website FireHeart di www.fireheart.tk

Majulah, Wahai Paladin! Penuhi Takdirmu!

Cuplikan di Cover Belakang:
Robert terkapar di lantai, kelelahan, dan terluka di banyak titik di sekujur tubuhnya. Dar'gum berdiri di atasnya dan mengacungkan kapak il Khatl J'nadh pada leher Robert.

"A'bong, adikku, inilah musuhmu, takluk di bawah kakiku. Aku telah mengalahkannya untukmu dan kini, aku mempersembahkan darahnya untukmu agar kau dapat beristirahat dengan tenang."

Sambil berkata begitu, Dar'gum mengayunkan kapaknya. Carolyn berteriak histeris, "TIDAAAK!!"

Carolyn terperangah ngeri. Kapak Orc itu tertancap di tanah, dengan lebih banyak noda darah pada bilahnya...

Tuesday, August 28, 2007

Cerpen Online!

http://cerpenonline.multiply.com/
A Multiply website for Indonesian Short Stories and Aspiring Writers.

Selamat datang di Cerpen Online, silahkan menyalurkan bakat menulis anda, bisa berupa cerpen, cerber, puisi dll.

Silahkan Joint Group untuk bisa melihat seluruh cerpen yang ada.

My YM ID : freya_aurell

Friday, July 27, 2007

[vadisworld - my way, my world] LUKI - Wedding Prisoners - ChaseLuki! Previe...

SOON IN THE NEXT LUKI SERIES : WEDDING PRISONERS – CHASE LUKI
Preview: Contoh Bab (Excerpt)
Author: Awang Biru

APPETIZER

Malam yang senyap di kawasan rumah gedongan di daerah Bratang Surabaya, yang terdengar hanya derik jangkrik dan gemerisik daun cemara kipas yang bergesekan dihembus angin. Langgam Jawa Timuran mengalun merdu di tengah suasana temaram di dalam sebuah kamar megah. Tirai tersingkap, terlihatlah seorang lelaki paruh baya, berkumis tebal khas tukang sate kambing-item-kurus kerempeng menangis pilu meratapi nasibnya :
”CTAR!”
”Awgh!Aduh!”
”CTAR! Sing banter, longor! (Yang kenceng teriaknya, dogol!)”
”ADUH!”
”CTARRR! Sing banter! (CTARRR! Yang kenceng!)”
”ADAWWW! Wis ta Mi...loro loh...(ADAWWW! Udah dong, Mi...sakit loh).”
Kedua tangan Papi diborgol di atas kasur, Papi hanya mengenakan bra penuh renda-renda centil, korset, stocking dan celana dalem spandex kedodoran warna pink punya Mami yang ukurannya udah jadi XXXXXL (gara-gara kemelaran dipake Mami). Sekujur badan Papi memar membiru disabetin Mami pake kabel telepon malam ini. Mami (yang always bertindak jadi algojo) tampil penuh daging tumpah ruah, pake baret and setelan seragam dinas Papi yang justru kekecilan di badannya (Papinya Maia pan ceking gara-gara makan ati kawin sama Mami).

Semenjak Papi kepergok selingkuh sama resepsionis hotel MALIBOU-MALIBONGABONGA-YUUUK lima tahun lalu, Mami jadi sado masochist sejati. Kalo ditilik dari ilmu psikologis tingkat tinggi, penyimpangan sikap Mami ini adalah dampak yang paling ekstrim dari trauma pasca perselingkuhan dalam pernikahan. Mami pengen bertukar peran : Mami jadi suami bajingan, Papi yang jadi istri teraniayanya. Pokoknya Mami jijik puol deh sama Papi (termasuk sama ulet kadutnya Papi),tapi kok ”benci tapi rindu” juga ya sama (ulet kadutnya) Papi? Huh, tapi enak aja, emangnya enak diselingkuhin? Hati Mami sebagai istri yang setia nih gak terima! Tadinya sih Mami pengen bales selingkuh, tapi setelah dipikir-pikir lagi, mana ada sih cowok yang doyan sama badak keriput kayak dia? Mau minta cerai? Ogah, keenakan Papi dong, ntar dia cepet-cepet kawin lagi sama resepsionis itu, terus abis cerai emangnya Mami mau makan batu? Mami DENDAM! Pokoknya Mami ingin memposisikan Papi seperti dirinya dulu, itulah sebabnya Mami maksa Papi make pakaian dalam kepunyaannya yang paling menjijikkan sedunia, Mami cabutin bulu-bulu Papi pake wax panas (semua bulu tanpa terkecuali, hihihi, kumis Papi belum digarap tuh), terus Mami pecutin pake kabel telepon abis-abisan! Biar Papi tau rasanya jadi cewek keriput-jelek-gendut-gila yang lagi horny sekaligus sakit hati dikhianati suaminya sendiri! Biar mampus! Biar tau rasa! Biar KAPOK!
”Lungguh! Saiki lungguh, ayo cepet (Duduk! Sekarang duduk, ayo cepet),” suara Mami melengking tinggi. Mami sibuk ngaduk-aduk campuran wax panas buat nge-wax bulu-bulu kaki papi. Mami mencengkram kaki Papi lalu merobek-robek stocking Papi pake kuku-kukunya yang super tajam itu (kuku yang sama yang telah mencakar wajah resepsionis hotel nista itu, hingga dia mendapat 20 jahitan di wajah dan langsung memutuskan kabur dari Surabaya hari itu juga!) dalam hitungan detik helai-helai stocking bertebaran di atas selimut.
”Auwww! Arrrgh! AUWWWW!!!” Jeritan Papi makin menjadi-jadi saat Mami narik waxing sheet dengan brutal, meninggalkan jejak-jejak merah terbakar di perut dan kaki Papi yang kini halus mulus bebas bulu. ASTAGA, Mami jadi ON nih mendengar jeritan Papi.

Sebelum disiksa, Papi tuh udah dicekokin viagra yang dioplos sama cialis and blue levitra chocolate duluan sama Mami. So, meski gairah Papi padam total gara-gara kebrutalan Mami, ulet kadut Papi tetep aja pasrah siap siaga dipaksa upacara bendera sama efek viagra + cialis + blue levitra chocolate yang diracik Mami.
”Huhuhu, hiks...wis ta, Mi....loro Mi (Huhuhu, hiks...udah dong, Mi...sakit Mi),” Papi meringis menahan perih di sekujur tubuhnya, Mami dengan gairah membara merangsek kawasan Tugu Pahlawan yang gundul itu (Ih ini beneran! Kagak percaya lu pade? Ini kawasan yang sekarang lagi butuh banget direboisasi loh di Surabaya, gyahahaha), hohoho, sungguh badak tak bercula yang beringas!
*********
Maia sibuk packing-packing di kamarnya. Tiga hari lagi ke Jakarta euy, training MT-Begosari! Mami udah ngebikinin kartu tambahan Platinum Charge Card Ambarawa Express buat Sang anak gadis tersayang, maksudnya sih biar Maia bisa gesek sana-gesek sini sesuka hati tanpa perlu khawatir overlimit. Asal tau aja nih, platinum charge card Ambarawa Express tuh gak ada tandingannya, belum bisa dibikin di Indonesia (di Singapore aja belum bisa!). Paling deket baru bisa dibikin di Hong Kong, itu juga kudu punya jaminan deposit 1 juta US Dollar dulu di Ambarawa Express Bank baru bisa dapet, kaya banget kan Mami-nya Maia?

Well, Maminya Maia dulu ke Hong Kong sekalian nemenin Papi tugas di sana. Mami ngebet banget punya Ambarawa Express Platinum kayak Jeng Martha, istri salah seorang pejabat terkorup di Jakarta. Katanya Jeng Martha nih kalo kita nunjukkin Platinum Ambarawa Express di kasino Las Vegas and jajan fashion di Paris, dijamin security sampe cukong-cukongnya langsung jadi cunguk, minggir ngasih jalan and pelayanan kelas VVIP (liat tuh, segitu saktinya tuh kartu!)

Demi adu gengsi gede-gedean antar ibu pejabat, untuk ngedapetin prestige kartu Platinum Ambarawa Express Mami maksa Papi korupsi di Hong Kong (hasil korupsinya buat nambah-nambahin buka rekening di Ambarawa Express Bank). Segala cara harus Papi tempuh untuk memenuhi ambisi gila Mami menyandang predikat kaum socialite, mulai dari mark up anggaran dana operasional sampe manipulasi data ekspor sapi fiktif, akhirnya genep juga tuh 1 juta US Dollar, kejam ya? Fiuh, ibu-ibu pejabat kita emang pada buta, matre and gak tau diri ya, dia gak liat tuh busung lapar ada dimana-mana di Indonesia?

Tiket pesawat KUCING GARONG AIR juga udah ada di tangan Maia, udah Maia ambil dari Mbak Nurul Begosari kemaren. Tadinya sih Maia mau minta cash-nya aja biar bisa nambah beli tiket CUCOKROWO AIRLINES. Biar deh mahalan dikit beli tiket CUCOKROWO AIRLINES gak apa-apa asal aman, abis ngeri sih KUCING GARONG AIR pan isinya kecelakaan melulu! Tapi gak boleh sama Mbak Nurul, pokoknya semua MT-Begosari kudu satu pesawat, hal itu penting buat menjalin keakraban antar MT, gitu kata Mbak Nurul.

Maia duduk sambil menyilangkan kaki di atas tumpukan koper, tangannya sibuk calling handphone Luki, lagi-lagi gak diangkat Luki. Setelah termenung agak lama Maia menghela nafas panjang, ada kekhawatiran yang bikin dadanya kian terasa sesak, kekhawatiran kalo Luki bakal ngedepak dia gitu aja sesampainya di Jakarta. Didepak setelah bertahun-tahun pacaran? Hmmmh, selain reputasi keluarga, modal Maia untuk mempertahankan Luki hanyalah IPK 3,55-nya itu aja. Maia gak cakep-kuper-pendek, apalagi setelah adeknya (Didik goblok itu) jadi headline Jawirpost gara-gara ketangkep basah aborsi di klinik bidan bejat, reputasi keluarga Maia tuh ancur jadi bulan-bulanan gossip orang se-Surabaya! Malah demi nama baik keluarga, Maia jadi kena deadline Mami buat minta dikawinin Luki sebelum Didik lulus SMA segala! Semua gara-gara ulah Nutdilla, p*l*c*r liar itu! Huh, capek, PUSYING!

--
Posted By vadis to vadisworld - my way, my world at 7/27/2007 09:19:00 PM

[vadisworld - my way, my world] LUKI - Humming Bird and Emak Urat -Excerpt

LUKI - Humming Bird and Emak Urat
Contoh bab (Excerpt)
Penulis: Awang Biru

Kepala Luki berat banget. Perlahan diarahkan jam tangannya mendekat ke mata. Hwuuaaa... udah jam sembilan pagi! Luki telat ngantor neh! Sementara Isabel masih terlelap di dada Luki. Ah, bolos kerja aja deh, gumam Luki dalam hati. Isabel mendesah lirih.
”Met pagi, sayang,” sapa Luki.
”Hmm, huahhhmmm, cup-cup,” mata Isabel masih terpejam tapi bibirnya monyong mengecup-ngecup bibir Luki. Badan Luki masih lelah. Disingkapnya bantal yang menutupi tubuh Isabel. Biru-biru bekas pertempuran semalam masih tampak di tubuh Isabel. Luki mengalihkan pandangan ke bawah. Well, hellowww ‘morning glory’ (morning glory tuh fenomena ereksi rutin tiap bangun pagi)!! Luki membawa tangan Isabel menyentuh stiffy willy-nya.
“Hey, hmmmh, I love your humming bird,” Isabel menyentuhkan tangannya di sana. Ih, kok humming bird sih? Luki tersinggung banget, humming bird? Willy Luki kagak sekecil itu ya! Tapi terserah deh, toh Isabel udah mulai menanggapi isyaratnya.
”Fumer le cigare,” bibir Isabel menyusuri tubuh Luki. Luki gak tau pasti nih apa yang dimaksud dengan Fumer le cigare (kedengerannya kayak bahasa Prancis deh), yang jelas geli banget, enyak! Hihihihi.
”Mandi, yuk,” kata Luki.
”You want me in the bathtub?” Isabel terkejut sama usul nakal Luki.
“With bubble bath!” Luki mengerling nakal. Sisa gairah malam pertama Luki masih meletup-letup. Luki narik tangan Isabel menuju kamar mandi. Abis ’fumer le cigare’ di sofa, acara dilanjutin di bathtub deh. Cairan bubble bath Luki tumpahkan ke tubuh Isabel, dengan guyuran shower dan pijatan sensual Luki menggosok tubuh Isabel dengan lembut hingga berbusa, ditelusurinya leher, punggung, hingga ke kawasan puncak ’polwan tidur’ (Hehehe, gajlukan di jalanan kan namanya polisi tidur, kalo gajlukannya ada dua namanya jadi polwan tidur dong, hehehe).
”Guk-guk-guk-guk!” sesaat kenikmatan yang Luki rasakan, buyar berantakan. Lagi-lagi Luki goblok, lupa nutup pintu kamar mandi. Monalisa udah nimbrung masuk bathtub. Luki nyoba ngusir Monalisa dengan nyipratin air sabun ke matanya tapi gak berhasil. Ah masa bodo deh, toh Monalisa gak ganggu acaranya. Monalisa sibuk mencet-mencet bebek karet Luki, sedangkan Luki juga lagi asyik sendiri mencet-mencet Isabel, hehehe.
*********
“Ta, gue lagi sakit nih,” sambil breakfast oatmeal dicampur mozzarella buatan Isabel, Luki nelepon Tata biar orang kantor kagak kebingungan nyari-nyari.
”Sakit apaan lu?”
”Sakiiiit... umm...” Luki gak pernah boong buat ngebolos sih, jadi bingung nih jawabnya. Akhirnya tanpa pikir panjang, ”...mencret!”
”Hahahaha, serius lu?” Tata ketawa gak percaya.
”Gue sakit perut, udah 10 kali gue bolak-balik boker semalem,” Luki cepet sadar kalo dia kudu akting serius buat ngeyakinin Tata.
”Udah ke dokter belom?”
”Boro-boro ke dokter, gue masih lemes banget nih.”
”Lu masih di rumah nih? Oo, lu kagak masuk, ye? Pantes tadi Ricky nanyain lu ke gue.”
”Iye, ntar siang rencananya gue baru mau ke dokter. Lu bilang ye ke anak-anak gue sakit.”
”Tumben lu gak masuk, biasanya biar flu sampe sekarat juga lu masih bela-belain masuk.”
”Baru kali ini juga gue mencret, sumpah, sekarang gue lemes banget nih.”
”Ntar gue bilangin deh ke anak-anak.”
”Thanks, ye, Ta. Kalo ada apa-apa telepon gue,ye! Bye.”
“Bye.”
Dengan kepala dan tubuh hanya dibalut handuk, dari arah dapur Isabel datang menghampiri Luki di sofa.
”Kamu tidak ke kantor?” Isabel nyuapin bubur oatmeal ke mulut Luki.
”Nggak, kamu ada acara apa hari ini?”
”Ada pemotretan untuk katalog underwear nanti siang, kamu mau mengantar saya?” Isabel nyedot jus nanas Luki.
”OK,“ Luki termenung sebentar lalu memegang jemari lentik Isabel dan meletakkannya di pangkuan, “Isa, by the way, sorry about last night. Saya baru pertama kali minum dan mabuk.”
“Umm, forget it,” Isabel menjawab lugas dengan muka tertunduk. Luki jadi gak enak sendiri. Luki merasa jadi bajingan tengik yang curi-curi kesempatan, mumpung Isabel lagi mabuk berat dia lucuti dan perawani Isabel semalam. Luki kudu tanggung jawab nih. KUDU!
*********
”Dok, saya diare,” Luki lagi di tempat praktek Dokter Didi Hartono, Dokter langganannya di permata hijau. Abis nganterin Isabel ke Sudirman buat pemotretan, Luki langsung ke klinik deket apartemen, dalam rangka ngedapetin surat ijin palsu nih. Isabel nyuruh Luki pulang, istirahat dan ngejemput lagi nanti malam.
”Tiduran coba, saya periksa,” Luki nurut tidur telentang di ruang periksa dokter Didi. Dokter Didi ngebuka kancing kemeja Luki. Stetoskop ditempel-tempelin di dada Luki, dan puk-puk-puk, tangan dokter Didi sekarang mulai menepuk-nepuk perut gendut Luki.
”Gak kembung kok, kayaknya gak ada masalah,” Dokter Didi ngelus-ngelus dagunya, baru kali ini soalnya Luki ngaku diare. Luki sakit biasanya paling juga batuk-batuk sama cacingan.
”Tapi saya udah 10 kali mencret semalem, Dok,” Luki belagak serius.
”Warna fesesnya apa?”
”Coklat.”
”Coklat muda apa coklat tua? Ada darahnya?”
”Ada yang coklat tua ada yang coklat muda, Dok” Luki cekikikan sendiri, emang coklat muda sama coklat tua tuh gimana cara ngebedainnya coba? Perasaan campur-campur deh, kadang-kadang kalo maem bayem ada ijo-ijonya, maem pepaya ada merah-merahnya, makan asparagus jadi item, maem buah kiwi jadi kuning campur ijo bintik-bintik item, iye kan?
”Loh, gimana sih? Ada darahnya?”
”Umm, maksudnya begini Dok, pertama keluar tuh warnanya coklat tua, nah lama-lama warnanya makin muda, kalo darah kayaknya gak ada,” Luki agak bingung juga dikit, nih dokter galak banget. Emang bener kan ye, pertama-tama ek-ek tuh biasanya yang keluar duluan warnanya pasti agak tua terus jadi makin muda, iya kan? Uh, what the hell!
”Perutnya mules? Sakit gak? Badannya panas?”
”Sakit banget, Dok. Tapi badan saya nggak panas kok.”
”Sebentar saya tulis resepnya,” jari dokter Didi sudah asyik menari-nari, menggoreskan nama-nama obat, Norit, Omeprazole, Biodiar. Fiuuuh, Luki lega banget. Tapi setahu Luki Omeprazole tuh obat gastritis deh, kagak salah nih?
”Ini aja, Dok?” Luki ngebaca resep dari dokter Didi.
”He-eh, paling-paling kamu keracunan makanan.”
”Hmm, Dok,”
”Yup?”
”Bisa minta surat ijinnya, Dok?” Malu-malu Luki minta juga surat sakitnya.
”Buat?” Dokter Didi mendelik curiga.
”Hari ini kan saya gak masuk kantor, Dok.”
”Oooh, gitu...” seringai mengejek dilontarkan Dokter Didi,”Besok masih ijin?”
”Besok masuk dong, Dok. Tapi ijinnya ditulis hari ini sama besok deh, Dok.”
Beres sudah masalah cuti ’malam pertama’ Luki. Gila, cuma periksa lima menit terus dikasih obat apotik kaki lima, eh minta dibayar 120 rebu. Kaya banget nih Dokter, bokis! Terserah sih yang penting udah dapet surat sakit, toh dibayarin kantor, eh dibayarin negara ding! Pan ada tuh di undang-undang, koruptor miskin dan pejabat terlantar dipelihara oleh negara, hehehe.
*********
”OMG (Oh My GOD)!!! Isa, lu dimakan gendoruwo mane? Astaganaga brama kumbara! Kalo ML gak usah pake biru-biru gini kaleee, kan repot! Kampring banget, emangnya baru pertama ML ye tuh lekong?” Diyose, banci kaleng make up artist buat sesi pemotretan Isabel teriak histeris waktu Isabel ngebuka bajunya.
”Hehehe,” Isabel meringis.
”Ketawa lagi, lu! Gimana nih nutupinnya? Yaaa ampyuuun, di leher empat, tokecang kiri tiga, tokecang kanan lima! Lu pikir gue David Copperfield? Lagian kagak monyong tuh bibir nyipok dua belas biji? Capheee deeeh...”
”Bisa diedit kan di komputer nanti,” sahut Isabel ringan.
”Eh, nyolot lu ye, tapi tetep aja gue kudu nutupin nih cipokan sekarang, lu tau gak ini pemotretan buat iklan underwear? Lu nanti pake bikini two pieces, ini cipokan harus ditutup! Payah nih kalo begini,” Diyose ngambil concellear, compact powder warna beige sama copper blush on buat nutupin bekas biru-biru Isabel.
Untungnya Diyose jago banget, dalam waktu singkat bekas cipokan tadi udah mulus, gak terlihat. Diyose mengoleskan shimmer body oil ke leher, dada, tangan dan paha Isabel sebelum Isabel mengenakan bikini warna salem. Sesi pemotretan dilakukan di pantai mentari, Isabel difoto saat berjetski. Kulit gold tan Isabel berkilat ditimpa sinar matahari, butir-butir pasir putih melekat di paha dan dadanya, keren banget. Sesi pemotretan bisa berjalan lancar juga, berkat tambalan cipokan dari Diyose tuh. Hmm bekas cupangan ini gak bakal hilang sampe seminggu kayaknya.
*********
Luki ngejemput Isabel di salah satu cafe tenda sambil nikmatin sunset, Isabel lagi duduk santai sambil minum Singapore Sling sama Marlon Jackson, fotografer negro yang tampangnya mirip-mirip Will Smith.
”Marlon ini Luki, my room mate, Luki ini Marlon fotografer saya,” Isabel ngenalin Marlon ke Luki.
”Luki,” Luki tersenyum simpul menjabat tangan Marlon. Masih jam enam sore, sesi pemotretan udah selesai. Luki ngelihat banyak orang bergunjing, kru pemotretan Isabel pada nyuri pandang dan sesekali ngelempar senyuman penuh tanda tanya ato senyum ngejek, seakan-akan Luki ini lahan gosip baru buat mereka. Luki dan Isabel masuk ke mobil.
”Kita cari makan, yuk,” ajak Luki.
”Makan apa?”
”Seafood, kemaren kan seafoodnya cuma calamary, aku pengen makan udang nih,”
”Kamu pantang makan udang, masih ingat diet? Sebenernya calamary semalam juga gak boleh sih.”
”Stop it, sekali-sekali kan gak apa-apa melanggar diet golongan darah sialan itu, toh gak bakalan mati,” Luki protes dilarang makan udang.
”Hahaha! Hmm... oke,” Isabel akhirnya setuju. Luki memacu mobilnya ke Seafood Master Resto di daerah Pantai Mentari.

------------------

Masuk kantor lagi nih. Pagi-pagi bener Luki udah nyerahin surat ijin palsunya, terus search di Google, keyword-nya ’humming bird’. Masih kepikiran sih, humming bird? Keluar deh segala macem artikel tentang humming bird. Humming bird tuh bahasa Indonesianya burung kolibri. Tersinggung deh, masak ’si buyung’ Luki dibilang humming bird sama Isabel. Luki mulai ngebaca dengan serius artikel itu.

Humming bird
Dinamakan humming bird karena mengeluarkan bunyi berdengung (humming). Bunyi ini dihasilkan oleh kepakan sayapnya yang sangat cepat. Di Amerika ada 300 jenis humming bird, ada yang memakan nektar bunga kaktus, bunga kapuk dan bunga-bunga kecil lain. Panjang tubuhnya 5 sentimeter dan beratnya 2 gram. Ukuran telur humming bird juga sangat kecil Satu telur ayam kampung dapat diisi 200 butir telur humming bird. Meskipun kecil tapi humming bird burung yang sangat istimewa, humming bird mampu mengepakkan sayapnya 60 hingga 120 kepakan per-detik. Tidak seperti burung lain, humming bird juga mampu terbang vertikal dan horizontal. Humming bird mampu terbang maju mundur dan naik turun dalam waktu bersamaan seperti helikopter, tidak ada burung lain yang mampu melakukan hal ini. Humming bird juga mampu terbang diam mempertahankan posisinya untuk waktu yang lama. Kaki humming bird sangat kecil dan lemah sehingga tidak bisa berdiri terlalu lama, humming bird hanya mampu hinggap dan berdiri sebentar untuk kemudian terbang lagi.

Kata-kata yang menghibur sih ada di bagian :
Mampu mengepakkan sayapnya 60 hingga 120 kepakan per-detik.
Mampu terbang maju mundur dan naik turun dalam waktu bersamaan seperti helikopter, tidak ada burung lain yang mampu melakukan hal ini.
Mampu terbang diam mempertahankan posisinya untuk waktu yang lama
Dan kata-kata yang menusuk hati tuh ada di bagian :
Panjang tubuhnya 5 sentimeter dan beratnya 2 gram. Ukuran telur humming bird juga sangat kecil.
Tidak bisa berdiri terlalu lama.

Hmm, gimana nih? Tidak bisa berdiri terlalu lama? Emang berapa lama sih harusnya? Panjang tubuhnya lima sentimeter? Ucapan Isabel ngebikin rasa percaya diri Luki kian tergerus, harga dirinya sebagai laki-laki perkasa terkoyak-koyak.
”Mas, kemaren katanya sakit?” Ricky nongol ngagetin Luki.
”Eh, cuma mencret aja kok,” Luki masih serius ngebaca artikel tadi.
”Hmm, syukur deh kalo udah baek! Mas, aku minta data-data regulasi general pembayaran hutang luar negerinya, dong!”
”Kan udah banyak dulu aku kasih,”
”Yang terbaru, mas!”
”Mana sini flashdiskmu,” Luki mendengus kesal diganggu Ricky. Tapi masih penasaran juga sih tentang humming bird ini. Well, tapi mumpung masih pagi, tanya aja ah, tanya gak ya? Luki nyolokin flashdisk Ricky ke laptopnya.
”Rick, mmm...” Luki masih kebingungan nyari kata-kata yang pas, gimana ya? Ah tapi udahlah cuek aja, toh kalo Ricky macem-macem bisa digencet, kasih aja nilai magang C, beres kan? ”Hmm... Rick, kamu tau mitos-mitos jorok gak?”
”Mitos apaan?” Ricky celingukan kebingungan.
”Mitos ukuran ’si buyung’,” ujar Luki ekstra pelan.
”Si buyung tuh siapa, Mas?” Ricky makin gak ngerti.
”Si buyung aja kagak tau, c*ck! T*t*t! D*ck!” Luki akhirnya pasrah, udah nanggung banget sih, udah dikeluarin aja semua, gak ada jaim-jaiman deh, sekarang waktunya pembicaraan antar laki-laki dewasa nih.
”HAAAAHHH?” muka Ricky langsung berubah warna, merah-kuning-ijo kayak lampu merah. ”Oooh, terus?”
”Gak apa-apa, aku pengen tau,” jawab Luki sok cool.
”Ya pernahlah,” Ricky serba salah, mau jawab kok kayaknya gak etis banget pertanyaannya.
”Yang mana?” Ricky ngelanjutin,”Ada banyak, Mas.”
”Kalo mitos panjang itunya cowok tuh tergantung dari jarak ujung jari telunjuk ke ujung jempol tangan kiri, kamu pernah tau?” Luki. Ricky juga akhirnya cuek, dia nganggap Luki lagi stress, pengen bercanda.
”Itu mah udah lama banget, Mas,”
”Sama, dong! Aku juga taunya udah lama tuh! Bener gak sih?”
”Emangnya kenapa, Mas?”
”Udah jangan banyak tanya, jawab aja,” mata Luki beralih ke jari-jari di tangan kiri Ricky.
”Umm, Mas. Aku pernah ngukur sendiri, hehehe, bener kok!” Ricky mulai merenggangkan telunjuk dan jempol tangan kirinya. Luki bisa ngelihat jaraknya tuh lumayan, jari-jari Ricky kan panjang-panjang, jadi otomatis jaraknya juga jauh, hmmmh kalo ditaksir 17 senti gitu deh kayaknya. Aduh, mata Luki mulai berkunang-kunang nih.
”Mosok sih, emang kamu kapan ngukurnya?”
”Hehehe, waktu SMA, namanya juga iseng,” jawab Ricky sambil cengengesan.
Memori Luki kembali ke masa lalu. Waktu kuliah dulu dia sering nonton BF sama sohib-sohibnya di kamarnya. Sandy salah satu BF mania bilang kalo panjang ’si buyung’ tuh sebanding sama jarak dari ujung telunjuk ke ujung jempol tangan kiri. Muncul deh ide gokil dari Rio, iseng-iseng Rio ngambil penggaris dari tasnya, terus acara tantangan ukur-mengukur dan panjang-panjangan itu pun dimulai. Luki jelas keluar keringet dingin, soalnya jarinya kan pendek dan gemuk-gemuk. Sandy ngukur jarinya sendiri ’15 senti, rek!’ semua anak-anak ketawa.Terus giliran Irfan yang diukur Sandy ’18 senti!’ semua anak tepuk tangan karena takjub sama panjangnya Irfan. Selanjutnya Dadang, ’14 senti!’, terus begitu bergiliran.
Luki udah gak bisa konsen nonton BF lagi deh, pikirannya kalut. Gilirannya pun akhirnya tiba, gak bisa nolak dan gak bisa kabur, Sandy tau-tau teriak histeris,
”Sembilan senti!!! Huahuahuahua, awakmu sembilan senti thok? Mati ae, koen! Huahuahua, bojomu engko mesti selingkuh, Luk! (Sembilan senti!!! Huahuahuahua, punya lu cuma sembilan senti? Mati aja, lu! Huahuahua, istri lu ntar pasti selingkuh, Luk!)”.
Semua anak kompak ngetawain Luki dengan sadisnya. Luki berusaha nyangkal mitos itu, dia jelas mati-matian membela diri dong. Luki beralasan gara-gara kegemukan jarinya jadi ikut pendek dan gemuk, jadi otomatis jaraknya pendek. Tapi anak-anak kagak percaya, tetep aja semuanya ngejek and ngetawain. Waktu itu Dadang, Sandy, Irfan, Sidik, berebutan ngadu-ngaduin jari mereka ke jari Luki buat ngebanding-bandingin ukuran mereka sama punyanya Luki sambil ngetawain Luki, hihihi, jahat ya? Luki malu banget, minder, trauma!
Then, di suatu malam, di atas tempat tidurnya sendiri, Luki nekat mau ngebuktiin kebenaran mitos itu sekali lagi. Luki ngebangunin ’si buyung’ dengan nonton BF Rocco Siffredi favoritnya, kemudian dia ngambil penggaris dari tas kuliah. Pertama-tama Luki merenggangkan jari telunjuk dan jempol kirinya terus diukur pake penggaris, well, Sandy bener, sembilan senti. Selanjutnya Luki ngukur panjang ’si buyung’ langsung pake penggaris.
Seketika Luki menitikkan air mata. Hiks, ternyata sama aja hasilnya, panjang si buyung emang bener sembilan senti. Terus karena masih belum bisa juga nerima kenyataan pahit itu, Luki merenggangkan jari telunjuk dan jempolnya sejauh-jauhnya – dibangunkannya ’si buyung’ sekuat tenaga sampe muka Luki merah nahan napas nyuruh ’si buyung’ ngamuk, pokok dibangunin sampe ukuran maksimal deh.
Terus Luki nempelin langsung jarinya ke ’si buyung’, demi memastikan kebenaran mitos itu lebih lanjut. Dan hiks-hiks-hiks... huuaaaaa... Mamaaaaa!! Huuuuu...hiks... kejamnya dunia!!!! Luki ngeliat muka Rocco Siffredi yang lagi asyik berbonga-bonga sama betina negro di TV seakan tersenyum geli penuh ejekan ke arahnya. Ihiks... apa punyanya papa juga segini, ya? Hiks-hiks-hiks... tapi nggak ah, Luki ngeliat dengan mata kepala sendiri kalo jari-jari Papa sama Irhan tuh panjang-panjang. Ihiks... berarti di rumahnya, hanya Luki satu-satunya laki-laki yang punyanya sembilan senti, huuuaaa!!! Gak adil, jahat!! Sebenernya Luki ini anak siapa sih? Sebelum ada kejadian ukur-ukuran itu, Luki pikir ukuran burung endemik Indonesia sembilan senti tuh masih masuk kategori normal loh, tapi ternyata? Hwuuuaaa!!!
”Woi, Mas, kok ngelamun?” Ricky menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan muka Luki.
”Hehehe, kamu ukur sendiri gitu, Rick?” Luki tersenyum kikuk, senyuman yang penuh rasa luka.
”Ya ngukur sendiri-lah. Mas, gampang kok, Mas. Di kampung Bali situ loh ada Emak Urat, diurut sebentar katanya bisa, kata orang-orang sih,” Ricky berbisik, sepertinya Ricky bisa memahami Luki, diliriknya jari-jari di tangan kiri Luki.
Ricky udah pengen ngakak aja ngelirik jari-jari di tangan Luki, aduh sembilan senti doang, bisa buat ngapain geto loh? Kalah sama sendok bayi dong, hihihi. Tapi kasian ah... lagian Ricky sadar, kalo Ricky ngetawain ato ngember, resikonya terlalu gede, bisa-bisa nilai magangnya jeblok!
”Emak Urat? Siapa tuh?” Luki menaikkan sudut alisnya. Hmm... sepertinya alternatif yang patut dicoba tuh!
”Emak Urat tuh tukang pijat aurat, Mas. Kan terkenal tuh, di Kampung Bali situ,” Ricky serius nyemangatin Luki.
”Eh, udahan nih, Rick!” Luki nyabut flashdisk Ricky, padahal perasaan udah dari tadi deh tuh transfer data kelar.
”Makasih, ya, Mas,” Ricky langsung ngabur, takut Luki nanya aneh-aneh lagi.

------------------------

Awang Biru sez:

KOCAK kagak tuh? Penasaran dong lu pade? Gyahahaha don’t worry be horny, masih banyak kok adegan kocak lainnya di LUKI: HBAEU (HUMMING BIRD AND EMAK URAT). So, beli aja deh, gak bakalan nyesel, gue jamin! Di tiap Chapter novel gue ada ilustrasi-ilustrasi super konyol, so lu bisa ngebayangin sendiri kejadian seru di tiap chapter (hohoho, chapter t*t*t-t*t*t di atas itu? Ayo coba dibayangin sodara-sodara, ayo liat ke bawah, hihihi……….).

Masih kurang? Well, kalo lu beli novel gue, selain novel gue nanti lu bakal bisa ngedapetin bonus TMO EXTENDED (THE MAKING OF EXTENDED ini khusus buat yang beli LUKI aja loh, uncut version, ga pake tedeng aling-aling, ga pake sensor-sensoran!) yang bakal ngebahas abis-abisan kisah-kisah hidup gue yang kocak,tragis bin dramatis yang melatarbelakangi gue nulis LUKI TRILOGY SERIES ini. Nah bro, makin penasaran kan lu?

Udah beli sono! Eeeitss jangan lupa nih, ayo attachmentkan lagi file sample “TO PROMO” novel gue ini ke demenan, sohib, encang-encing, enyak-babe sampe mailing list aki-nini lu dimana pun mereka berada juga dong, jadi mereka bisa ikutan ketawa bareng elu……….hehehe………Ayo cepetan, AWAS KEABISAN!!!! (Duh kayak iklan petasan aja nih awang, pake AWAS KEABISAN segala)


AVAILABLE ON 7th AUGUST 2007

--
Posted By vadis to vadisworld - my way, my world at 7/27/2007 09:04:00 PM

[vadisworld - my way, my world] TESTIMONIES for LUKI

TESTIMONIES FOR LUKI
LUKI, the Series by Awang Biru

Gila lo, Wang, kejem banget.Tapi bagus kok, lucu, gak cheesy, lumayan crunchy. Denny hamilin anak orang? Yang aslinya sih ada bakat, hehehe. (Renny D, Karyawati-Bank BUMN Surabaya)

JOROK, LIAR tapi LUCU!!! Agak-agak kejam dan sinis gitu deh. Penghinaan terbesar untuk Maia dan wanita se-Indonesia. Tapi yang jelas ceritamu sukses bikin aku ketawa. (Nyimas Asraf, MT-Bank BUMN Tasikmalaya)

Jahat! Kok kembar identik sama mantan tetanggaku? Emang dia, ya? Dia baru nikah, dulu aku sering pinjem buku kuliah, pernah satu Karang Taruna. Ibunya jago bahasa Prancis. Ibunya kena kasus lumayan parah sama tetanggaku dulu, terkenal sok dan dimusuhin tetangga. (B.W Thamrin, Karyawan Otsuka Beverages)

Real cool. I enjoy reading this story very much, real cool! But I expect to have the continuing story. When can I get the complete novel? Couldn’t wait to see the ending. Go guy! (Mrs.Imas, English lecturer, Language Center ITS Surabaya)

Very Impressive! Humornya seger banget! Ada scene-scene yang rada cruel, but afterall, it’s TOP BGT. Terutama pilihan kata-katanya yang fresh dan gaul, buat kita-kita lebih asyik bacanya. (Donny Satria Buana, Dosen Muda Teknik Kimia ITS Surabaya)

Makes me curious how is it going then, DAMN! Extreme, but makes me realize that this is the real world. Cruel, but still I find the sense of humor! (Izza, Mahasiswi Statistik ITS Surabaya)

Ceritanya lucu, frontal banget, agak kasar sih, tapi jujurlah setidaknya (Anggia Nur Chairiyah, Junior Secretary bp-OIL)

Kamu ternyata Fun Fearless Male banget nih, hehehe! Aku pengennya HAPPY ending dong buat Luki, kasian kan Luki. Jadi tertarik nih sama terapi diet golongan darahnya. (Hendra Haryono, Mahasiswa Kedokteran Unibraw, Malang).

Satir dan sarkastiknya terasa banget, asyik, keren! Gak ngebosenin! Gue penasaran banget sama Endingnya.
(Niken, Mahasiswi Manajemen UNAIR 2004 Surabaya)

This is the wildest thing I ever lay my eyes into! Just EXTREME, dudes! If you want to get "out of the line" once in a while, please, BUY THIS BOOK! And the serials too! Watch out, American Pie! Here comes the Indonesian Gado-gado!
(BJ Vadis, http://vadis.tk)

--
Posted By vadis to vadisworld - my way, my world at 7/27/2007 08:55:00 PM

[vadisworld - my way, my world] PROMO: LUKI: Humming Bird and EmakUrat by Aw...

Hellow cewek-cowok, ABG ato nenek-nenek yang ngaku-ngaku makhluk gaul SURABAYA ayo beli LUKI : HUMMING BIRD AND EMAK URAT, BY : AWANG BIRU dong. Inilah novel funky terbitan galangpress jogja yang kalian tunggu-tunggu, asli SUROBOYO, rek!!!! Murah kok, cukup 25.000 perak kalian udah bisa ketawa sampe pipis-pipis di kasur!!!
Buat anak gaul DI LUAR SURABAYA, tunggu apelagi? Kagak mau ketinggalan sama anak Surabaya dong? BURUAN BELI, GAK PAKE’ MINJEM!!!!
LUKI TRILOGY SERIES tuh novel paling LUCU, paling ROMANTIS sekaligus paling TRAGIS, so sweet deh!
Get it on 7th August 2007 at : TOGAMAS, URANUS, GRAMEDIA dan toko buku terkemuka DI MANAPUN KALIAN BERADA

Akhirnya ada juga novel yang mendokumentasikan sejarah kelam and rahasia makhluk-makhluk yang kayaknya sih gue kenal banget, very interesting. Heboh deh ITS! Buku lo lucunya ada tapi plus ada alur cerita yang seru banget and gue seneng aja lo punya sudut pandang seru mandang hidup, keren! Kadang kelihatan kejem, tapi kalo dipikir lagi bener banget!
(Selly&Wirawan, Mahasiswa Teknik Kimia ITS Surabaya).
Mau tau testimoni seleb-seleb sebangsa Nia Dinata, Happy Salma, dan kawan-kawan? Well, lu liat aja nanti langsung di novel gue tanggal 7 Agustus ini, OKEH?
fly_me_to_awang_biru@yahoo.com
www.friendster.com/lukistories

MAU SAMPLENYA? PLIS KIRIM EMAIL NTAR GUE ATTACHMENT!!!

--
Posted By vadis to vadisworld - my way, my world at 7/27/2007 08:47:00 PM

Thursday, July 26, 2007

Harry Potter and the Deathly Hallows

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:J.K. Rowling
Harry Potter & the Deathly Hallows (Hard Cover -
English)

Harga Toko Rp. 325.000,-
Harga Kutukutubuku.com Rp. 292.500,-
Hemat Rp 32.500,-
FREE DELIVERY untuk area Jakarta
ORDER today, receive the books tomorrow
HOTLINE: 021-7995165 / 081519922250 /
kutubuku.id@gmail.com
www.kutukutubuku.com

Review (no spoilers)
There were some complaints that Book 6 — "Harry Potter
and the Half-Blood Prince" — didn't have a lot of
action until the end, that its role seemed to be
filling in important bits of back story and setting
the stage for the final installment.

There will be no such complaints here. The pace picks
up from the start, with readers thrown into a world
that's much darker than any of the previous Potter
books. Harry and friends Ron and Hermione are on a
quest some weeks after the death of Headmaster Albus
Dumbledore, and it's time to put aside familiar faces
and places and get on their way.

Lord Voldemort, Harry's nemesis, seems to be
everywhere, his tentacles of power reaching into every
corner. It's a dangerous world they must travel, and
no place or happy occasion is safe. Their journey
takes them to some unexpected locations and makes them
interact with a whole host of characters, including
some who were merely references in other books and
some who are painfully familiar faces.

Harry, Ron and Hermione are on the search for
horcruxes, vessels that Voldemort created to hold
pieces of his soul, which make it impossible to kill
him as long as they exist. The search has them moving
over various parts of the United Kingdom as they try
to fit all the pieces together. Many secrets are
finally revealed, all leading up to the ultimate
confrontation between Harry and the wizard who tried
to kill him so long ago.

Harry has become a young man
Rowling captured many hearts with her first book, and
her last is guaranteed to keep them. She is amazingly
gifted, demonstrated not only by the incredibly
detailed world she has created, but by the depth of
feeling and complexity she writes into her characters.

It's all here: humor, courage, redemption, sadness,
terror, human frailty — sometimes all in the same
character. There are sections that will make readers
laugh out loud, as well as scenes of such sadness that
tears are inevitable.

From a boy of 11, Harry has become a young man,
determined to take on quite a burden. He suffers
because of his commitment, and he's not the only one.

Rowling said characters would die, and she meant it.
Pain and death are constant companions, and sometimes
who is taken is a shocker. The deaths aren't always
drawn-out, violent scenes; sometimes, you discover
that someone has died at the same time Harry does.

Characters you thought you knew surprise you. Some
grow in unexpected (and not always pleasant) ways,
while others have more complicated pasts than you
could ever imagine. No one's life is simple — with a
couple of Death Eater exceptions, many of the
characters prove that you can't make assumptions about
people's motivations.

Rowling rewards her faithful readers; there are
numerous allusions to people, places, spells and
objects that were mentioned in earlier books. It's a
pleasure to see how she closes the loop she opened so
many years ago with the story of a young boy who one
day discovered he was a wizard.

And, of course, she answers many questions: Why did
Snape kill Dumbledore? Is Snape Harry's enemy? Where
are the horcruxes? What are the deathly hallows?

Source:http://www.msnbc.msn.com

Popular Posts