Showing posts with label short stories. Show all posts
Showing posts with label short stories. Show all posts

Saturday, April 26, 2014

8000 [BikinFiiilm Short Movie Project Competition 2014]


Sumber: YouTube
http://youtu.be/1nYQTPLHkqI

By: BikinFiiilm 

Nekat menghabiskan uangnya karena ajakan teman untuk pergi ke bazar akhir bulan merupakan pilihan yang kurang tepat yang dilakukan Dalle kali ini. Perpanjangan kontrak sebagai pekerja lepas admin media sosial ternyata belum ditandatangani oleh kepala bagian HRD yang menyebabkan gajinya bulan ini belum bisa ditransfer ke rekeningnya tepat waktu. Usaha apa yang akan dilakukannya untuk bertahan hidup?

Dalle spend her last money recklessly because the invitation of her friends to go to the bazaar end of the month. Unfortunately it's a wrong decision which was made by ​​Dalle at this time. The extension of her contract as a freelancer of social media admin has yet to be signed by the head of HR is causing her salary cant be transferred to the account on time. So, what would she do to survive until she gets her money?

Friday, February 15, 2013

Love Around You

Love Around You
(Kumpulan Cerpen House of Romance)

Penerbit: CV. Gloria Group
Cetakan Pertama, Februari 2013
148 Halaman - 14 x 21 cm
ISBN: 987-602-18983-1-4

Penulis:




Love is all around you - around the world, natural like a growing tree.


“Kau... janda?” - Bianka Golder, “One Night”

“Ya Tuhan, kumohon lancarkanlah jalanku
menuju hatinya.” - Neria, “Serenade”

“Orang luar mau omong apa itu urusan mereka
sendiri, bukan urusanku.” - Ayu, “Terbaik Untukku”

“Seorang pria dewasa memang seharusnya
mengeluarkan keringat untuk gadis yang dicintainya!”
- Dawson O’ Connel, “Loving Evelyne”

“Tidak pernah ada waktu yang tepat kalau dicari,
kita sendiri yang harus membuatnya.”
- Alia, “Sang Penjaga”

“Karena tidak semua orang memahami perbedaan ini.”
- @D_zen, “My Direct Message”

“Jika memang maut menghampiri salah satu di
antara kita berdua, biarkan kebahagiaan yang
menjadi akhir dalam kisah kita.”
- Aiko, “Lukisan Masa Lalu”

“Aku memutar waktu untukmu. Kita kembali ke masa
lalu bukan? Jadi apa yang ingin kaulakukan sekarang?”
- Timothy Hartwood, “What Goes Around Comes Around”

“Aku tak menyesal menggunakan satu-satunya
nyawaku untuk mencintai Claraku.”
- Gub. Jenderal, “Satu Nyawa Manusia”

“Karena saya adalah ksatria yang akan menolongmu,
Putri cantik dari naga jahat.”
- Elang, “Janji Ksatria Untuk Putri”


Love Around You

10 kisah cinta dari 10 penulis Grup House of Romance dengan mengusung tiga tema berbeda. Cinta dua generasi, cinta palsu dan cinta dunia maya.

Kisah-kisah cinta di sekitar kita yang kadang terlupakan. Baik yang manis, memabukkan hingga pahit getir. Rasakan kejutan-kejutan saat menyelaminya satu-persatu.

LAY, Love Around You. A treasure book of love.

Termasuk karya-karya pemenang Event House of Romance - Romance Story Audition - Love Around You (RoSA-LAY). 

Penulis: Welly Setyawan, Andry Chang, June Tan, Renee Keefe, Dya Ragil, Lily Zhang, Reina Mala, Liz Lavender, Lia Zhang, Catz Link Tristan

Penerbit: CV. GLORIA GROUP, Jakarta
Isi: 148 halaman
Ukuran Buku: A5


--------------------

Harga Super Promo! (Khusus pemesanan via on-line / telepon)
Rp 37.500,- (Belum termasuk ongkos pengiriman)

--------------------

Bisa mulai dipesan melalui:

VadisLite Cyber BookMart

Contact Person: Andry Chang
Facebook: www.facebook.com/andrychang (lewat Private Message)
Twitter: @andrychang
BB: 274ea36a
E-Mail: andrychang-at-gmail-dot-com
HP: 0816 482 7618
Telp: (021) 639 7361

Atau penerbit langsung di:

CV. GLORIA GROUP
Telepon: (021) 420 2302

Buruan pesan sebelum kehabisan, karena persediaan terbatas!

-------------
Catatan:

Entri di Goodreads.com
www.goodreads.com/book/show/17450961-love-around-you

Posting di Kaskus.com
http://www.kaskus.co.id/post/5120dfc72675b42958000006

Listing di Multiply Marketplace (Gratis ongkos kirim)(?)
http://vadis.multiply.com/products/listing/10004

Iklan di TokoBagus.com
http://buku.tokobagus.com/romantis/love-around-you-kumpulan-kisah-house-of-romance-17965127.html

Sunday, December 02, 2012

Cafe d'Amor - Andry Chang


A cozy, romantic cafe. Courtesy of Dino'z Cafe, Jl. Sentani C11/14, Kemayoran, Central Jakarta




Café d’Amor

A Short Story by Andry Chang



Kulangkahkan kakiku yang gemetar dalam kafe ini.
Rasa sesak merasuk jiwa, menyusupi kalbu hingga kepala.
Suasana surga di dalam tak jua menyejukkan hati ini.
Suara-suara terus mendesak, ingin berteriak, “Mengapa? Mengapa?”
Gadis manis menyambut ceria, “Selamat datang di Café d’Amor, tempat berseminya asmara.”
Huh, asmara apa? Tak tahukah ia wajahku memendam prahara?
Tenang, nona. Takkan kuledakkan di sini. Setidaknya tergantung jawaban yang kudapat nanti.
Jadi, kupaksakan senyum dan ujaran, “Boleh saya bicara dengan pemilik kafe?”
“Oh, maksud mas Pak Dhimara? Dengan mas siapa ini? Untuk keperluan apa?”
“Saya Fadli. Urusan saya ini pribadi, tapi Pak Dhimara pasti akan tahu saat melihat saya.”
Kerutan tergurat di dahi gadis itu. “Baik, biar saya beritahu bapak dulu,” ujarnya sambil berlalu.
Menanti sejenak, gelisah memuncak.
Hingga tatapan menangkap seorang pria berjalan mendekat. Tigapuluhan, rupawan, berkacamata, figur panutan keluarga. Dengan celemek putih membalut kemeja sederhana, kurasa bukan dia pemilik kafe ini.
“Dengan Mas Fadli?” tegurnya ramah.
“Ya. Anda Pak Dhimara?”
“Panggil Dhima saja. Mari, kita duduk dulu.”
Tegur sapa kebapakannya sedikit menghangatkan baraku. Saat kembali duduk di kursi pink empuk depan meja kaca putih ini, baraku kembali tersulut.
Harus menahan diri, harus.
“Nampaknya mas sedang ada masalah, ya?”
Ucapan Dhima membuyarkan lamunanku.
“Ah, begini…” Tentu saja ada masalah! Ayo bibir, katakanlah!
“Apakah ada hubungannya dengan kafe ini?”
Tepat sasaran. Ah, tentu saja. Kurasa barista seperti Dhima pasti mampu membaca isi hati pelanggan. Tapi, apa ia siap untuk yang satu ini?
Bibirku bergetar. “Ya. Kafe inilah sumber masalahnya.”
Dhima tampak terperanjat, bukan dibuat-buat.
“Jelaskanlah,” ujarnya.
Maka kubeberkan kenanganku. “Kira-kira dua bulan yang lalu, saya berkencan dengan seorang wanita di sini. Yah, suasana kafe ini sungguh romantis, tak kalah dengan kafe-kafe bergaya Hispanik di Lisbon, Portugal. Ditambah udara segar dari taman di luar, benar-benar sempurna seperti slogan anda itu.”
“Ah, ya, Café d’Amor, tempat berseminya asmara,” ujar Dhima.
Aku mengangguk. “Ya. Nah, semula saya ragu menyatakan cinta pada Meisya. Yah, takut ditolak dan sebagainya. Namun anda, ya, anda datang menyarankan minuman… apa ya…”
“Iced Caramel Macchiato, Toraja Blend. Saya baru ingat itu.”
“Tepat. Kopi keras membangkitkan keberanian. Saya bersorak saat Meisya menerima cinta saya.”
“Kalau tak salah, foto anda berdua juga terpampang di dinding depan, bukan?” Telunjuk Dhima menari-nari.
“Tak salah. Tapi sebaiknya anda cabut saja foto itu, juga slogan anda.”
“Lho, mengapa?” Senyum Dhima berganti kerutan di dahinya. “Apa yang terjadi?”
“Kami putus seminggu yang lalu. Tak sampai dua bulan! Huh! ‘Keajaiban Cinta’ kafe anda ini sungguh tak manjur!”
Nah, tumpahlah seluruh sesakku.
Anehnya, Dhimara diam seribu bahasa. Ia hanya menatapku seperti seorang ayah pada anaknya.
Egoku terusik, emosiku tersulut.
Sebelum amarahku membuncah bagai kembang api tahun baru, Dhima angkat bicara, “Tenang, Mas Fadli. Nampaknya anda sedikit salah paham. Yah, terus terang kami sudah sering mendengar keluhan seperti ini. Dan semuanya itu bersumber dari mitos yang keliru.”
“Mitos? Keliru? Apa maksud anda? Jangan berbelit-belit!”
Dhima kembali menyela, “Mitos, anggapan bahwa siapapun yang menyatakan cintanya di tempat ini  pasti mendapatkan cinta sejati. Itukah yang pertama kali menarik anda kemari?”
“Eh, uh…” Memang benar, jaminan itulah yang membuatku melintas separuh lebar kota kemari. Namun ego melarangku mengakuinya.
“Tak usah dijawab.” Suara si lawan bicara menyelamatkan gengsiku. “Entah mitos, word of mouth marketing atau reputasilah yang membuat kafe kami ini laris. Namun seharusnya setiap pengunjung menyadari satu hal terpenting. Cinta didapatkan dan dipertahankan lewat usaha dan keputusan. Kami di sini hanya memberikan suasana dan sajian yang mendukung, sedangkan Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya.”
“Jadi maksud anda, kafe ini sesungguhnya tak seperti slogannya?”
“Bukan slogan, tapi mitos. Arti slogan kafe ini adalah tempat yang cocok untuk menyemai cinta. Bukan berarti siapapun yang kemari pasti mendapatkan cinta. Mungkin saja ada yang cintanya ditolak atau belum saatnya diterima. Ada pasangan yang ragu mengambil keputusan, bahkan memutuskan berpisah. Nah, biasanya mereka ini malu dan enggan menunjukkannya di depan umum. Sudah banyak pula tamu yang kembali menyampaikan keluhan seperti mas ini sekarang.”
“Lantas, apa putus cinta ini semata-mata kesalahan saya?”
Dhima menggeleng. “Ceritakanlah dulu duduk perkaranya.”
Maka jadilah aku curhat. Selama menjalin kasih, aku nyaris tak sempat memberi perhatian pada Meisya. Pekerjaanku sebagai programer menuntut konsentrasi sepanjang waktu, berhari-hari lamanya. Belakangan, aku mendengar kabar burung Meisya selingkuh dengan teman kantornya. Saat kutanya, ia mengakuinya dan minta putus dariku saat itu juga.
“Bukan salah siapa-siapa,” tanggap Dhima. “Kalau Meisya sungguh mencintaimu, setidaknya ia memahami dan menerima keadaanmu yang tak bisa memperhatikannya sepanjang waktu. Sayang, ia adalah tipe wanita yang mengharapkan banyak sekali perhatian. Si teman kantor selalu bertemu dengannya tiap hari, jadi bisa lebih sering memperhatikannya. Kesimpulannya, kalian memang tidak cocok satu sama lain.”
“Ah, begitukah?”
Perasaanku berbaur, antara lega dan sesak. Lepas dari perasaan bersalah dan keinginan menyalahkan Meisya dan kafe ini, namun disesakkan oleh kenyataan kami memang takkan bisa bersatu.
Meisya memang menyebut “kurang perhatian” sebagai alasan putus cinta. Aku tak pernah memahamai hal yang sesungguhnya karena ia menimpakan segala kesalahan padaku. Pada siapa lagi harus kualihkan penghinaan ini, kalau bukan Café d’Amor?
Hanya ada satu cara memperbaiki kekhilafanku ini.
“Maafkan saya, pak,” ujarku, tertunduk malu. “Menuduh kafe anda menipu dengan sihir dan guna-guna agar orang jatuh cinta. Itu sungguh tak pantas dan sangat kekanak-kanakan.”
Dhima membalasnya dengan tawa. “Tak apa, Mas Fadli. Yang penting sekarang anda sudah tahu kuncinya. Pasangan yang cocok bagi anda adalah yang bisa menerima dan memahami anda dalam kondisi sekarang ini. Memang nampaknya akan sulit, tapi saya yakin suatu hari anda akan menemukan ‘Miss Right’ itu.”
Sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih, mendadak seorang wanita muncul dan menggamit pundak Dhimara. Ah, aku ingat. Ia si pemain biola yang melantunkan “Besame Mucho” pesananku waktu itu. Mustahil kulupakan wajah cantik dan figurnya bak bidadari Nirwana itu.
Terlebih suara sehalus diva-nya. “Wah, wah, ada apa ini, sayang? Seru sekali bicaranya.”
“Haha, hanya langganan lama datang untuk curhat,” jawab sang suami sambil menggamit lembut tangan istrinya. “Kenalkan, ini Mas Fadli. Ini istri saya, Yvonne.”
 Kujabat tangan wanita itu. “Salam kenal, Bu Yvonne.”
“Ah, ‘masa Bu? Panggil Yvonne saja.” Senyumnya mencairkan dinding es yang membentengi hatiku.
Jalan terbuka, pembicaraan kami bagai bertemunya tiga kawan lama. Tak kusangka, mereka menceritakan hal yang tak pernah mereka ungkap pada para tamu lain.
Rupanya sebelum menikah Dhimara dan Yvonne sama-sama full-timer kantoran. Setelah nikah, Dhima membuka kafe ini untuk sambilan, menghindari macetnya Ibukota. Saat usaha kafe mulai maju, barulah Dhima mengundurkan diri dari kantornya dan Yvonne menyusul kemudian. Jadilah keduanya tinggal, mencurahkan segenap hati, pikiran dan daya-upaya untuk kafe ini, seperti pula kedua anak mereka.
Barulah kutahu, pernikahan keduanya bertahan melewati kesulitan luar biasa. Selain masalah keuangan, kesibukan akibat peran ganda di kafe mengurangi porsi waktu mereka untuk memperhatikan anak-anak dan masing-masing, apalagi untuk bersenang-senang.
Walau usaha mereka lancar kini, kesibukan mereka malah bertambah. Hanya lewat komunikasi, rasa saling mengerti, menghormati dan tenggang rasalah yang membuat bahtera rumahtangga mereka tetap berlayar meski dalam badai.
Masalahku ini tak ada apa-apanya dibanding mereka.
Waktu berlalu tanpa terasa, hingga tiba saatnya aku pamit dengan alasan hari mulai gelap. Yah, hampir waktu ramainya kafe. Sebaiknya kubiarkan mereka berkonsentrasi pada pekerjaan.
Baru tiga langkah kakiku keluar dari pintu depan, kupalingkan wajah ke arah trotoar. Tiba-tiba aku tercekat, seolah baru melihat hantu.
Itu Meisya, bersama… seorang pria gemuk berkacamata.
Dan mereka sedang berjalan menuju ke arahku.
Secepat kilat aku berbalik, masuk lagi di kafe tadi.
Kebetulan Dhima melihatku dan bertanya, “Lho, ada apa, Fad? Wajahmu kusut begitu?”
“Tolong, biar saya sembunyi sebentar. Ada Meisya lewat. Saya tak mau dia melihat saya.”
“Hah? Bukankah tak apa? Siapa tahu…”
“Tak bisa, karena dia bersama pria lain. Ah, lihat! Mereka kemari!”
“Cepat, sembunyilah di sana!” Dhima menunjuk ke bar.
Tanpa pikir panjang aku cepat-cepat duduk, meringkuk di sana. Hanya mataku yang mengintip dari balik kaca, hingga nona penjaga kasir geleng kepala.
Tubuhku panas-dingin. Kulihat mantan pacarku mengambil tempat duduk dekat jendela kafe, persis saat aku kencan dengannya dulu. Tampak Dhima melayani keduanya, pura-pura tak mengenali Meisya dan menawarkan kopi Sumatra pada si selingkuhan.
Ingin rasanya kulabrak mereka, namun Dhima menahanku.
“Lihat saja hasilnya. Jangan membuat keributan di sini,” ujarnya tegas.
Tak lama kemudian Yvonne menghampiri pasangan itu. Si pria gemuk bicara dengannya, lalu kembali bercanda-ria dengan Meisya.
Diiringi “Besame Mucho”… lagu kenanganku!
Menyebalkan! Apa takdir tengah mempermainkanku?
Memuncaki segalanya, si gendut yang jauh dari tampan itu menggamit tangan Meisya dengan lembut, mengatakan sesuatu.
Meisya menanggapinya dengan anggukan, serta senyumnya yang termanis.
“YES! YESS!” Si gendut bangkit dari kursinya, berseru sambil mengepalkan tangan di udara tanda keberhasilan. “I love you, Meisya! I love you!”
Teriring Dhimara yang menghampiri keduanya, memberi selamat.
“Keajaiban” Café d’Amor terjadi lagi.
Dengan telapak tangan kututupi mataku. Aku tak sanggup melihatnya lagi.
Harus kusembunyikan pula air mataku yang membuncah ini. Tidak, tak satupun makhluk boleh melihatku menangis. Cukup jelas, aku gagal kali ini. Tak perlu rasa malu lagi untuk menambah beban deritaku ini. Bisa kubayangkan foto mereka menggantikan fotoku dengan Meisya di “Dinding Asmara”.
Tak ada sesuatupun yang dapat menghiburku kini. Kecuali, mungkin, tangan Dhimara yang menepuk bahuku.
“Sudahlah, tak usah sesali yang telah terjadi,” ujar Dhima, kembali dengan nada kebapakan. “Ingatlah pembicaraan kita tadi.”
Aku menegadahkan kepala padanya. Pembicaraan yang mana?
“Jalan masih panjang,” lanjut si pemilik kafe. “Suatu hari nanti kau akan bertemu wanita yang mau memahami dan menerimamu apa adanya. Saat kau menemukannya, ajaklah kemari. Café d’Amor, tempat berseminya asmara.”

Jakarta, 17 Januari 2012



----------------------------------------------

Advertisement:
DinO'Z CAFE - Coffee Shop

Our F&B:
- Hot & ice blended coffee or non coffee
- Fruit soda + smoothies
- Tea yogurt
- Beer + heinz flover (our special drink)
- Sosis panggang + spaghetti + dim sum
- Roti panggang
- NasGor + indomie selera nusantara

And Other Out Door:
- Cozy Free wifi
- Proyektor (NOBAR) full Music
- Aneka Games

On 5PM - 2AM
More Info:
Dino'z Cafe - Coffee Shop
Jl. Sentani C11/14, Kemayoran - Jakarta Pusat ( blkg PRJ )
pin:28CBCD71

Thursday, August 23, 2012

Karangan Bunga Pengantin - Andry Chang

The Wedding Bouquet - http://www.imageof.net/wallpaper/Stunning-Beauty-Bouquet/



Di tiap pesta pernikahan, selalu ada makhluk yang bersuara paling keras. Ia selalu berusaha agar para hadirin memperhatikan jalannya upacara pernikahan. Makhluk tersebut tak lain adalah MC alias pembawa acara.
Seperti yang terjadi pada pesta pernikahan dalam kisah ini, ia berseru, “Satu, dua, tiga!”
Tiba-tiba sebuah benda terlempar dari arah mimbar, melambung tinggi, tinggi... lalu terjun bebas ke arah sekumpulan tangan yang menggapai-gapai hendak menangkapnya.
Bagai atlit rugby kawakan, seorang tamu pria menangkap benda itu di pelukannya. Melihat benda yang ternyata sebuah karangan bunga itu, mata pria itu berbinar dan senyum mempertampan parasnya.
Bunga-bunga di karangan itu tampak serba putih, dengan pusatnya berbentuk bulatan kuning. Ini bunga sungguhan, terbukti dari wangi menyegarkan yang ditebarnya.
“Buket keempat. Tinggal satu lagi,” gumamnya tanpa suara.
“Ini dia, si pria beruntung. Silakan naik ke panggung,” ujar pemandu acara sementara si penangkap buket naik ke panggung dan bersalaman dengan kedua mempelai.
“Siapa nama anda?” tanya si pria pembawa acara yang jasnya berkilap, kontras dengan wajah dan perawakannya yang agak gemuk sambil mengulum senyum dibuat-buat.
“Kendra.”
“Datang bersama siapa ke pesta ini?”
“Saya datang sendirian.”
“Sudah punya pacar, Kendra?”
“Nggg... Itu rahasia.”
“Wow, pria misterius rupanya. Yang pasti, anda beruntung dua kali lipat malam ini, karena selain dapat hadiah, jodoh anda sudah dekat. Percaya atau tidak, kemungkinan besar andalah yang akan menikah segera setelah kedua mempelai ini.”
Pasang senyum sesopan-sopannya, Ken hanya mengucapkan terima kasih sekali lagi, menerima hadiahnya dan turun dari panggung. Senyum di wajah tampannya sirna seketika, diganti dengan wajah serius nan muram.
“Hai!” Seorang wanita muncul menyapa Ken. Wajahnya bisa dibilang cukup manis, postur tubuhnya yang pendek dan agak “montok” nampak sedikit lebih langsing berkat tatanan rambut hitamnya yang terurai panjang dan lurus.
Setelah mendapat perhatian Ken, wanita itu melanjutkan sapaannya, “Kamu Kendra, ya? Masih ingat aku? Aku Tania, kita pernah satu kelas jurusan di kampus dulu.”
Wajah Ken berubah cerah. “Tania? Oh, ya, ya! Tentu aku ingat! Wah, tampangmu banyak... berubah, ya. Jadi pangling aku.”
“Haha, bisa saja. Kau juga banyak berubah, sampai aku, sahabat lamamu saja tak mengenalimu sampai MC menyebut namamu tadi.”
Pembicaraan Ken dan Tania berlanjut ke basa-basi soal pekerjaan, status yang sama-sama jomblo dan sedikit nostalgia masa kuliah.
Sampai akhirnya Tania berujar, “Wah, hadiahnya untukku? Terima kasih, ya! Dan buketnya… hmmm, bunganya serba putih dan wangi.”
“Memangnya itu bunga apa, Tan?” Ken pasang wajah melongo.
“Masa’ kamu nggak tahu? Ini bunga daisy, dirangkai dalam buket pengantin ini sebagai tanda dua jiwa yang mengikat janji untuk selalu berbagi rasa, bersatu hati selama hayat.”
Kendra terperangah. Baru kini ia menyadari bahwa setiap karangan bunga pengantin memiliki arti tersendiri, dan teringat arti pernikahan yang sesungguhnya. Tak sengaja matanya menatap wajah Tania, ada rasa hangat namun aneh merasuki relung hatinya.
Tiba-tiba, Tania berseru, “Hei, Ken! Haloo? Ada Ken di sana?”
Ken tersentak dari lamunannya. “Eh, ya! Maaf. Aku hanya memikirkan kata-katamu tentang arti bunga itu tadi.”
“Wah, serius sekali kau, Ken. Santailah, nikmati saja pestanya.”
“Haha, tentu saja. Oh ya, makasih kau sudah memfotoku dengan buket ini. Lihat, sudah ku-unggah ke Facebook.” Kendra memperlihatkan layar Blackberry-nya pada Tania. Sesaat kemudian, wajah wanita itu tampak keheranan.
“Lho, keterangan foto ini... buket keempat. Apa maksudnya?”
Sesaat Ken tampak ragu, lalu ia menghela napas dan menjawab, “Yah, ceritanya panjang, Tan. Asal tahu saja, ini buket keempat yang berhasil kutangkap selama dua tahun ini, setelah puluhan kali kurang beruntung.”
“Empat kali dalam dua tahun? Apa kau ini maniak penangkap buket atau semacamnya?” Nada bicara Tania seakan bercanda. “Atau jangan-jangan, kau percaya pada takhayul ala Barat itu?”
Ken terdiam sejenak, terkesan tersinggung oleh canda Tania itu. Sebelum wanita itu berbuat apa-apa, Ken angkat bicara, “Masalahnya tak sesederhana itu, Tan. Seperti kataku tadi, ceritanya panjang dan itu sepenuhnya masalah pribadiku sendiri.
Tuh, dengar, kita dipanggil untuk berfoto bersama pengantin dan teman-teman kampus lainnya. Ayo kita ke sana.”
Tania hanya bisa menghela napas, melangkah mengikuti pria misterius itu dengan rasa penasaran tergurat di kerutan dahi dan lekukan mata jelinya.
==oOo==

Sunday, July 09, 2006

The Bouquet Catcher

It’s a real boring wedding party I’m invited into. I came a bit late, and they already run out of food. The wedding singer is terrible, and I can only help myself with a few cakes and a glass of water. If it’s not my ex-classmate in High School’s wedding, I would have left for home at once. But, my friend, the groom practically “begged” me to stay for the photo session, so for the sake of our friendship I consented to stay.

“And now, if there’s any bachelors or anyone among the guests who are young and not married, please gather up because the ‘Bouquet Toss’ is about to begin,” says the M.C. “And you know the catch. The lucky catcher MIGHT be the first to marry after Leah and Herman here.”

Aha, excitement at last. Thank goodness I live in a country where men are allowed to catch wedding bouquets; else it’ll be a total drag, seeing only the girls having all the fun.

So I move forward near the cake, and join a group of young men and women already standing there, with their hopeful faces. And then the M.C. talks again through the microphone, “Well, I guess there are so many unmarried people here. To make things more interesting, the catcher of this lovely bouquet will also get a gift: this beautiful diamond ring. As this ring is designed for women, I must ask the gentlemen to leave the group – unless he’s not sure about his gender.”

The M.C.’s announcement is boo-ed by the men, and I among them. One by one, the men leave the group and stand at the back just to watch. The women are, of course, happier because they now have greater chances to catch the bouquet now the tall, strong men are gone.

“Herman, Leah, stand with your backs to the audience and throw backwards, not forward!”

The M.C. completes all the irritation in this party. He’s really pretty good in making idiots out of people.

“Okay, girls, ready! Bride and groom, on three, toss the bouquet! One, two... three!”

The bride and the groom toss the bouquet as high and as far as they can. The bouquet flies to the back of the group and some hands catch it. Then I see a commotion there, as though some people are fighting for the bouquet. But eventually I see who gets it. It’s a man! The girls are scolding at him.

One even mutters, “How shameless he is! He tripped me to get the bouquet!”

“He overpowered me! There’s no way I can beat him!”

The master of ceremony then announces with an upset tone, “Well, mister. I hope you’re satisfied now. You can go home with the bouquet stem. Ladies and gentlemen, that’s one who doesn’t sure about his gender. Now we’ll toss another bouquet as soon as we find a spare.”

I’m not recovered from the shock of seeing that just now, when I see the man goes away, practically whistling merrily and juggling the ruined-to-the-stem bouquet, ignoring the angry stares and “boo”-s from the guests.

Hey, I know that guy!

With that thought I go after him. He goes into men’s room, and I go in there too. And there I see him, washing his face with lots of water.

“Johnny? You’re Johnny, right?”

The man is indeed Johnny as he turns around and replies,

“Yeah? I’m Johnny, all right. Who’re you??”

“Don’t you remember me? I’m Sandy, your classmate in High School. Remember? Sandman? The skinny boy, the computer freak who preferred playing computer games than dating? Your old buddy!”

“Ah, yes, yes! I remember now. Wow-wee! Sandy! You look... different! I didn’t recognize you!” says Johnny, grabbing my two hands warmly. But through his grip, I can feel that he is shaking all over.

“And you too, Johnny Boy. That’s what happened when we don’t grow taller anymore – we grow broader. Hey, I think you’re shaking, man. What’s going on? I mean, I saw you out there just now, man.”

“Oh, you did, didn’t you? Well, what do you think about that, huh? Are you thinking like them?”

“Well, er... honestly, I was pretty shocked out there, man. That was really out of the line. But I think you must’ve had your own reason.”

“You’re right, Sandy. I was really out of control back then. I let my instincts took me over. I was really irritated by that dumb M.C. and his stupid rules. We live in a country where men may catch wedding bouquets, right? So there I was, at the back of the row, just watching. And swoosh! The bouquet landed in my hands anyway. And all of a sudden the women were all over me, trying to snatch it from my hands. I thought, I won’t ever let go of this! If they want a re-toss, just do it, I don’t need the ring. Just give me the glory of catching the bouquet one more time!”

“Wait, Jon. You said, ‘one more time?’ Does that mean you’ve caught another bouquet before?”

“Yup, I have, four times already and so many attempts. And this one doesn’t count,” says Johnny, casually takes the bouquet stem and throws it into the trash can near the water taps.

“What? That’s... that’s amazing!”

“Yeah, I know. It takes an awful lot of luck and determination to do that, but for me, it’s fun. I should’ve applied for the world records, but as I can’t supply ample proofs or recordings, I buried that thought.”

“But, what made you catch bouquets? I mean, a lucky man only catch one or two bouquets during their lifetime, but this is too much. This must be more than just luck and fun.”

“You’re right, Sandman. There’s something more. You see, I’m still a bachelor now. I haven’t had any girlfriends until I was twenty-seven, and so far I’ve had relationships with three women, but all ended in heartbreak. And this time, I met this wonderful lady, and we are so close together. I think she’s the one I want to marry as soon as possible. But another problem arose. My business is in shambles now, and I’m afraid I wont’ be able to raise enough money to hold a decent wedding party. You know wedding parties are very expensive here. Well, how about you, Sand?”

“Well, I’m just like you – a bachelor with a wonderful girlfriend. I’m now working as a lawyer in a small firm, and things are running smooth so far.”

“Good for you, then. Where’s your girlfriend anyway? Is she with you?”

“Oh, she’s still at work now. I’ll pick her up after this party.”

“Mine is with her parents in another wedding party. Well, I guess I’m a little obsessed with this bouquet-catching thing. See my scar here? I hurt my hand in my second catch, and I once sprained an ankle in my fourth catch. The first and the third went rather smooth, really. You see, every time I catch a bouquet or fail to do so, I pray to God, hoping that I’ll find the right lady, have a relationship which will last through marriage, and grow old together with her. Although things are rough for me, I believe God will show me the way. And I won’t stop looking for it. So, I catch wedding bouquets just to remind myself, even if I’m in shambles, not to ever give up and keep on going. Forget the superstitions, forget the traditions. I’ll keep working hard until I don’t have to work anymore, and I’ll keep catching bouquets until I’m married or not quite young anymore.”

It feels like lightning strikes me. I cannot speak a word. Although he knows that catching a bouquet won’t guarantee him to be the next to marry among the guests here, but I’m convinced that to get what you need, you mustn’t sit and wait, but act and strive for it.

“Hey, Sandman! Snap out of it!”

“Oh? Oh, yeah. Sorry, Jon!”

“Tell you what, here’s my card. Call me anytime you want, maybe we can meet and talk more often. I hope you’ll get married very soon.”

“Thanks.”

“Well, I must go now. There’s no point for me hanging out in here any longer. See you around, Sandman.”

“You take care, Johnny Boy.”

As I see my friend Johnny goes out from the men’s room and goes for home, I take out my cell phone and dial a number.

“Hi! Yeah, Julie, are you free tomorrow night? Oh, it’s just I want to take you for a night in the city. Oh, yes. Say, how about Empire Grille? Great. Just wear your best dress and we’ll make it a night to remember.”

Six months later....

“Hey, Julie, toss it to up-left, okay? Don’t toss too high or to far.”

“Okay, okay, honey. Want to make it easy for your old buddy, huh?”

“Well, he deserves an easy break today.”

“Okay, here goes the M.C. now.”

“Everybody ready? One, two... three!”

I and Julie toss the bouquet together from the stage. It goes up-left as planned, but it flies too high and too far away. Some men leap high to catch it. The women can’t jump high because of their long dresses and high-heel shoes. Finally one man who leaps the highest catches it. But he loses his balance in mid-air and falls on the floor, still clutching the bouquet tightly in his hands. He seems straining in pain.

“Ah, it’s Johnny! Is he okay?” I say.

“I hope so,” says Julie.

And then shortly we hear an announcement from the M.C., “May our lucky winner come to the stage now.”

Johnny the bouquet catcher walks up the stage limply, and the M.C. gives him the prize. Then I and Julie shake his hands to congratulate him.

“Congratulations, Johnny Boy. You did it again. What a superb catch. This is the fifth, I presume?”

“It’s the sixth, actually. But thanks for the prize.”

“Is your ankle okay? I hope you’re not injured.”

“Oh, that’s okay. Just a little pain, I guess. It’ll be gone in a minute.”

Then, out of curiosity, I ask Johnny, “How’s your girlfriend?”

“Oh, she dumped me two weeks after we met in that chaotic catch and I’ve been single ever since. But I assure you, I won’t stop catching bouquets until I get married or too old for this. See you!”

Julie whispers on my ear after Johnny left the stage.

“It’s rather weird, really, being obsessed into bouquet-catching, but I hope he will find his soul mate soon.”

“Yes, good luck to you, Mr. Bouquet Catcher.”

Written by : Andry Chang

June 20, 2006

Popular Posts